Setelah semalam Jakarta diguyur hujan, embun tebal menutupi kaca-kaca bus. Hiruk pikuk kendaraan lain tidak terlihat, seperti menyusuri kesunyian dalam kabut. Dalam bus disesaki orang dengan dunianya sendiri. Sesekali pengumuman pemberhentian memecah kesunyian. Setiap orang berangkat sendiri-sendiri namun sebagian besar turun di halte yang sama, halte di perkantoran. Di pintu halte pemberhentian, seorang petugas dengan seragam akan berdiri menyambut, mengingatkan agar memperhatikan langkah saat berpindah dari bus ke halte, di sebelahnya beberapa penumpang sudah bersiap menggantikan posisimu di bus. Langkah yang cepat menyusuri pintu-pintu keluar, selepas itu kamu harus berjinjit menghindari jalanan yang masih tersisa genangan air. Tenda dan gerobak penjual sarapan berjejer di pinggir jalan, menunggu para pekerja yang belum sempat sarapan untuk mampir.
Sepasang earbud melantunkan lirik lagu Kunto Aji, "jangan salahkan barisan panjang di pusat kota kita bergegas mengejar mimpi-mimpi yang sama". Sepanjang perjalanan menuju kantor, saya melihat puluhan orang bergerak menuju tujuannya atau menjalakan aktivitasnya masing-masing. Saat hujan turun dengan deras, pengemudi bus tetap melaju sepanjang jalurnya, dalam bus tetap penuh sesak, petugas tetap berdiri di pintu, sebagian pekerja berdiam diri di halte tujuan menunggu hujan reda, sebagian pekerja bersikeras menerobos mengenakan jas hujan ataupun payung, melipat celana panjang hingga lutut sambil memeluk tas dengan tangan memegang sepatu. Pedagang makanan juga tetap buka walaupun harus berjibaku menghindarkan masakannya terpercik air.
Setiap orang secara sadar melakukan aktivitasnya sebagai makhluk sosial dalam masyarakat, meskipun keterhubungan antarmanusia seringkali tidak tampak di permukaan. Apakah setiap pengorbanan dan usaha yang kita lakukan pada akhirnya ditujukan untuk menjaga harmoni dan tatanan dalam masyarakat atau lahir dari dorongan kasih sayang terhadap sesama manusia? Menurut para ekonom, kasih sayang itu langka, jika kita menggerakkan masyarakat dengan kasih sayang, tidak akan ada lagi yang tersisa bagi kehidupan pribadi kita. Kita mesti mencadangkan kasih sayang dan tidak memboroskannya dengan mubazir. Maka dari itu para ekonom memikirkan apa yang dapat digunakan mengorganisir masyarakat, namun tersedia berlimpah ruah?
Adam Smith mengembangkan gagasan kepentingan diri sendiri (self-interest) sebagai dorongan dasar yang menggerakkan aktivitas ekonomi individu. Self-interest sebagai mekanisme yang menjelaskan bagaimana tindakan individu berkontribusi pada pencapaian kesejahteraan bersama, namun tujuan kehidupan manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia). Kebahagian secara konsisten tetap menjadi sesuatu yang populer, dan bahwa sebagian besar orang mengejarnya, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk orang-orang yang mereka cintai. Oleh karena itu, tema kebahagian selalu menjadi diskursus menarik untuk para pemikir filsafat. Pertanyaan sederhana yang sering muncul dipikiran, apakah saya bahagia atau bagaimana caranya saya bisa bahagia atau kenapa saya tidak bahagia, dan masih banyak lagi hal ihwal lainnya tentang kebahagiaan.
Apa yang membuat kehidupan manusia bahagia? Menurut Aristoteles, kebahagiaan dicapai melalui kebajikan yang diekspresikan dalam tindakan. Kita akan bahagia jika melibatkan diri secara positif dalam lingkungan manusiawi, yaitu keluarga, kampung, dan polis (kota). Pendekatan Aristoteles memang berangkat dari pertanyaan tentang bagaimana manusia dapat hidup dengan baik dan bahagia, namun kebahagiaan (eudaimonia) justru tidak ditemukan melalui fokus reflektif pada diri sendiri. Ketika manusia mengembangkan pengetahuan dan kapasitas sosialnya, ia menemukan dirinya dengan keluar dari dirinya, bukan dengan menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan yang dihitung. Karena itu, Aristoteles tidak akan sejalan dengan gagasan bahwa seseorang mengambil peran aktif dalam komunitas agar merasa lebih terpenuhi atau lebih bahagia, sebab pandangan semacam itu menjadikan keterlibatan sosial sebagai sarana bersyarat bagi kepentingan diri. Bagi Aristoteles, partisipasi yang autentik berarti terlibat langsung dalam persoalan, tantangan, dan harapan orang lain tanpa kalkulasi manfaat personal. Kebahagiaan muncul bukan sebagai hasil yang dikejar, melainkan sebagai konsekuensi dari hidup yang dijalani secara bajik, rasional, dan selaras dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial dan politis.
Kita tidak perlu selalu merefleksikan setiap tindakan dalam kerangka “apa keuntungan yang akan saya peroleh?”, karena cara berpikir semacam itu merepresentasikan logika kapitalistik yang mereduksi tindakan manusia menjadi kalkulasi return. Dalam kapitalisme modern, hampir setiap aktivitas dipahami sebagai bentuk penanaman modal—baik uang, waktu, maupun relasi—yang dinilai sah sejauh menjanjikan imbal hasil di masa depan. Logika ini memang rasional dan diperlukan dalam ranah ekonomi, misalnya dalam pengelolaan perbankan atau investasi, tetapi menurut kerangka Aristoteles, logika tersebut tidak boleh diperluas ke seluruh dimensi kehidupan manusia. Manusia bukan semata-mata makhluk ekonomis yang bertindak berdasarkan keuntungan, melainkan makhluk rasional dan sosial yang menemukan kepenuhan hidup justru ketika bertindak tanpa kalkulasi manfaat personal. Ketika relasi, kepedulian, dan partisipasi sosial dipahami sebagai investasi yang menunggu imbal balik, kebajikan kehilangan maknanya, dan kebahagiaan gagal terwujud sebagai eudaimonia, yakni hidup yang baik itu sendiri, bukan hasil yang dinegosiasikan.
Klub sepakbola Manchester United meraih dua kemenangan di pertandingan liga Inggris melawan dua peringkat teratas, sangat mudah menemukan suporternnya yang meluapkan kebahagiaan di media sosial. Namun, kemenangan tidak berlangsung selamanya akan tiba saatnya mengalami kekalahan. Apakah suporter Manchester United tetap bahagia saat mengalami kekalahan atau merasakan sebaliknya? Saya pernah bertahun-tahun merasakan kebahagian itu dipengaruhi oleh pertandingan Manchester United, saya merasakan hari-hari menjadi sangat menyenangkan, semangat dalam beraktivitas, bahkan menerima orang-orang atau pembahasan yang menjengkalkan dengan hati gembira.
Setelah saya renungi sepertinya perasaan itu muncul berawal dari pengorbanan yang saya lakukan setiap ingin menyaksikan pertandingan liga yang nun jauh di tanah leluhur bangsa Anglo-Saxon. Kembali ke masa-masa kuliah di Makassar saat tinggal bersama abang, kami berdua seringkali berboncengan motor berkeliling di tengah malam bahkan hingga dini hari mencari warung kopi atau tempat persinggahan supir-supir antar kota lalu larut pada euforia pertandingan sepakbola. Saat itu platform streaming digital belum tersedia, begitu juga streaming ilegal. Sehingga setiap kekalahan memberikan perasaan menyakitkan, hidup yang menyenangkan menjadi tiba-tiba menderita. Akhirnya tanpa saya sadar, sebuah klub sepakbola menjadi faktor yang merubah perasaan dari bahagia menjadi menderita atau sebaliknya.
Perasaan bahagia saya ternyata berasal dari hal eksternal yang tidak melekat pada diri saya. Mungkin kita sadar atau tidak saat ini kebanyakan dari manusia menggantungkan kebahagiannya pada hal-hal eksternal. Saya sangat terganggu dengan kalimat, "uang bukan jaminan kebahagian, tetapi jika tidak punya uang pasti tidak bahagia". Dengan menganggap uang sebagai sumber kebahagian atau setidaknya mengobati penderitaan, umat manusia akan mengejar tujuan punya banyak uang selama menjalani kehidupannya. Pada akhirnya, manusia akan berakhir dalam penderitaan jika tidak mencapai tujuannya ataupun akan menyakiti sesama manusia asalkan tujuannya tercapai. Pemikiran tidak mengejar kebahagian dari hal-hal eksternal seperti punya harta, jabatan, terkenal, atau bahkan melalui klub sepakbola memang terdengar naif karena kerangka berpikir kita telah lama dibentuk oleh logika yang mengagungkan pencapaian lahiriah.
Boethius, Montaigne, Kierkegarard merupakan kelompok filsuf yang menganggap bahwa menggantungkan kebahagiaan pada keberuntungan eksternal adalah tindakan beresiko, dan bahwa manusia akan lebih baik jika menggali sumber daya batiniah merea sendiri untuk menemukan ketengan dan kepuasan hidup. Dalam ilmu psikolog terdapat istilah Hedonic Treadmil, kondisi ketika kita harus bekerja semakin keras hanya untuk memperoleh imbalan yang sama. Manusia cenderung kembali ke tingkat kebahagian yang sama, meskipun mengalami perubahan besar dalam hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Akibatnya, kita harus mengejar hal baru atau bekerja semakin keras hanya untuk merasakan kebahagia yang sama seperti sebelumnya. Konsep ini memperingatkan bahwa, jika kebahagian hanya digantungkan pada hasil eksternal (uang, status, dan pengakuan), maka manusia akan terjebak dalam pengejaran tanpa akhir.
Seorang penulis Michael Gracey dalam artikelnya yang berjudul Hedonic Treadmills in the Vale of Tears menutup tulisannya dengan sangat baik, kira-kira seperti ini, "saya akan mendorong anak-anak saya untuk menikmati antusiasme mereka, sembari tetap waspada pada hasrat-hasrat yang dapat menggoyahkan keseimbangan ata menjerumuskan mereka ke dalam Hedonic Treadmil. Namun di sisi lain, jika mereka terlaly pasif, saya akan mengingatkan mereka agar tidak sekedar menunggu "penyelamatan" menuju hidup yang bahagia. Sebaliknya, apa yang mereka lakukan di dunia inilah yang membentuk siapa diri mereka.
Halo! I'm Herdi, the man who is pesseimistic about the sustainability of human life.
0 komentar:
Posting Komentar