Saat di bus transjakarta selepas pulang kerja, sudah jadi kebiasaan jika ada ruang sedikit yang memungkinan saya akan buka hape agar tidak bosan. Sebuah akun di aplikasi X @booknotbomb memposting ulang tweet-nya di tanggal 17 April 2024, "Kita semua adalah buruh. Istilah "karyawan" adalah warisan militerisme orde baru dan golongan karya, untuk mengikis militansi, memecahbelah kekuatan kelas buruh, dan melemahkan solidaritas kelas." Akun X ini menyadarkan saya sepertinya untuk menyambut hari buruh tanggal 1 Mei 2026, saya akan menceritakan kegiatan saya sebagai seorang buruh selama tanggal 30 April 2026.

Ada dua buruh yang pernah saya jumpai melalui bacaan, pertama Pinneberg seorang buruh dari Jerman bersama isteri dan bayi perempuannya, pernah dalam suatu babak kehidupannya dia bertengkar dengan isterinya perihal perkara uang beberapa lama selepas pernikahan, Lammchen (isteri Pinneberg), "Kita hanya akan hidup menggunakan gajimu. Kita bahkan sudah sepakat menabung, lalu ke mana perginya semua tabungan kita? Bahkan semua pemasukan ekstra kita sudah habis."
"Tapi, bagaimana bisa?" Pinneberg mulai termenung. "Kita sama sekali tidak hidup berfoya-foya."

Kedua adalah tokoh aku dalam novel Bukan Pasar Malam, yang mengayuh pedal sepeda di tengah teriknya matahari Jakarta ke rumah-rumah kawannya mencari hutang agar dapat pulang ke Blora menjenguk ayahnya yang sedang di rumah sakit.  Hutang! Presiden! Menteri! Para-paduka-tuan! Dan penyakit! Mobil! Keringat dan debu tahu kuda!---Hatiku berteriak.

Tanggal 30 April 2026, sekitar pukul 00.30 WIB, saya berbaring di atas kasur sambil scroll postingan instagram yang menampilkan seorang menteri mengklarifikasi potongan videonya yang dirujak oleh pengguna sosial media karena menyarankan perubahan posisi gerbong perempuan yang secara tidak langsung mengganti korban dengan laki-laki jika terjadi kecelakaan kereta api. Seharusnya kebanyakan orang paham bahwa menteri tersebut tidak berniat seperti itu namun pengguna sosial media sangat sensitif dengan komentar bodoh saat terjadi musibah/dukacita. Dalam kumpulan tulisan SGA di buku Affair, obrolan urban dia menulis, "Andaikan Anda diangkat jadi menteri. Meskipun Anda belum mulai bekerja, Anda sudah dianggap orang sukses. Jabatan Anda adalah sukses Anda, bahwa sebagai menteri Anda rada-rada bego, itu bukan persoalan besar. "Dia pernah jadi menteri" adalah ucapan yang menunjukkan bahwa jabatannya jauh lebih penting dari prestasi kerjanya."

Setelah bangun, saya perkirakan akan terlambat lagi. Namun, yang luput dari prediksi adalah saat sudah melangkah masuk lift dari lantai 11 kondisi sudah berdesakan, yang akan berlanjut sampai lantai paling bawah. Sambil berjalan ke halte bus transjakarta, saya mengirimkan pesan teks whatsapp kepada isteri menanyakan kabar mereka, si abang dan si adik yang beberapa hari ini sedang sakit. Sudah hampir pukul 09.00 biasanya para pekerja yang menggunakan bus transjakarta sudah berkurang, kebanyakan jam kerja kantoran di kita ini 09.00 s.d 17.00, namun hari ini benar-benar anomali walaupun memang saat menuju ke halte, jalanan masih basah sepertinya pagi tadi hujan sehingga orang-orang menunda berangkat kerja. Hujan di Jakarta tidak pernah se-romantis video/foto yang tersebar di sosial media bagi para pekerja, setiap hujan reda mungkin ribuan pekerja akan bergegas di waktu yang sama berangkat atau pulang kerja. Saat masuk halte, antrean sudah agak ramai tetapi biasanya cukup 1 atau 2 bus yang kamu lewatkan, maka bus selanjutnya akan mengangkutmu. 

Pagi ini saya harus melewatkan 3 bus umum dan 1 bus khusus wanita, akhirnya di bus ke 5 saya bisa berangkat, tentu saja dengan kondisi masih sangat berdesakan. Tidak ada hal yang paling bisa membunuh kebosanan di bus yang penuh sesak kecuali mendengarkan lagu timur di spotify dengan suara earphone full. Perjalanan tidak lama, hanya sekitar 15 menit karena jalurnya khusus bus transjakarta dan hanya berhenti di halte busway velbak. Sesampainya di halte busway csw, suasana masih sangat ramai. Para penumpang dengan sendirinya berbaris menuju tangga turun yang lebarnya hanya cukup untuk dua orang, jika ada yang turun tangga dengan langkah lambat karena sedang mengetik teks di hape, maka antrean akan tersendat yang itu sangat menjengkelkan bagi orang seperti saya yang sudah terlambat. Setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta yang sebagian besar saya habiskan dengan berjalan kaki, saya telah terbiasa berjalan cepat (kadang-kadang berlari sedikit jika melihat bus transjakarta akan tiba di halte). 

Akhirnya, saya tiba di halte terakhir terminal blok M dengan kondisi cuaca yang sangat panas, saya bisa merasakan keringat mengalir di punggung apalagi hari ini adalah hari kamis, ada aturan pakaian dinas mengharuskan blazer/jas warna bebas. Pemerintah di awal tahun sudah memperingatkan fenomena "Godzilla" El Nino yang melanda seluruh Indonesia termasuk Jakarta, fenomena yang akan menyebabkan lonjakan suhu dan tingkat radiasi UV sangat tinggi. Ingatan saya kembali ke masa lalu saat masih duduk di bangku universitas, hari itu cuaca Makassar sangat panas, salah seorang dosen yang mengajar menceritakan bahwa ketika dia menempuh pendidikan kuliah magister di Australia pada suatu musim panas, hanya mahasiswa Indonesia yang tetap berpakaian rapi (bercelana jeans panjang), sedangkan dosen dan mahasiswa lain bercelana pendek ke universitas, mereka menyesuaikan kondisi cuaca yang sangat panas. Setelah melihat dirinya tampil aneh, akhirnya dosen saya mengikuti gaya berpakaian di saat kondisi cuaca yang panas. Tetapi ini Indonesia.