Film Planet of The Apes yang disutradari oleh Tim Burton merupakan film yang membuat saya merasa ketakutan jika membayangkan kelak bumi yang sekarang dikuasai oleh manusia diambil alih oleh kawanan kera. Saat ini manusia adalah predator yang paling beringas membunuh hewan dan merusak hutan untuk kepentingan ekonomi. Kelak jika kera-kera menguasai bumi, apakah mereka akan menjadi predator yang membinasakan umat manusia atau sebaliknya mereka mampu hidup berdampingan dengan manusia, selalu menjadi pertanyaan dalam benak saya.
Hampir setiap hari di media kita menyaksikan bagaimana beringasnya manusia membunuh hewan dan merusak hutan untuk membuka pertambangan dan lahan perkebunan. Bahkan, manusia menganggap hewan adalah hama bagi mereka. Seperti halnya yang terjadi di Pulau Borneo (Kalimantan), luasnya hutan hujan telah berganti dengan semakin meluasnya lahan perkebunan sawit dan karet serta semakin rusaknya hutan karena tanahnya mengandung batubara yang dijadikan bahan bakar bagi usaha industri.
Orangutan Kalimantan (Borneo Pygmaeus) tersebar di wilayah Kalimantan dan Malaysia (Sabah dan Sarawak) jumlahnya semakin berkurang akibat dari hutan tempat mereka tinggal telah rusak dan perburuan Orangutan untuk dijadikan hewan peliharaan atau diikutkan dalam sirkus serta dibunuh. Namun kita masih dapat menyaksikan kepedulian terhadap kelangsungan hidup Orangutan agar mereka tidak punah seperti yang dilakukan oleh Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation. Mereka yang direhabilitasi di kawasan hutan buatan BOS adalah Orangutan dan Beruang Madu yang malang namun mereka lebih beruntung daripada Orangutan yang mati di alam liar karena ulah manusia.
Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation memiliki dua pusat rehabilitasi bagi Orangutan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Salahsatu yang saya kunjungi adalah pusat rehabilitasi yang terletak di Samboja Lestari, Kalimantan Timur, sekitar 38 km dari Kota Balikpapan. Perjalanan bisa ditempuh dengan mengendarai mobil karena jalanan yang akan kita lalui beraspal, namun setelah memasuki kawasan konservasi, kita harus melalui jalan tanah yang berbukit dan bila hujan, kubangan air akan menyulitkan untuk itu sebaiknya memakai mobil offroad. Perjalanan saya menuju ke pusat rehabilitasi Orangutan merupakan perjalanan pertama sehingga saya tidak mengetahui jika ingin berkunjung harus mendaftar terlebih dahulu untuk mendapatkan nomor antrian. Pengunjung yang bisa masuk dalam pusat rehabilitasi dibatasi hanya berkisar 50 orang per hari. Mungkin itu terdengar tidak adil bagi pengunjung atau menguntungkan untuk sebuah objek wisata. Namun, inilah yang membedakan tempat rehabilitasi dan kebun binatang. Di tempat rehabilitasi ini, Orangutan diajarkan/dilatih agar bisa dibebasliarkan sehingga interaksi mereka dengan manusia sangat dibatasi untuk mengembalikan insting binatang mereka.
Sebelum memasuki kawasan rehabilitasi BOS, kita harus melewati pos penjagaan. Kami beruntung karena petugas membolehkan kami untuk masuk melihat proses rehabilitasi Orangutan. Petugas yang akan menemani kami bernama Nisa. Dia telah bekerja merawat Orangutan yang sedang direhabilitasi selama 15 tahun. Sambil membawa kami berkeliling, dia juga bercerita tentang Orangutan dan Beruang Madu yang harus menjalani rehabilitasi. Kebanyakan Orangutan yang berjumlah 149 ekor dan Beruang Madu sebanyak 50 ekor memiliki latarbelakang kisah yang sangat menyedihkan yang semakin memperlihatkan bagaimana beringasnya manusia merebut hak mereka.
Sekitar 500m dari pintu masuk, kita tiba dikandang rehabilitasi beruang madu. Di kandang yang luasnya kira-kira 2.5 hektar tinggal tiga ekor beruang madu bernama Lady, Dawai, dan Kristina hasil sitaan dari pemilik sebelumnya. Kedatangan kami disambut oleh Lady yang mendekat ketika mendengar dan mencium bau manusia, ia berusaha mencari perhatian kami, indera penciuman beruang madu bisa hingga radius 2km. Menurut Nisa, Lady telah terbiasa berinteraksi dengan manusia sehingga naluri binatangnya telah menghilang. Seharusnya jika kita mendekat beruang madu harusnya menjauh bukan mendekat. Begitu halnya dengan pola hidup yang seharusnya tergolong hewan nokturnal namun sekarang mereka beraktifitas di siang hari. Lady dan kedua beruang madu lainnya telah terbiasa meminta makanan kepada pengunjung, mereka telah kehilangan naluri berburunya, sehingga sulit untuk dibebaskan ke alam. Beruang madu dalam sehari mampu menghabiskan buah-buahan sebanyak 5 kg, meminum susu 1 liter, dan mereka sangat suka meminum madu.
Setelah dari tempat rehabilitasi Beruang madu, kami kembali mengendarai mobil menuju ke tempat rehabilitasi Orangutan. Saya terkejut melihat tempat rehabilitasi Orangutan karena mereka ternyata tidak di kandangkan tetapi dilepaskan di sebuah pulau buatan yang dikelilingi sungai-sungai kecil. Mereka sengaja menjadikan sungai sebagai batas tiap pulau meniru hutan tempat Orangutan yang sebenarnya.  Sepenuturan Nisa, terdapat 13 Pulau buatan yang dijadikan tempat rehabilitasi. Luas satu pulau mulai dari 1 hektar hingga 4 hektar walaupun menurut saya itu adalah tempat yang luas untuk dijadikan tempat tinggal namun tidak untuk Orangutan yang memiliki kebiasan menjelajah. Orangutan jantan adalah hewan territori sehingga satu pulau hanya dihuni satu pejantan dan 2-5 betina, itupun kalau mereka merasa cocok satu sama lain jika tidak maka akan terjadi persaingan yang membuat mereka saling membunuh.
Nisa lalu kembali bertutur tentang Orangutan yang ada di tempat rehabilitasi, mereka (Orangutan) yang bernasib malang. Ternyata terdapat banyak kisah pilu mengenai Orangutan yang belum saya ketahui, selain Orangutan ini diambil dari sirkus, ada juga yang disita karena dijadikan hewan peliharaan, atau ditemukan oleh warga diperkebunan yang kemudian diselamtakan ke tempat rehabilitasi. Selain itu, sekitar 40 Orangutan menderita TBC yang ditularkan oleh manusia, TBC mereka tidak bisa disembuhkan karena bukanlah penyakit yang bisa mewabah di kawanan Orangutan. Begitu halnya dengan kebanyakan bayi Orangutan di tempat rehabilitasi ditemukan tanpa induk. Sehingga pengasuh harus mengajarkan kebiasaan yang dilakukan oleh Orangutan, naluri meniru mereka sangatlah peka.
Kami kemudian bertemu dengan Orangutan Jantan yang bernama Bujang, menurut Nisa umur Bujang sekarang 31 tahun, ia telah tergolong dewasa. Umur Orangutan bisa hingga 65 tahun seperti halnya manusia karena mereka memiliki kekerabatan Gen yang sangat dengan kita. Bujang lahir di tempat sirkus hingga umur 15 tahun lalu dibawa ke tempat rehabilitasi sekarang dia sudah 16 tahun direhabilitasi namun petugas rehabilitasi tidak mampu mengembalikan naluri binatang Bujang karena telah terlalu lama berinteraksi dan meniru kebiasaan manusia. Bujang ketika berjalan menggunakan kedua kaki-nya layaknya seorang manusia. Dia tidak mengfungsikan tangannya ketika berjalan. Namun, hal yang paling menyedihkan yang diderita oleh Bujang adalah masalah psikologisnya. Ia dinamakan Bujang karena sama sekali tidak tertarik kawin dengan Orangutan betina walaupun telah dewasa. Menurut Nisa, si Bujang malah lebih tertarik dengan perempuan manusia yang berambut pirang. Ia sesekali melirik kami yang berada diseberangnya sambil beristirahat di bawah bangunan yang dijadikannya tempat berteduh dari sinar matahari siang. Di pulau tempat Bujang, tinggal pula Orangutan betina bernama Ani. Sama halnya dengan Bujang, Ani memiliki permasalahan psikologis yaitu tidak tertarik dengan Orangutan jantan tetapi tertarik dengan laki-laki manusia karena dari bayi ia diasuh dengan petugas laki-laki. Ani ditemukan di perkebunan saat umurnya masih setahun, sekarang dia telah berumur 25 tahun dan sudah tergolong dewasa. Dengan faktor kesamaan itu Bujang dan Ani ditempatkan di pulau yang sama, namun walaupun begitu mereka tidak pernah kawin.
Di sebelah pulau tempat tinggal Bujang dan Ani, terdapat Orangutan lainnya yang bernama Romeo yang diselamatkan dari tempat sirkus di Taiwan dan Isti dari sirkus Ancol. Mereka juga telah sangat terbiasa berinteraksi dengan manusia sehingga tidak takut jika ada manusia yang mendekat. Mbak Nisa bercerita banyak tentang kebiasaan Orangutan yang belum kami ketahui. Orangutan itu hewan yang sangatlah pemalu namun juga pendendam. Perilaku pemalu Orangutan betina bisa terlihat ketika melahirkan petugas yang menjaganya selalu siaga namun pada saat petugas lengah tiba-tiba anaknya sudah lahir. Sedangkan pendendam karena Orangutan itu bisa mengingat siapa yang baik dan jahat terhadap mereka. Orangutan sangat membenci dokter hewan karena tiap tahun mereka rutin diperiksa kesehatannya. Makan yang paling disukai oleh Orangutan adalah durian, kami lalu bertanya, apakah mereka bisa membuka buah durian yang kulit luarnya dipenuhi dengan duri. Menurut Mbak Nisa, untuk mereka itu sangatlah mudah karena kekuatan Orangutan jantan 10 kali kekuatan laki-laki dewasa dan Orangutan betina 5 kali kekuatan perempuan. Menurutku inilah jawaban sering kita temui berita di media jika Orangutan ditemukan mati dengan luka tembak di badannya. Manusia memang adalah makhluk lemah.
Kedekatan gen dengan manusia membuat beberapa prilaku Orangutan dan manusia kadang menjadi sangatlah mirip. Sepunuturan mbak Nisa di sini terdapat juga Orangutan yang “ganjen” karena puber sebelum waktunya. Siklus tubuh Orangutan betina seperti halnya dengan perempuan, yaitu mengalami haid tiap bulannya. Orangutan betina tersebut bernama Citra, ketika umurnya masih 11 yang tergolong Orangutan remaja tetapi dia telah hamil. Usia yang masih sangatlah muda membuat Citra secara mental belum siap untuk memiliki anak dan dia belum memiliki role mode (tiruan) sebagai contoh membesarkan bayi sehingga ketika anaknya lahir dia menginjak-injak bayinya. Citra adalah Orangutan yang disita dari sirkus. Namun, ada juga Orangutan betina bernama Marie yang tahu tentang melahirkan dan bisa merawat bayi-nya. Usia kehamilan Orangutan juga 9 bulan sebelum melahirkan. Aku lalu bertanya, “Selama hidup Orangutan betina bisa melahirkan berapa kali ?”. “Hanya dua kali, mereka pun baru hamil lagi anak kedua setelah 8 tahun.” Jawab Mbak Nisa. Dengan siklus melahirkan yang sangatlah lambat, mereka (Orangutan) sangatlah terancam dari kepunahan jika terus diburu dan dibunuh.
Seperti halnya manusia, Orangutan bisa juga stress yang membuat dia membentur-benturkan kepalanya. Selain itu jika Orangutan sakit, mereka akan sangat manja dan kadang juga tidak memiliki nafsu makan sehingga petugas rehabilitasi harus mengetahui makan kesukaan Orangutan yang sakit. Menurut Nisa, ada Orangutan yang jika sakit tidak mau makan buah-buahan tetapi ketika diberikan ayam goreng baru dia mau makan. Kembali lagi Orangutan ini ketika dipelihara terbiasa diberikan makan ayam goreng sehingga ia telah terbiasa memakan makanan yang sebenarnya bukanlah pakan mereka.
Sebenarnya tempat rehabilitasi Orangutan dan Beruang Madu di BOS sangatlah luas, namun karena sebelumnya kami tidak memiliki janji jadi kami harus menyudahi kunjungan kami. Namun menurutku dengan dua tempat itu saja sudah sangatlah berkesan dan bermanfaat bagi saya yang belum mengetahui informasi yang banyak terkait Orangutan dan Beruang Madu. Sebelum kami pulang, kami diajak mengunjungi penginapan yang ada di kawasan konservasi. Samboja Lodge adalah usaha yang dikelola oleh BOS Foundation, di sini pengunjung bisa menginap dan menikmati suasana alam Kalimantan. Pengunjung juga diberi pengetahuan terkait bagaimana pentingnya menjaga hutan dan menanam kembali lahan-lahan hutan yang telah kritis. Pengunjung juga bisa menikmati paket tour di kawasan hutan konservasi sehingga bisa melihat kebiasaan Orangutan di alam liar.
BOS Foundation adalah organisasi Non-profit yang didekasikan untuk merehabilitasi Orangutan dan habitatnya. Didirkan sejak tahun 1991, sejak saat itu mereka telah menyelamatkan lebih dari 2.300 Orangutan dengan bantuan 400 orang staff. Di kawasan konservasi Samboja saja terdapat kurang lebih 140 orang staff untuk merehabilitasi Orangutan dan Beruang Madu serta menjaga keamanan kawasan konservasi agar tidak di rusak manusia. Mereka (Orangutan,Beruang Madu, dan Hutan) membutuhkan donasi untuk tetap menjaga keberlangsungan kehidupan mereka. Mereka tidak akan berada dalam kawasan konservasi jika manusia tidak merusak habitat mereka. Mereka membutuhkan bantuan donasi kita, manusia-manusia yang masih peduli terhadap keseimbangan alam dan hak-hak makhluk hidup lainnya. Bumi tidak diciptakan hanya sebagai rumah bagi manusia tetapi untuk semua makhluk hidup.
Kebanyakan dari mereka tidak bisa kembali hutan, rumah mereka yang sebenarnya. Selain naluri yang semakin memudar, rumah tempat tinggal mereka telah tidak ada akibat dari meningkatnya pembukaan hutan untuk perkebunan dan pertambangan. Tidak ada lagi ekosistem hutan yang layak untuk mereka tinggali. Tempat tinggal terbaik bagi Orangutan dan Beruang madu berada di ketinggian 2500mdpl yang mana tempat itu juga cocok untuk dijadikan lahan perkebunan. Pakan mereka semakin susah selain itu mereka juga diburu dan dibunuh oleh manusia. Sehingga, beberapa dari mereka harus tinggal di kawasan konservasi selamanya, kebutuhan pakan dan perawatan mereka harus dipenuhi yang berarti memiliki biaya. Menurut Mbak Nisa, donasi yang mereka dapatkan kebanyakan dari perusahaan, orang asing, dan juga warga Indonesia yang masih peduli terhadap keberlangsungan hidup Orangutan. Semakin banyak donasi yang diterima BOS Foundation semakin baik pula untuk rehabilitasi dan kehidupan Orangutan, Beruang Madu di kawasan konservasi.
Jika kita ingin memberikan donasi kepada Orangutan dan Beruang Madu, kita diberikan banyak sekali pilihan-pilihan yang menarik. Kita bisa mengadopsi Orangutan, dengan menetukan Orangutan yang akan kita adopsi. Disediakan pula pilihan adopsi, apakah kita ingin mengadopsi per bulan, 6 bulan, 12 bulan, dan spesial adopsi.  Pilihan adopsi perbulan kita bisa memilih nama Orangutan-nya, seperti aku memilih untuk mengadopsi bayi Orangutan yang bernama Ben, ia adalah bayi Orangutan yang ditolak oleh induknya, di brosur donasi ia menampakkan wajah malas selain itu Ben adalah nama yang bagus itu seorang Orangutan. Sedangkan untuk spesial adopsi, kita mengadopsi dua Orangutan sekaligus, mereka memiliki kisah yang membuat sedih dan semakin membenarkan keberingasan manusia. Shelton ditemukan dengan sembilan luka tembakan ditubuhnya, beberapa tembakan membuat mata kanannya buta permanen. Sedangkan, Kopral tidak memiliki tangan akibat ketika dipelihara ia menderita luka bakar, saat dibawa ke tempat konservasi BOS, kedua tangannya telah membusuk sehingga harus diamputasi. Namun walaupun tidak mempunyai tangan ia tetap bisa memanjat pohon dengan menggunakan kaki dan mulutnya. Kedua Orangutan ini sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang lebih karena kekurangannya. Mereka juga tidak akan mungkin dibebasliarkan ke hutan karena di kawanan Orangutan, mereka tidak mengenal Orangutan buta dan puntung sehingga akan terus berada dikawasan konservasi. Saya bersama dengan teman-teman kantor, memilih adopsi spesial untuk Shelton dan Kopral selama setahun.
Sekali lagi mereka butuh kepedulian kita untuk menyelamatkan kehidupan Orangutan, Beruang Madu, dan semua hewan yang terancam punah akibat perburuan dan pembunuhan. Mereka jika hidup di hutan memang saling memburu namun yang menjadi musuh utama mereka bukanlah persaingan dengan binatang lainnya tetapi kita, manusia yang semakin serakah untuk menguasai bumi. Jadilah orang yang ikut peduli terhadap bumi untuk kehidupan semua makhluk hidup. Salahsatu yang bisa kita lakukan dengan memberikan donasi dengan mengklik http://donation.orangutan.co.id atau mengunjungi website www.orangutan.or.id untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait konservasi yang dilakukan oleh Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation.




Orangutan bernama Bujang
Beruang Madu bernama Dawai







Daftar antrian pengunjung
Jalanan di kawasan konservasi



Mau hidup enak-enak!
Ketika masih sekolah SD di tahun 90-an, guru paling sering bertanya, “Anto, kalau sudah besar mau jadi apa?”. Spontan aku jawab, “Pegawai Bank, bu”. Wajar saja saya mau jadi pegawai Bank karena dikeluarga hanya ada dua jenis pekerjaan, pertama jadi seperti Bapak, seorang pegawai bank yang selalu tampil dengan baju kemeja dan berdasi, kerja di depan komputer, punya kendaraan motor dinas Honda Wing, sebelum ke kantor sepatu di lap sampai kinclong. Kedua, seperti Ibu, seorang guru SD yang mengajar di pelosok desa, kalau musim hujan harus libur karena sekolahnya kebanjiran. Kebanggaan terbesar seorang guru kalau memakai pakaian Korpri saat upacara bendera 17 Agustus, selebihnya hidup seorang guru terlihat memperihatinkan karena harus berurusan dengan koperasi.
Sebenarnya, terkadang ingin jadi guru seperti ibu, mengabdi untuk kemajuan anak bangsa tetapi penampilan seorang karyawan Bank selalu lebih menggiurkan di mata seorang anak kecil apalagi saat belajar bahasa Inggris, kalau nyebut karyawan Bank harus Bank Officer daripada Teacher, it is too simple in my ears. Jadilah, saya seorang anak kecil yang bermimpi kelak bisa berpakaian necis kayak bapak.
Tetapi, semua berubah ketika masuk SMP, terkadang ada teman yang berpikiran out of the box, kalau ditanya cita-cita dia tidak menjawab sebuah pekerjaan tetapi dia menyampaikan sebuah harapan yang mungkin sangat tidak mungkin dikabulkan, kalaupun dikabulkan hanya satu dari satu milyar penduduk bumi ini. Jawaban temanku ini unik tetapi sangat menarik hatiku, dia bakal menjawab, aku ingin muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Betapa mulia cita-cita anak ini. Kadang aku berpikir, “ Brengsek, kok dia bisa kepikiran cita-cita begitu.” Semenjak saat itu aku telah tertular dengan cita-cita “mission impossible’.
Perkembangan teknologi membawa perubahan besar terhadap pemikiran anak-anak yang lahir di Era 90-an keatas, sekarang mereka sering disebut generasi Y atau Milenial. Saat masih SMP dan SMA bahkan sampai sekarang televisi sebagai media informasi terbesar yang ditonton oleh sebagaian besar anak-anak termasuk saya, saya sudah bisa menonton seorang yang terlahir miskin, tiba-tiba menjadi kaya karena bertemu dengan perempuan cantik dari keluarga kaya. Tutorial orang dewasa berpacaran atau pertengkaran-pertengkaran yang bisa timbul jika berkeluarga, terkadang aku juga senang melihat artis-artis yang saling tuding menuding penyebab perceraian mereka. Tetapi satu hal kekecewaan ketika masih kanak-kanak, kok kakak-kakak JKT 48 belum muncul, yaaa. Mungkin aku akan menjadi fans garis kerasnya.
Ingin menjadi orang kaya ketika masih tua menjadi misiku ketika beranjak dewasa, untuk foya-foya di masa muda sudah tidak mungkin terjadi karena penghasilan orangtua hanya cukup untuk membiayai warisan satu-satunya, yaitu pendidikan. Waktu itu dipikiran saya untuk jadi orang kaya hanya ada beberapa pekerjaan, pertama menjadi seorang pedagang, karena modal tidak ada jadilah saya mencoret kemungkinan itu, kedua menjadi seorang bupati, entah kenapa setiap bupati itu terlihat kaya dan mungkin memang kaya, ada yang kaya sebelum menjabat, adapula kaya setelah menjabat. Kemarin saja saya baru sadar setelah mendengar perkataan Bapak Menteri dalam Negeri mengatakan, bahwa “selama KPK ada sudah 351 kepala daerah yang tertangkap”. Untuk menjadi seorang Bupati, aku mundur karena merasa masih terlalu muda dan pusing dengan politik, sepertinya perlu modal juga. Jadilah saya mendaftar di Universitas memilih jurusan Kedokteran sebanyak dua kali, aku lihat dokter-dokter di daerahku termasuk dalam daftar orang kaya, kalau aku sakit, dokternya cuma nanya kurang lebih 5 menit, ibuku bakal membayar Rp.50ribu. Aku kadang heran, hanya dengan menjawab pertanyaan, seorang dokter bisa tahu penyakitku dan akan sembuh tetapi uang ibuku akan berpindah tangan. Sakit adalah hal menakutkan bagiku karena uang belanja ibu akan berkurang. Kali ini bukan saya yang menolak jadi dokter, tetapi sebaliknya, kemampuanku tidak mampu lulus tes masuknya, untuk jadi seorang dokter harus menjawab tes Matematika, Fisika, dan Kimia, kalau sekarang kebanyakan orang  meneriakkan anti komunis maka aku anti sama ketiganya. Jadilah, aku anak ekonomi yang berharap kuliah santai tetapi kalau sarjana jadi Manajer Perusahaan Ternama di bursa Efek Indonesia. Itulah cita-cita mulia seorang anak ekonomi untuk mereka yang telah memiliki perusahaan keluarga, sedangkan aku tetap pada “mission impossible”.
Pagi tadi, ada hiruk pikuk di salah satu postingan Instagram, si mimin mengupload mengenai captured berita online yang menampilkan sebuah perkiraan gaji seorang karyawan BUMN dalam sebulan. Hanya perkiraan, yang tahu pasti hanyalah mereka yang menerima struk gaji sebenarnya. Di kolom komentar terdapat, beberapa nyinyiran karyawan, “7 jutaan iyaa emangnyaa? sambil tag beberapa temannya. Ada juga netizen yang ngomen, “Di Papua gak sampe 7 juta”.
Saking penasarannya saya stalking akun Intsgaram mereka seperti waktu suka jadi Polisi Sosial Media mantan, ternyata mereka yang nyinyir itu termasuk adalah pegawai yang masih sangat baru, belum cukup setahun kerja. Mereka salah satu contoh generasi Y (Milenial) dan salah satu karakteristik generasi Y (Milenial) adalah mudah tergiur dengan uang karena mereka sangat mempertimbangkan keadaan finansilanya. Kalau kalian jadi generasi Y tetapi tidak memiliki barang-barang bermerk, makan di café-café yang lagi hits, ataupun tidak pernah liburan ke luar kota atau luar negeri. Berarti kamu termasuk golongan generasi Y yang “cupu”.
Sebenarnya, kebutuhan yang banyak dapat membuat seorang calon pekerja menjadi lebih termotivasi untuk semakin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar bisa bersaing mencari pekerjaan yang mengiming-imingkan gaji tinggi. Tetapi, akan menjadi bumerang jika ternyata gaji yang dijanjikan tidak sesuai dengan perkiraannya atau informasi penghasilan dari situs-situs di dunia maya yang nggak jelas sumber informasinya (yang penting banyak dikunjungin). Beban kerja yang tinggi dan penghasilan yang dirasa kurang akan menurunkan motivasi seorang pekerja atau bahkan akan sibuk mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan gaji tinggi. Seringkali mereka akan mengeluh dengan keadaan yang menimpanya sejak bergabung di perusahaan tempatnya bekerja, namun mereka lupa bersyukur bisa makan, mengirimkan uang ke kampung dan pulang lebaran dari gaji perusahaanya. Belum tentu di perusahaan lain kamu bisa berbuat begitu apalagi berpikir untuk beli sepatu bermerk dan liburan ke luar negeri. Hahahaha Anak muda sekarang mau gaji tinggi tetapi sering mengeluh, seolah-olah hanya hidupnya yang paling susah.
Seperti kata temanku waktu SMP, “Muda Foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Sekarang semboyan itu seperti, “it’s bullshit man”. Nikmati saja gaji yang sekarang sambil berusaha menemukan kebahagian apalagi buat yang masih jomblo.

Nelayan di sekitar Tanjung Lesung

Secara umum cerpen-cerpen ini berisi sebuah kisah yang lahir dari sebuah kehidupan yang sederhana, lahir dari kekelaman, kekejaman dan ketidakadilan, walaupun begitu tokoh-tokohnya tetap berdiri kokoh untuk bertahan dan melawan.

Kumpulan Cerpen Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali karya Puthut EA berisi 15 cerpen, cerpen pertama yang berjudul sama dengan judul bukunya menampilkan sebuah cerita yang sulit ditebak bagian akhir alur ceritanya, semakin jauh dibaca semakin timbul rasa penasaran mengenai arah pembicaraan antar tokohnya. Latar ceritanya dibuat sederhana di stasiun kereta yang jika pembaca menggunakan imajinasinya, ia akan merasakan suasana sunyi di stasiun kereta api bahkan hingga seakan menghirup bau besi tua dari rel atapun kursi-kursi besi yang telah berkarat. Namun, menurut saya yang menjadi bahasan utama dalam cerpen Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali adalah sebuah prasangka/cap sebagai komunis sangatlah tidak adil bagi mereka yang tidak tahu menahu mengenai paham tersebut seperti yang dialami oleh tokoh Ia yang hidupnya sengsara karena ayahnya dianggap seorang Komunis. Aku teringat masa ketika masih anak-anak dari perbincangan keluargaku dulu (zaman orde baru) kudengar jika mereka yang orangtua atau keluarganya dianggap komunis tidak bisa menjadi pegawai negeri sipil seperti halnya yang dikisahkan oleh Puthut EA. Mereka yang dianggap “komunis” seperti orang yang terkena virus atau penyakit menular yang mematikan sehingga orang-orang menjadi takut mendekat kepadanya. Cerpen ini juga tidak lupa menampilkan keseharian mereka yang terpinggirkan seperti gelandangan yang tidur di stasiun dan buku karangan Pramoedya yang ditulis di pulau Buru, di sela-sela karyanya ia menyebut karya orang lain yang menurutku memang pantas mendapat promosi sebagai bacaan karena sudah mulai banyak dilupakan oleh generasi Milenial dan generasi Z. Mungkin dengan disebutkannya sulitnya mendapatkan buku ini ketika masa orde baru akan menimbulkan rasa penasaran kepada generasi sekarang.

Kehidupan yang bermasalah adalah kehidupan orang-orang yang di kota, mereka (orang-orang kota) hidupnya sangat bergantung dengan keadaan perekonomian berbeda dengan masyarakat yang hidup di desa yang jika terjadi krisis masih dapat mencukupi hidupnya dengan hasil lahan-lahan pertanian/perkebunan. Pada cerpen berjudul KAWAN KECIL, Puthut EA menampilkan kisah antara dua kehidupan yang saling berkontradiksi, kehidupan orang kota dan kehidupan orang desa. Di kisah ini dia menyampaikan kritiknya dengan sangat indah melalui percakapan dua orang sahabat mengenai kehidupan orang-orang kota tak terkecuali tentang orang-orang desa yang ber-urbanisasi ke kota dengan mengorbankan kehidupan orang-orang di desa. Tiap tahun kita dapat menyaksikan bagaimana urbanisasi ke kota-kota besar selalu terjadi, kata mereka jika ditanya alasan ke kota “saya ingin mengadu nasib, kata orang pekerjaan di kota banyak dan bisa membuat seseorang menjadi kaya”. Pemikiran yang sangatlah optimis dan positif tetapi dibalik pernyataan tersebut terbersit kata “mengadu nasib” ada dua kemungkinan beruntung atau buntung (celaka). Di balik kepergian mereka ke kota mereka harus mengorbankan harta yang dimilikinya, banyak diantara mereka menjual lahan-lahan pertanian yang telah dikelola turun-temurun. Sehingga, ketika ternyata di kota yang menghampiri mereka adalah “nasib yang celaka” maka mereka akan hidup nelangsa di tengah kota. Walaupun begitu kehidupan di desa juga tak lepas dari kritiknya, permasalahan media untuk membaca yang tidak ada. Puthut EA menyelipkan kata “CD Orisinal dari berbagai album Slank”, ini seperti sebuah kampanye yang edukatif kepada masyarakat yang sudah sepatutnya para penikmat musik dan buku membeli karya-karya yang orisinal bukan bajakan. 

Sumber :  Judul Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, Penerbit Buku Mojok, Tahun 2016






Dengan menulis, ingatan tentang kakek yang biasa aku panggil “Bapak Lato” akan tetap abadi. Aku tidak ingin jika ingatanku telah senja aku melupakannya walaupun cara berceritaku tidak sepandai dan sepuitis para penyair.
Aku tidak akan melupakan “Bapak Lato”, seorang laki-laki beruban yang selalu tersenyum ketika tersenyum nampak giginya yang rata dan putih. Suaranya tidak pernah terdengar keras. Ia sangat sayang kepada semua cucu-cucunya. Ketika aku dan sepupuku masih kanak-kanak ia selalu bercerita sebelum kami tidur, sesekali menyanyikan lagu-lagu perjuangan, maklum dia lahir ketika bangsa Indonesia  baru merdeka, tanggal dan bulannya tak pasti. Setiap aku bertanya kapan ia lahir, jawabannya “Dia lahir ketika gerombolan “gorilla” masuk ke hutan.” Gorilla ini merujuk kepada pemberontak-pemberontak ketika Indonesia telah merdeka.
Kakek mengajukan pensiun dini dari tugas sebagai guru sekolah pertama, keputusannya bukan karena lelah mengajar tetapi ia merasa sudah cukup pengabdiannya sebagai guru dan ingin mengurusi kebun warisan dari ayahnya. Ia selalu kelihatan bersemangat pergi berkebun, kakekku memiliki kebun yang jauhnya sekitar 5 km dari rumah. Dia pergi dengan mengendarai sepeda motor bermerek Suzuki Jet Cooled yang sudah tua juga bersama nenekku yang biasa kami panggil “Mama Aji”. Ketika aku dan sepupuku liburan dan mengunjunginya, kami sering diajak untuk ikut berkebun. Pengalaman berkebun dengan usia yang masih kanak-kanak tidak akan pernah terlupakan. Kami pergi dengan mengendarai angkutan umum. Sebelum berangkat kami mempersiapkan bekal dirantang bersusun, isinya nasi putih, sayur, ikan, dan sambal. Bekal ini akan menjadi makan siang kami di rumah kebun.
Setelah turun dari angkutan umum, kami harus berjalan melewati kuburan, lalu memasuki kebun-kebun orang lain beberapa ratus meter untuk mencapai bibir sungai, kami kemudian naik perahu kecil yang hanya muat untuk empat hingga lima orang saja namun ketika musim kemarau panjang, kami bisa berjalan kaki diatas pasir-pasir sungai dan kerang-kerang sungai yang telah mengering. Kakekku akan berteriak memanggil keponakannya yang tinggal diseberang sungai yang sedang menjala ikan untuk menyeberangkan kami. Sungai merupakan jantung kehidupan masyarakat, selain sebagai sumber makanan dan minum, airnya juga  dialirkan naik untuk irigasi kebun-kebun jika sedang kemarau.
Saat naik ke perahu rasa bahagia mengalahkan ketakutan jika perahu tenggelam, di umurku yang masih sangat muda tidak pernah terpikir hal-hal yang buruk padahal aku sama sekali tidak bisa berenang. Namun mungkin rasa percaya kepada pengayuh perahu dan kakekku, aku tetap merasa aman. Hingga sekarang umurku yang sudah 25 tahun, bau air sungai yang kecoklatan dan gemercik air masih sangat terasa di hidungku dan kulitku. Aku sangat suka menurunkan jari-jari tanganku ke air lalu mengusap-usap permukaan air yang berombak karena kayuhan. Jika air surut dan arus tidak deras, kami sering bermain air di sungai.
Sesampai di kebun, kami akan berganti pakaian dengan baju yang sudah lusuh, kakek akan mengambil parang untuk membersihkan kebun dari semak belukar yang tumbuh di sekitar pohon Kakao. Sedang aku akan bermain di kebun bersama sepupuku. Setelah semuanya bersih kami akan memetik buah kakao yang berwarna kuning, ciri buah yang sudah masak. Kakek akan memetik Kakao menggunakan bambu yang di ujungnya dikaitkan pisau sedangkan aku yang masih kanak-kanak bertugas memungut dan mengumpulkannya di sekitar rumah kebun, semuanya kulakukan dengan semangat sambil tertawa riang.
Buah Kakao yang telah terkumpul selanjutnya akan dipisahkan dari kulitnya, saat inilah yang aku tunggu bersama sepupuku. Daging buah Kakao sangatlah lezat dil lidah mungil kami, rasanya manis kadang-kadang bercampur kecut. Seandainya nenek tidak melarang kami, mungkin semua biji kakao akan aku lahap. Katanya “Jika makan terlalu banyak akan menyebabkan sakit perut”. Saat itu aku percaya saja, sakit adalah momok menakutkan bagiku apalagi jika memikirkan dokter membawa jarum suntik yang panjang dan siap ditancapkan di pantatku.
Suara adzan dzuhur akan menghentikan aktifitas kami, kakek dan nenekku akan shalat. Setelah itu kami akan makan bersama di dalam rumah kebun yang sangat sederhana, bangunannya seperti rumah panggung namun ukurannya lebih kecil, tiang penopang dan dindingnya terbuat dari kayu, potongan bambu-bambu kering disusun menjadi lantai, atapnya dari daun kelapa yang disusun sehingga bisa menahan air ketika hujan, rumah itu terletak di sudut kiri kebun, dekat dengan jalan.
Momen-momen makan di kebun masih teringat jelas di ingatanku walaupun itu sudah lama, kami akan diberikan piring yang berisi lauk ikan atau telur, sambal, aku akan mengambil sayur sendiri karena dulu aku tidak terlalu suka sayur, aku lebih suka air putih menjadi kuah nasi.
Sehabis makan, kami beristirahat dan kakek akan bercerita tentang banyak hal mengenai keluarganya, perjuangan dia untuk sekolah, cerita-cerita rakyat, dan pengalamannya ketika mengajar bahasa Jepang dan Inggris di sekolah. Aku sangat tertarik dengan semua yang diceritakannya kepadaku. Waktu seumuran aku, dia berjuang untuk bisa bersekolah, ia meninggalkan rumah dan tinggal di rumah seorang sanak keluarganya agar bisa sekolah. Dari tiga bersaudara, hanya dia yang bersekolah. Kakak dan Adiknya memilih untuk berkebun seperti kebanyakan orangtua mereka.
Jika berangkat sekolah ia harus berjalan kaki dan bersepeda puluhan kilometer, kadang jika hujan bajunya yang basah ia tetap kenakan hingga kering di jalan. Kisahnya sangat mendebarkan dan membuat saya sangat tertarik, berbeda dengan masa kecilku yang hanya berjalan beberapa meter untuk bersekolah, itupun kadang aku berpura-pura sakit perut ketika malas masuk sekolah. Perjuangannya yang gigih membuat ia bersekolah hingga mendapat sarjana muda kala itu.
Sehabis beristirahat, kami akan memasukkan biji Kakao ke dalam karung untuk dibawa pulang dan dikeringkan di sekitar rumah. Sebelum pulang, kami berkunjung ke rumah keponakan kakek yang tinggal tidak jauh dari kebun, di sana kami bisa melihat ulat yang menghasilkan benang sutera. Aku sangat suka mengelus-elus kulit ulat sutera yang sangat halus. Keponakan laki-laki kakek sangat pandai membuat mainan tradisional, dia sering membuatkan aku gasing dan layangan, pernah aku sama kakakku dibuatkan layangang berbentuk burung merak yang sangat besar dan cantik dibadannya diberi pita kaset sehingga bisa mengeluarkan suara yang terdengar indah ketika mengangkasa tertiup angin. Jika aku menerbangkannya di sawah belakang rumah kakek, anak-anak disekitar rumah akan berkumpul menonton dan mengagumi layangan kami.
Hari Selasa dan Sabtu merupakan hari yang sangat ditunggu bagi para petani, peternak ayam, pengemudi bendi, tukang becak, kuli pasar, penjual ikan, penjual pakaian, penjual emas, penjual obat keliling yang selalu menampilkan sulap, dan manteri pasar termasuk kakekku, aku dan cucunya yang lain karena hari itu adalah hari pasar yang hanya digelar dua kali dalam sepekan. Kakek akan membawa Kakao kering kepada tengkulak di pasar, setelah pulang ia akan membagi-bagikan uang sebagai imbalan karena membantunya berkebun. Kala itu aku bersama sepupuku merasa sangat senang lalu ke pasar belanja mainan, kadang aku menabungnya untuk membeli perlengkapan sekolah.
Semua ceritaku di atas sangat berkesan hingga masih terpatri dalam tiap ruang-ruang di rongga dadaku. Setiap mengingatnya, aku ingin kembali ke masa itu walaupun itu tidak mungkin terjadi. Aku sangat hormat kepada “Bapak Lato” dan mematuhi segala keinginannya termasuk ketika melarang aku ke Pulau Jawa untuk melanjutkan kuliah walaupun kedua orangtuaku telah setuju, aku percaya dengan segala keputusannya. Mungkin karena itu kala kuliah aku-pun dijatah uang saku tiap bulan dari gaji pensiunannya yang tak seberapa. Kakek dan nenek  juga sering kali datang ke ibukota provinsi tempat aku kuliah hanya untuk mengurusi aku. Jika ia sakit aku mengantarnya ke rumah sakit, pernah suatu kali waktu kami ke rumah sakit. Dokter yang memeriksanya menyarankan ia agar di operasi agar penyakitnya bisa diangkat tetapi dengan kata dan nada yang halus namun tegar ia berucap bahwa kalaupun ajalnya akan tiba dia telah siap dan bercerita jika teman-teman kala ia muda telah mati lebih dulu. Saat itu aku salut dengan ketegaran hati yang dimiliki kakek, dia tidak seperti orang-orang kaya yang kadang berobat keluar negeri hanya untuk menunda kematian seakan mereka takut akan kematian.
Momen yang juga tidak terlupakan adalah ketika setiap awal bulan kakek akan menjemputku di rumah lalu berdua naik becak ke kantor pos untuk mengambil gaji pensiunnya. Kami duduk di kursi yang berjejeran di halaman kantor pos bersama para pensiunan guru, pegawai daerah, dan veteran yang juga ditemani cucu-cucunya menunggu nomor antrian kami dipanggil. Sepulang dari kantor pos, kakek akan mentraktirku makan dan memberiku uang saku lalu naik becak lagi pulang ke rumah.
Semua momen di atas tidak akan terulang lagi, karena kakekku telah memasuki masa senja mungkin umurnya telah lebih 70 tahun sekarang ia-pun agak  pikun, kebun Kakao tidak terurus lagi ketika kakek merasa tidak kuat lagi berkebun dan tidak ada anaknya yang melanjutkannya, kebunnya pun sekarang telah berganti menjadi tanah persawahan yang disewakan ke orang lain, sungai yang dulu tenang itu seringkali mengamuk dan meluap menggagalkan panen petani, anak-anak di sekitar rumah kakek telah tumbuh menjadi lelaki dewasa sedangkan anak jaman sekarang lebih suka bermain game dengan gadgetnya sebagian suka nonton sinetron di tv. Tanah persawahan di belakang rumah kakek-pun telah berubah menjadi perumahan yang sesak. Bendi dan becak telah hilang dari jalan-jalan raya, mungkin sekarang ini hanya bisa dijumpai di buku-buku atau museum kendaraan.


Es kopi Kong Djie di pasar lama Tangerang

Judul               : Cinta di Dalam Gelas
Penulis            : Andrea Hirata
Penerbit          : Penerbit Bentang
Cetakan           : Kesembilan, Februari 2017
Kota                : Sleman, Yogyakarta

Sinopsis :

Novel Cinta di Dalam Gelas ini adalah lanjutan kisah dari Novel Padang Bulan. Seperti dalam novel sebelumnya yang memiliki dua tokoh utama protagonis namun yang membedakannya adalah novel pertama pada awal kisah menceritakan mengenai tokoh Enong dan selanjutnya kisahnya lebih berputar tentang kegelisahan Ikal yang ditinggal oleh A Ling yang disertai desas-desus bahwa ia akan menikah dengan Zinar. Sedangkan, pada novel kedua ini kisahnya berputar tentang kisah Enong yang menegakkan martabatnya dengan cara membuktikan dirinya bahwa ia bisa lebih baik daripada mereka yang kadang meremehkannya. Di sini juga pembaca dapat melihat sebuah kerja keras dan perjuangan dari seorang perempuan yang dipandang tidak boleh memainkan permainan laki-laki hingga ia bisa mengalahkan lawan-lawannya (laki-laki).

Pada awal novel di buka dengan kebahagian Ikal yang batal merantau ke Jakarta karena lebih memilih tinggal bersama kekasinya  A Ling walaupun ia hanya bekerja sebagai pelayan Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi, yang tak lain pemiliknya adalah pamannya sendiri.

Sedangkan, kisah tokoh Maryamah diawali dengan ketulusan seorang kakak perempuan yang melepas adik-adiknya menikah lebih dahulu.  Akhirnya Enong terpaksa menikah dengan seorang lelaki yang bernama Matarom karena ia tidak ingin melihat ibunya yang sakit selalu bersedih. Namun, pernikahan Enong tidak selancar ketiga adiknya, ia meminta diceraikan karena ada seorang perempuan hamil yang mengaku sebagai istri Matarom. Lelaki bernama Matarom terkenal sebagai juara catur 17 Agustus sebanyak dua kali berturut-turut.

Kebiasaan lelaki Melayu adalah gemar berlama-lama di warung kopi, dan yang mereka lakukan selain minum kopi, menjelek-jelekkan kinerja pemerintah adalah main catur. Di warung kopi lelaki korban PHK perusahaan timah menghabiskan waktu dengan menyeruput kopi sambil mengisahkan dan membangga-banggakan jabatan terkahirnya di Maskapai timah sebelum gulung tikar. Lelaki Melayu lebih juga menganggap bahwa kopi di warung lebih enak daripada kopi buatan isteri mereka.

Tidak semua kehidupan Maryamah berkutat dalam gelapnya kesedihan, ada juga kisah bahagia seperti ketika ia di wisuda. Maryamah akhirnya lulus dalam kursus bahasa Inggris dengan menempati peringkat kelima, kelulusan Maryamah sangatlah spesial bagi direktur kursus karena sebenarnya murid-murid mereka kebanyakan murid SMA, hanya Maryamah murid yang telah dewasa. Ia pun diminta untuk naik ke podium menerima piagam dan kesempatan pidato. Dengan ragu Maryamah meraih mikrofon mengucapkan tiga buah kata “Sacrifice, honesty, freedom.”

Novel cinta di dalam gelas juga seperti sebuah jurnal penelitian mengenai hubungan antara perilaku laki-laki Melayu dengan rasa, dan takaran kopi serta cara mereka menyeruput kopi.  Menurut lelaki Melayu, mereka yang sama sekali tidak minum kopi adalah penyia-nyia kehidupan. Selain itu, diceritakan juga berbagai karakter pemain catur yang saling berhubungan dengan cara mereka bermain catur.

Inti cerita dalam novel ini adalah perjuangan Enong atau Maryamah yang ingin menaklukkan mantan suaminya Matarom di papan catur sebagai juara kejuaraan catur 17 Agustus walaupun ia sebelumnya tidak pernah bermain catur. Dengan di bantu Ikal, Detektif M. Nur, Jose Rizal, Ratna Mutu Manikam, Selamot, Preman Cebol, Lintang, Chip, dan terutama grand master catur Ninockha Stronovsky, permainan catur Maryamah berkembang hingga ia bisa menguasai taktik Guioco Piano ciptaan juara dunia catur Anatoly Karpov sehingga dia dijuluki Maryamah Karpov.

Melalui pertandingan catur Maryamah bertemu orang-orang dengan kebaikan dan keburukannya masing-masing yang pernah bertemu dengannya dan juga bertemu Tarub lelaki yang pernah membuat ia jatuh hati.