Nelayan di sekitar Tanjung Lesung

Secara umum cerpen-cerpen ini berisi sebuah kisah yang lahir dari sebuah kehidupan yang sederhana, lahir dari kekelaman, kekejaman dan ketidakadilan, walaupun begitu tokoh-tokohnya tetap berdiri kokoh untuk bertahan dan melawan.

Kumpulan Cerpen Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali karya Puthut EA berisi 15 cerpen, cerpen pertama yang berjudul sama dengan judul bukunya menampilkan sebuah cerita yang sulit ditebak bagian akhir alur ceritanya, semakin jauh dibaca semakin timbul rasa penasaran mengenai arah pembicaraan antar tokohnya. Latar ceritanya dibuat sederhana di stasiun kereta yang jika pembaca menggunakan imajinasinya, ia akan merasakan suasana sunyi di stasiun kereta api bahkan hingga seakan menghirup bau besi tua dari rel atapun kursi-kursi besi yang telah berkarat. Namun, menurut saya yang menjadi bahasan utama dalam cerpen Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali adalah sebuah prasangka/cap sebagai komunis sangatlah tidak adil bagi mereka yang tidak tahu menahu mengenai paham tersebut seperti yang dialami oleh tokoh Ia yang hidupnya sengsara karena ayahnya dianggap seorang Komunis. Aku teringat masa ketika masih anak-anak dari perbincangan keluargaku dulu (zaman orde baru) kudengar jika mereka yang orangtua atau keluarganya dianggap komunis tidak bisa menjadi pegawai negeri sipil seperti halnya yang dikisahkan oleh Puthut EA. Mereka yang dianggap “komunis” seperti orang yang terkena virus atau penyakit menular yang mematikan sehingga orang-orang menjadi takut mendekat kepadanya. Cerpen ini juga tidak lupa menampilkan keseharian mereka yang terpinggirkan seperti gelandangan yang tidur di stasiun dan buku karangan Pramoedya yang ditulis di pulau Buru, di sela-sela karyanya ia menyebut karya orang lain yang menurutku memang pantas mendapat promosi sebagai bacaan karena sudah mulai banyak dilupakan oleh generasi Milenial dan generasi Z. Mungkin dengan disebutkannya sulitnya mendapatkan buku ini ketika masa orde baru akan menimbulkan rasa penasaran kepada generasi sekarang.

Kehidupan yang bermasalah adalah kehidupan orang-orang yang di kota, mereka (orang-orang kota) hidupnya sangat bergantung dengan keadaan perekonomian berbeda dengan masyarakat yang hidup di desa yang jika terjadi krisis masih dapat mencukupi hidupnya dengan hasil lahan-lahan pertanian/perkebunan. Pada cerpen berjudul KAWAN KECIL, Puthut EA menampilkan kisah antara dua kehidupan yang saling berkontradiksi, kehidupan orang kota dan kehidupan orang desa. Di kisah ini dia menyampaikan kritiknya dengan sangat indah melalui percakapan dua orang sahabat mengenai kehidupan orang-orang kota tak terkecuali tentang orang-orang desa yang ber-urbanisasi ke kota dengan mengorbankan kehidupan orang-orang di desa. Tiap tahun kita dapat menyaksikan bagaimana urbanisasi ke kota-kota besar selalu terjadi, kata mereka jika ditanya alasan ke kota “saya ingin mengadu nasib, kata orang pekerjaan di kota banyak dan bisa membuat seseorang menjadi kaya”. Pemikiran yang sangatlah optimis dan positif tetapi dibalik pernyataan tersebut terbersit kata “mengadu nasib” ada dua kemungkinan beruntung atau buntung (celaka). Di balik kepergian mereka ke kota mereka harus mengorbankan harta yang dimilikinya, banyak diantara mereka menjual lahan-lahan pertanian yang telah dikelola turun-temurun. Sehingga, ketika ternyata di kota yang menghampiri mereka adalah “nasib yang celaka” maka mereka akan hidup nelangsa di tengah kota. Walaupun begitu kehidupan di desa juga tak lepas dari kritiknya, permasalahan media untuk membaca yang tidak ada. Puthut EA menyelipkan kata “CD Orisinal dari berbagai album Slank”, ini seperti sebuah kampanye yang edukatif kepada masyarakat yang sudah sepatutnya para penikmat musik dan buku membeli karya-karya yang orisinal bukan bajakan. 

Sumber :  Judul Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, Penerbit Buku Mojok, Tahun 2016






Dengan menulis, ingatan tentang kakek yang biasa aku panggil “Bapak Lato” akan tetap abadi. Aku tidak ingin jika ingatanku telah senja aku melupakannya walaupun cara berceritaku tidak sepandai dan sepuitis para penyair.
Aku tidak akan melupakan “Bapak Lato”, seorang laki-laki beruban yang selalu tersenyum ketika tersenyum nampak giginya yang rata dan putih. Suaranya tidak pernah terdengar keras. Ia sangat sayang kepada semua cucu-cucunya. Ketika aku dan sepupuku masih kanak-kanak ia selalu bercerita sebelum kami tidur, sesekali menyanyikan lagu-lagu perjuangan, maklum dia lahir ketika bangsa Indonesia  baru merdeka, tanggal dan bulannya tak pasti. Setiap aku bertanya kapan ia lahir, jawabannya “Dia lahir ketika gerombolan “gorilla” masuk ke hutan.” Gorilla ini merujuk kepada pemberontak-pemberontak ketika Indonesia telah merdeka.
Kakek mengajukan pensiun dini dari tugas sebagai guru sekolah pertama, keputusannya bukan karena lelah mengajar tetapi ia merasa sudah cukup pengabdiannya sebagai guru dan ingin mengurusi kebun warisan dari ayahnya. Ia selalu kelihatan bersemangat pergi berkebun, kakekku memiliki kebun yang jauhnya sekitar 5 km dari rumah. Dia pergi dengan mengendarai sepeda motor bermerek Suzuki Jet Cooled yang sudah tua juga bersama nenekku yang biasa kami panggil “Mama Aji”. Ketika aku dan sepupuku liburan dan mengunjunginya, kami sering diajak untuk ikut berkebun. Pengalaman berkebun dengan usia yang masih kanak-kanak tidak akan pernah terlupakan. Kami pergi dengan mengendarai angkutan umum. Sebelum berangkat kami mempersiapkan bekal dirantang bersusun, isinya nasi putih, sayur, ikan, dan sambal. Bekal ini akan menjadi makan siang kami di rumah kebun.
Setelah turun dari angkutan umum, kami harus berjalan melewati kuburan, lalu memasuki kebun-kebun orang lain beberapa ratus meter untuk mencapai bibir sungai, kami kemudian naik perahu kecil yang hanya muat untuk empat hingga lima orang saja namun ketika musim kemarau panjang, kami bisa berjalan kaki diatas pasir-pasir sungai dan kerang-kerang sungai yang telah mengering. Kakekku akan berteriak memanggil keponakannya yang tinggal diseberang sungai yang sedang menjala ikan untuk menyeberangkan kami. Sungai merupakan jantung kehidupan masyarakat, selain sebagai sumber makanan dan minum, airnya juga  dialirkan naik untuk irigasi kebun-kebun jika sedang kemarau.
Saat naik ke perahu rasa bahagia mengalahkan ketakutan jika perahu tenggelam, di umurku yang masih sangat muda tidak pernah terpikir hal-hal yang buruk padahal aku sama sekali tidak bisa berenang. Namun mungkin rasa percaya kepada pengayuh perahu dan kakekku, aku tetap merasa aman. Hingga sekarang umurku yang sudah 25 tahun, bau air sungai yang kecoklatan dan gemercik air masih sangat terasa di hidungku dan kulitku. Aku sangat suka menurunkan jari-jari tanganku ke air lalu mengusap-usap permukaan air yang berombak karena kayuhan. Jika air surut dan arus tidak deras, kami sering bermain air di sungai.
Sesampai di kebun, kami akan berganti pakaian dengan baju yang sudah lusuh, kakek akan mengambil parang untuk membersihkan kebun dari semak belukar yang tumbuh di sekitar pohon Kakao. Sedang aku akan bermain di kebun bersama sepupuku. Setelah semuanya bersih kami akan memetik buah kakao yang berwarna kuning, ciri buah yang sudah masak. Kakek akan memetik Kakao menggunakan bambu yang di ujungnya dikaitkan pisau sedangkan aku yang masih kanak-kanak bertugas memungut dan mengumpulkannya di sekitar rumah kebun, semuanya kulakukan dengan semangat sambil tertawa riang.
Buah Kakao yang telah terkumpul selanjutnya akan dipisahkan dari kulitnya, saat inilah yang aku tunggu bersama sepupuku. Daging buah Kakao sangatlah lezat dil lidah mungil kami, rasanya manis kadang-kadang bercampur kecut. Seandainya nenek tidak melarang kami, mungkin semua biji kakao akan aku lahap. Katanya “Jika makan terlalu banyak akan menyebabkan sakit perut”. Saat itu aku percaya saja, sakit adalah momok menakutkan bagiku apalagi jika memikirkan dokter membawa jarum suntik yang panjang dan siap ditancapkan di pantatku.
Suara adzan dzuhur akan menghentikan aktifitas kami, kakek dan nenekku akan shalat. Setelah itu kami akan makan bersama di dalam rumah kebun yang sangat sederhana, bangunannya seperti rumah panggung namun ukurannya lebih kecil, tiang penopang dan dindingnya terbuat dari kayu, potongan bambu-bambu kering disusun menjadi lantai, atapnya dari daun kelapa yang disusun sehingga bisa menahan air ketika hujan, rumah itu terletak di sudut kiri kebun, dekat dengan jalan.
Momen-momen makan di kebun masih teringat jelas di ingatanku walaupun itu sudah lama, kami akan diberikan piring yang berisi lauk ikan atau telur, sambal, aku akan mengambil sayur sendiri karena dulu aku tidak terlalu suka sayur, aku lebih suka air putih menjadi kuah nasi.
Sehabis makan, kami beristirahat dan kakek akan bercerita tentang banyak hal mengenai keluarganya, perjuangan dia untuk sekolah, cerita-cerita rakyat, dan pengalamannya ketika mengajar bahasa Jepang dan Inggris di sekolah. Aku sangat tertarik dengan semua yang diceritakannya kepadaku. Waktu seumuran aku, dia berjuang untuk bisa bersekolah, ia meninggalkan rumah dan tinggal di rumah seorang sanak keluarganya agar bisa sekolah. Dari tiga bersaudara, hanya dia yang bersekolah. Kakak dan Adiknya memilih untuk berkebun seperti kebanyakan orangtua mereka.
Jika berangkat sekolah ia harus berjalan kaki dan bersepeda puluhan kilometer, kadang jika hujan bajunya yang basah ia tetap kenakan hingga kering di jalan. Kisahnya sangat mendebarkan dan membuat saya sangat tertarik, berbeda dengan masa kecilku yang hanya berjalan beberapa meter untuk bersekolah, itupun kadang aku berpura-pura sakit perut ketika malas masuk sekolah. Perjuangannya yang gigih membuat ia bersekolah hingga mendapat sarjana muda kala itu.
Sehabis beristirahat, kami akan memasukkan biji Kakao ke dalam karung untuk dibawa pulang dan dikeringkan di sekitar rumah. Sebelum pulang, kami berkunjung ke rumah keponakan kakek yang tinggal tidak jauh dari kebun, di sana kami bisa melihat ulat yang menghasilkan benang sutera. Aku sangat suka mengelus-elus kulit ulat sutera yang sangat halus. Keponakan laki-laki kakek sangat pandai membuat mainan tradisional, dia sering membuatkan aku gasing dan layangan, pernah aku sama kakakku dibuatkan layangang berbentuk burung merak yang sangat besar dan cantik dibadannya diberi pita kaset sehingga bisa mengeluarkan suara yang terdengar indah ketika mengangkasa tertiup angin. Jika aku menerbangkannya di sawah belakang rumah kakek, anak-anak disekitar rumah akan berkumpul menonton dan mengagumi layangan kami.
Hari Selasa dan Sabtu merupakan hari yang sangat ditunggu bagi para petani, peternak ayam, pengemudi bendi, tukang becak, kuli pasar, penjual ikan, penjual pakaian, penjual emas, penjual obat keliling yang selalu menampilkan sulap, dan manteri pasar termasuk kakekku, aku dan cucunya yang lain karena hari itu adalah hari pasar yang hanya digelar dua kali dalam sepekan. Kakek akan membawa Kakao kering kepada tengkulak di pasar, setelah pulang ia akan membagi-bagikan uang sebagai imbalan karena membantunya berkebun. Kala itu aku bersama sepupuku merasa sangat senang lalu ke pasar belanja mainan, kadang aku menabungnya untuk membeli perlengkapan sekolah.
Semua ceritaku di atas sangat berkesan hingga masih terpatri dalam tiap ruang-ruang di rongga dadaku. Setiap mengingatnya, aku ingin kembali ke masa itu walaupun itu tidak mungkin terjadi. Aku sangat hormat kepada “Bapak Lato” dan mematuhi segala keinginannya termasuk ketika melarang aku ke Pulau Jawa untuk melanjutkan kuliah walaupun kedua orangtuaku telah setuju, aku percaya dengan segala keputusannya. Mungkin karena itu kala kuliah aku-pun dijatah uang saku tiap bulan dari gaji pensiunannya yang tak seberapa. Kakek dan nenek  juga sering kali datang ke ibukota provinsi tempat aku kuliah hanya untuk mengurusi aku. Jika ia sakit aku mengantarnya ke rumah sakit, pernah suatu kali waktu kami ke rumah sakit. Dokter yang memeriksanya menyarankan ia agar di operasi agar penyakitnya bisa diangkat tetapi dengan kata dan nada yang halus namun tegar ia berucap bahwa kalaupun ajalnya akan tiba dia telah siap dan bercerita jika teman-teman kala ia muda telah mati lebih dulu. Saat itu aku salut dengan ketegaran hati yang dimiliki kakek, dia tidak seperti orang-orang kaya yang kadang berobat keluar negeri hanya untuk menunda kematian seakan mereka takut akan kematian.
Momen yang juga tidak terlupakan adalah ketika setiap awal bulan kakek akan menjemputku di rumah lalu berdua naik becak ke kantor pos untuk mengambil gaji pensiunnya. Kami duduk di kursi yang berjejeran di halaman kantor pos bersama para pensiunan guru, pegawai daerah, dan veteran yang juga ditemani cucu-cucunya menunggu nomor antrian kami dipanggil. Sepulang dari kantor pos, kakek akan mentraktirku makan dan memberiku uang saku lalu naik becak lagi pulang ke rumah.
Semua momen di atas tidak akan terulang lagi, karena kakekku telah memasuki masa senja mungkin umurnya telah lebih 70 tahun sekarang ia-pun agak  pikun, kebun Kakao tidak terurus lagi ketika kakek merasa tidak kuat lagi berkebun dan tidak ada anaknya yang melanjutkannya, kebunnya pun sekarang telah berganti menjadi tanah persawahan yang disewakan ke orang lain, sungai yang dulu tenang itu seringkali mengamuk dan meluap menggagalkan panen petani, anak-anak di sekitar rumah kakek telah tumbuh menjadi lelaki dewasa sedangkan anak jaman sekarang lebih suka bermain game dengan gadgetnya sebagian suka nonton sinetron di tv. Tanah persawahan di belakang rumah kakek-pun telah berubah menjadi perumahan yang sesak. Bendi dan becak telah hilang dari jalan-jalan raya, mungkin sekarang ini hanya bisa dijumpai di buku-buku atau museum kendaraan.


Es kopi Kong Djie di pasar lama Tangerang

Judul               : Cinta di Dalam Gelas
Penulis            : Andrea Hirata
Penerbit          : Penerbit Bentang
Cetakan           : Kesembilan, Februari 2017
Kota                : Sleman, Yogyakarta

Sinopsis :

Novel Cinta di Dalam Gelas ini adalah lanjutan kisah dari Novel Padang Bulan. Seperti dalam novel sebelumnya yang memiliki dua tokoh utama protagonis namun yang membedakannya adalah novel pertama pada awal kisah menceritakan mengenai tokoh Enong dan selanjutnya kisahnya lebih berputar tentang kegelisahan Ikal yang ditinggal oleh A Ling yang disertai desas-desus bahwa ia akan menikah dengan Zinar. Sedangkan, pada novel kedua ini kisahnya berputar tentang kisah Enong yang menegakkan martabatnya dengan cara membuktikan dirinya bahwa ia bisa lebih baik daripada mereka yang kadang meremehkannya. Di sini juga pembaca dapat melihat sebuah kerja keras dan perjuangan dari seorang perempuan yang dipandang tidak boleh memainkan permainan laki-laki hingga ia bisa mengalahkan lawan-lawannya (laki-laki).

Pada awal novel di buka dengan kebahagian Ikal yang batal merantau ke Jakarta karena lebih memilih tinggal bersama kekasinya  A Ling walaupun ia hanya bekerja sebagai pelayan Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi, yang tak lain pemiliknya adalah pamannya sendiri.

Sedangkan, kisah tokoh Maryamah diawali dengan ketulusan seorang kakak perempuan yang melepas adik-adiknya menikah lebih dahulu.  Akhirnya Enong terpaksa menikah dengan seorang lelaki yang bernama Matarom karena ia tidak ingin melihat ibunya yang sakit selalu bersedih. Namun, pernikahan Enong tidak selancar ketiga adiknya, ia meminta diceraikan karena ada seorang perempuan hamil yang mengaku sebagai istri Matarom. Lelaki bernama Matarom terkenal sebagai juara catur 17 Agustus sebanyak dua kali berturut-turut.

Kebiasaan lelaki Melayu adalah gemar berlama-lama di warung kopi, dan yang mereka lakukan selain minum kopi, menjelek-jelekkan kinerja pemerintah adalah main catur. Di warung kopi lelaki korban PHK perusahaan timah menghabiskan waktu dengan menyeruput kopi sambil mengisahkan dan membangga-banggakan jabatan terkahirnya di Maskapai timah sebelum gulung tikar. Lelaki Melayu lebih juga menganggap bahwa kopi di warung lebih enak daripada kopi buatan isteri mereka.

Tidak semua kehidupan Maryamah berkutat dalam gelapnya kesedihan, ada juga kisah bahagia seperti ketika ia di wisuda. Maryamah akhirnya lulus dalam kursus bahasa Inggris dengan menempati peringkat kelima, kelulusan Maryamah sangatlah spesial bagi direktur kursus karena sebenarnya murid-murid mereka kebanyakan murid SMA, hanya Maryamah murid yang telah dewasa. Ia pun diminta untuk naik ke podium menerima piagam dan kesempatan pidato. Dengan ragu Maryamah meraih mikrofon mengucapkan tiga buah kata “Sacrifice, honesty, freedom.”

Novel cinta di dalam gelas juga seperti sebuah jurnal penelitian mengenai hubungan antara perilaku laki-laki Melayu dengan rasa, dan takaran kopi serta cara mereka menyeruput kopi.  Menurut lelaki Melayu, mereka yang sama sekali tidak minum kopi adalah penyia-nyia kehidupan. Selain itu, diceritakan juga berbagai karakter pemain catur yang saling berhubungan dengan cara mereka bermain catur.

Inti cerita dalam novel ini adalah perjuangan Enong atau Maryamah yang ingin menaklukkan mantan suaminya Matarom di papan catur sebagai juara kejuaraan catur 17 Agustus walaupun ia sebelumnya tidak pernah bermain catur. Dengan di bantu Ikal, Detektif M. Nur, Jose Rizal, Ratna Mutu Manikam, Selamot, Preman Cebol, Lintang, Chip, dan terutama grand master catur Ninockha Stronovsky, permainan catur Maryamah berkembang hingga ia bisa menguasai taktik Guioco Piano ciptaan juara dunia catur Anatoly Karpov sehingga dia dijuluki Maryamah Karpov.

Melalui pertandingan catur Maryamah bertemu orang-orang dengan kebaikan dan keburukannya masing-masing yang pernah bertemu dengannya dan juga bertemu Tarub lelaki yang pernah membuat ia jatuh hati.


Pementasan teater di Taman Ismail Marzuki
Judul               : Padang Bulan
Penulis            : Andrea Hirata
Penerbit          : Penerbit Bentang
Cetakan           : Kesebelas, Februari 2017
Kota                : Sleman, Yogyakarta

Sinopsis :

Novel Padang Bulan merupakan novel pertama dari dwilogi Padang Bulan itu sendiri. Dalam novel ini terdapat dua kisah yang berlainan oleh dua tokoh utama yang berbeda, latar, dan alur kisah yang berbeda pula namun kedua tokoh itu akan bermuara dalam satu alur cerita ketika mereka dipertemukan oleh nasib.

Kisah dalam novel ini dibuka dengan latarbelakang kehidupan tokoh utama yaitu Enong, seorang anak perempuan yang hidup dalam keluarga yang sederhana, ayahnya seorang penambang timah tradisional dan ibunya, perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk mengurusi keperluan rumah tangga dan anak-anaknya. Namun, Zamzami sangat menyayangi anak dan istrinya itu harus mati tertimbun tanah tambang.

Enong seorang anak perempuan yang tumbuh dengan ceria dan cerdas, ia selalu menjadi juara kelas. Dia sangat menyukai pelajaran bahasa Inggris, ia juga bercita-cita ingin menjadi guru bahasa Inggris. Zamzami sangat bahagia dan bangga anaknya memiliki cita-cita menjadi guru bahasa Inggris. Ia kemudian membanting tulang bak kuda untuk membelikan anaknya sebuah kamus bahasa Inggris satu miliyar , dengan kerja keras menambang, menjual air nira, dan menjual kerang, akhirnya Zamzami dapat membelikan Enong kamus bahasa Inggris satu miliyar. Enong pun sangat bahagia karena mendapat hadiah tersebut, ia bahkan tak mampu menahan tangis ketika membaca sebuah tulisan dalam buku “Buku ini untuk anakku, Enong. Kamus satu miliar kata. Cukuplah untuk sampai bisa menjadi guru bahasa Inggris seperti Ibu Nizam. Kejarlah cita-citamu, jangan menyerah, semoga sukses. Tertanda, Ayahmu.”

Kebahagian yang meliputi Enong tiba-tiba berganti menjadi kisah-kisah pilu yang harus dilewati oleh seorang anak perempuan yang mengubur cita-citanya karena menjadi tumpuan kehidupan bagi ibu dan adik-adiknya. Ia harus rela keluar dari sekolah yang ia sukai lalu berganti menjadi pendulang perempuan pertama dalam sejarah tambang timah. Walaupun ia telah menjadi pendulang timah namun, semangat untuk belajar bahasa Inggris-nya tidak pernah pudar, di sela-sela istirahat ia tetap membuka-buka kamus yang diberikan oleh ayahnya.

Kemudian, di latar lain dalam novel menampilkan kisah seorang bujang yang sudah hampir lapuk bernama Lintang, namun ia sebenarnya memiliki pujaan hati yang bernama A Ling. Mereka saling mencintai tetapi ayah Lintang tidak merestui hubungan mereka. Karena hal itu, Lintang ingin mengajak A Ling lari ke Jakarta lalu mereka bisa hidup bahagia berdua. Namun, rencana mereka batal karena A Ling dikabarkan dekat dengan seorang pria Tionghoa lalu melalui gosip di warung kopi pria itu telah melamar A Ling. Sejak saat itu A Ling pun tidak pernah terlihat lagi di rumahnya, ia menghilang entah ke mana. Lintang pun berniat menemui Zinar untuk menanyakan keberadaan A Ling, ketika dia sampai ke toko Zinar ia melihat seorang sosok pria yang gagah, postur atletis, dan senyum yang ramah kepada pelanggan termasuk pada dirinya. Akhirnya ia merasa kalah dan mengakui bahwa Zinar memang lebih pantas memproleh cinta A Ling.

Di tengah kepedihan yang dirasakan oleh Lintang, ia tidak sengaja bertemu dengan Enong di kantor pos. Lintang tertarik melihat kamu 1.000.000.000 kata yang dipegang oleh Enong ketika mencari kata-kata yang Enong tidak ketahui artinya. Dengan dibantu oleh Lintang akhirnya Enong dapat mengetahui arti kata tersebut. Pertemuan itu berlanjut dengan obrolan panjang tentang kesukaan Enong terhadap bahasa Inggris.

Lintang yang telah sakit hati kemudian berkeinginan berangkat ke Jakarta melamar pekerjaan dan ditemani Detektif M. Nur yang ingin kursus teknisi antena parabola. Mereka berdua berangkat ke Tanjong Pandang ditemani Enong yang ingin mendaftar kursus bahasa Inggris.

Namun, pagi hari sebelum kapal Mualim Syahbana berangkat ke Jakarta, Lintang membatalkan niatnya karena ingin menantang Zinar bermain catur, sedangkan Detektif tidak berangkat karena ia tidak rela meninggalkan Jose Rizal.

Akhirnya, Lintang bertekad membuktikan bahwa ia lebih unggul daripada Zinar pada perayaan 17 Agustus-an, namun yang terjadi adalah kekalahan demi kekalahan yang Lintang terima atas Zinar. Namun, kekalahan tersebut tidak menyurutkan niatnya ingin membuktikan bahwa ia lebih baik daripada Zinar. Lalu muncul ide gila Lintang bahwa perempuan menyukai laki-laki yang bertubuh tinggi maka ia kemudian membeli sebuah alat untuk menambah tinggi badannya, namun yang terjadi adalah kejadian lucu yang  membuat ia dikira ingin bunuh diri oleh Enong dan Detektif M. Nur karena frustasi ditinggalkan oleh A Ling.

Ia kemudian sekali lagi memutuskan lagi untuk bepergian ke Jakarta melamar pekerjaan setelah berbagai kejadian-kejadian memalukan yang menimpanya, namun suatu sore ketika ia merenung di jendela, Lintang melihat A Ling berdiri di pekarangan rumahnya. A Ling menjelaskan bahwa beberapa hari ini ia sibuk membantu sahabat pamannya membuka toko dan menyiapkan perkawainannya, lalu A Ling memberikan undangan untuknya dan ayahnya agar hadir di acara pernikahan Zinar. Semua hal konyol yang menimpa Lintang karena kesalahan dari Detektif M.Nur ketika mendengar gosip di warung kopi.


Tokoh Dalam Novel Padang Bulan :
1.       Lintang
2.       A Ling
3.       Enong Maryamah
4.       Ichsanul Maimun bin Nurdin Mustamin (Detektif M.Nur)
5.       Jose Rizal (Seekor Merpati Pos)
6.       Zinar (seorang pria Tionghoa yang gagah, sopan, olahragawan, dan segala yang dimilikinya mungkin lebih baik daripada Lintang)


Pasar modern Tangerang
Judul              : Pasar
Penulis           : Kuntowijoyo
Penerbit         : Mata Angin (Cetakan Ketiga, 2016)

Novel Pasar selesai ditulis oleh Kuntowijoyo di Yogyakarta, 8 November 1971. Kemudian cetakan pertama novel pasar diterbitkan pada Maret 1995. Kisah dalam novel Pasar berputar pada latar tempat yaitu Pasar, dan para tokohnya juga adalah mereka yang memiliki hubungan dengan pasar. Tokoh utama di novel Pasar ini adalah Pak Mantri, yaitu seorang kepala Pasar, ia digambarkan sebagai tokoh yang sangat bijaksana sejak dalam pikiran, namun ia karena ketuannya, terkadang ia egois dan menyalahkan orang lain terhadap kekacauan yang terjadi disekitarnya. Kesadaran-kesadaran baru dan pengalaman membuat ia akhirnya menyadari bahwa kepentingan orang umum lebih baik, walaupun ia harus mengorbankan kesenangannya. Ia juga telah mulai percaya dengan generasi muda yang akan mewarisi masa depan, namun ia tekankan bahwa manusia itu harus tahu sastra.
Setelah selesai membaca novel Pasar, saya mencoba mengungkapkan kutipan-kutipan dalam novel Pasar ;
  • Ketahuilah. Juru penghibur yang sejati ialah diri kita sendiri. Makna hidup itu tidak ada pada yang sekarang tetapi pada yang kemudian. Memang, mungkin sekarang kita susah. Itu hanya sementara. Kesusahan dan kesukaan lenyap dalam hidup kita. Keduanya adalah warna yang berlainan dari satu hal, yaitu hidup kita. Ingatlah, ada malam ada siang. Tetapi keduanya hari. Malam hari dan siang hari adalah urutan saja. Sesudah malam, siang akan datang. Mengapa engkau khawatir? Kesusahan adalah karena pikiran kita sendiri. Kalau kita berpikir bahwa yang menyusahkan itu juga membahagiakan, kita akan menyerah. Mungkin sekarang engkau disusahkannya., tetapi kemudian, setelah dalam jangka yang panjang, engkau tahu bahwa engkau sebenarnya berbahagia pada waktu dulu itu. Nah, ada rahasia yang kita tak tahu. Hidup penuh rahasia. Maka tenanglah pikiranmu.
  • Kerjakanlah apa yang bisa kau kerjakan. Jangan serakah. Apa yang kita cari? Sesuap nasi untuk hidup. Hidup bukan untuk makan, tetapi makan untuk hidup. Mengapa engkau gelisah? Karena engkau ingin yang lebih dari yang kau bisa dapatkan. 
  • “Hidup kita pusatnya di sini,” Pak Mantri menunjuk jantungnya. “Hati. Yaitu bagaimana engkau memahami. Kita punya akal. Kita gunakan akal untuk mencari uang, untuk cari pangkat. Tetapi ketahuilah itu baru syarat bagi hidup. Jangan campur adukkan antara pelengkap hidup dan hakikatnya. Yang penting rasa. Rasa itu di sini letakknya. Pusat engkau bernapas. Pusat peredaran darahmu. Kalau kau takut engkau gemetar, di situlah rasa. Kalau engkau senang dia berdebar, sebab di situlah rasa. Kalau kebahagian itu akal ,tentulah orang sedikit saja yang berbahagia, dan yang tidak punya akal boleh membunuh diri. Tidak. Dan untuk memiliki ketajaman rasa, itu sulit-sulit mudah. Mempertajam akal ada alatnya. Engkau bisa ke sekolah belajar berhitung dan ilmu alam. Tetapi memperdalam rasa? Uh. Hanya dengan meresapkan hiduplah jalannnya. Beruntunglah, karena rasa itu bukan milik orang pandai saja atau orang kaya saja. Ia dapat dimiliki oleh siapa saja yang mau mencari. Mudah-mudah sukar? Ya. Kalau engkau tidur, lenyaplah akalmu. Tetapi engkau tidur pun rasamu masih sadar. Sebab, ia tak pernah lengah. Engkau dapat takut dalam mimpi, dapat senang dalam tidur. Itu rasa.Tetapi coba. Dapakah engkau menghitung-hitung pendapatan karcis pasar dalam tidur? Tentu tidak. Rasa selalu terjaga. Ia adalah milik kita yang abadi. Bahkan ia akan kita bawa sesudah mati. 
  • Sekarang apakah rasa itu dapat kita kuasai atau tidak. Itu soalnya. Berbahagialah mereka yang dapat menguasai rasa. Semua orang punya rasa, seperti semua orang punya napas. Hanya sedikit orang yang mempunyai kekuatan untuk menguasai napasnya. Begitu juga rasa. Semua punya, tetapi sebagian dikuasai rasa, sebagian menguasai rasa. Engkau mesti masuk orang yang menguasai rasa itu. Rasa harus dikuasai dan ditajamkan. Banyak orang membunuh rasa dengan macam-macam cara. Dengan mengejar uang, mengejar pangkat, mengejar kesenangan. Kekayaan, kedudukan, kekuasaan, kepandaian, dapat mematikan rasa. Mati rasa berarti hilang kemanusian kita. Hidup ialah bagaimana kita merasakan sesuatu. Bukan bagaimana kita memiliki kemewahan, kekuasaan, kekayaan.” Sebentar ia menghirup napas. Panjang-panjang, memandang keluar jendela. “Sekarang ini orang mengatakan zaman maju. Tetapi kemajuan itu? Maju akalnya? Maju kemewahannya? Orang bilang dapat menguasai alam. Siapakah yang bisa mengatakan telah dapat menguasai dirinya? Kebanyakan kita masih dikuasai oleh nafsu. Betul, nafsu ialah bagian kita yang tak tepisahkan, tetapi hendaknya ia kita kuasai. Perang? Keonaran? Perkelahian? Dengki? Srei? Jail? Methakil? Itulah nafsu. Nafsu mesti tunduk pada akal, dan akal mesti tunduk kepada rasa. Kalau tidak demikian, kita akan menjadi mesin. Mesin pencari uang, mesin pencipta kekuasaan, mesin penetas pangkat. Akal itu alat kita yang buta. Ia tidak mengenal baik-buruk, tidak menimbang tetapi bekerja. Itu bukan salahnya. 
  • Ketahuilah, orang itu tidak hidup sendiri, tetapi bersama orang-orang lain. Kita mesti mengenal hak-hak dan kewajiban. Ada hak kita, ada hak orang lain. Ada kewajiban kita, ada kewajiban orang. Masing-masing ada tempatnya. 
  • Kalau engkau kaya, jangan sekali-kali mengagungkan kekayaan. Ketahuilah kekayaan tidak abadi. Sekarang engkau kaya, bisa saja besok pagi engkau miskin. Sekaya-kaya orang di sini masih kaya Nabi Sulaiman. Harta itu titipan, nyawa itu pinjaman. 
  • Kita jangan mendendam. Sebab, semua orang akan memungut hasil perbuatannya sendiri. Kita tidak usah mendoakan apa-apa. Semuanya akan kejadian. Yang kaya akan miskin, yang pangkat akan hilang. Itu sudah digariskan. Kita hanya bisa menantinya saja. Kejahatan akan bertuah kejahatan pula. 
  • Semua orang punya salah. Yang tua karena ketuaanya, yang muda karena kemudaanya.
  • Kehormatan itu tidak bisa dibeli dengan uang, ketahuilah. Orang boleh berbeda dalam pangkat, kekayaan, umur, namun yang menentukan rendah-mulianya ialah budi.
  • Kesukaran-kesukaran dunia itu sementara, ia tahu betul. Sepedih-pedih siksa dunia, masih pedih siksa neraka, itu juga ia paham. Setelah dipikir-pikirnya, tidak ada alasan untuk susah. Ia pun tersenyum juga pada hari itu, sekalipun terlambat. 
  • Kejujuran ialah modal hidupnya. Minta kepandaian? Diakuinya ia bukan orang cukup makan sekolah. Kekayaan? Ia bukan pedagang atau petani bertanah. Kejujuran? Itulah satu-satunya yang bisa diberikan. Selebihnya ialah kesetiaan. Lebih dari itu tidak bisa diberikannya. 
  • Setiap orang akan mati. Dan setiap orang mati tak lagi bisa berjalan. Apakah ia akan merangkak sendiri ke kubur? Tidak. Tentu juga orang-orang lain yang akan membawanya ke sana. Maka, sepatutnya ia mengucapkan terima kash dengan berbuat sebaik-baiknya kepada mereka. Sekarang ia mengaku bersalah. Dan mengakui kesalahan lalu memperbaikinya sungguh perbuatan terpuji. 
  • Rumusnya adalah kebahagian bagi orang banyak. Sesuaikanlah kepentinganmu dengan kepentingan yang lebih besar. Inilah yang diperbuat Arjuna ketika menghadapi Resi Bima. Tidak salah lagi, pahlawan itu mencintai musuhnya, yang juga moyangnya. Tetapi lenyapkanlah dirimu bersama tujuan yang mulia. Muliakanlah dirimu bersama dengan kepentingan manusia. Mungkin itu menyiksamu. Menyedihkanmu. Menyengsarakanmu. Tetapi apa artinya setitik air dalam samudra yang luas. Dan siapakah sangkamu sang Adipati Karna itu? Ia tahu, Pandawa itu saudaranya sendiri. Tetapi ia memihak Kurawa, padahal sudah jelas bahwa ia akan hancur? Mengapa? Ia seorang pemberani. Satria itu menempatkan dirinya sebagai bagian dari warga yang hidup di Astina. Ia qdalah bagian dari Negara itu. Ia hanya satu bagian yang harus ikut dalam arus besar yang hidup di Astina. Ia hanya satu bagian yang harus ikut dalam arus besar yang disebut Perang Baratayuda. 
  • Kita punya tiga macam nafsu. Nafsu amarah ialah yang membuatmu angkara, mendorong ke perbuatan jahat. Nafsu lawamah, ialah memberi pertimbangan, berada di tengah-tengah, bergoyang seperti timbangan. Dan nafsu mutmainah ialah menuntunmu ke kebaikan. Orang yang sempurna ialah orang yang menguasai nafsu amarahnya, dan menuruti pertimbangan baik dan nafsu lawamah. Kita mesti mempunyai nafsu mutmainah . Dan manusia sempurna ialah manusia sejati, ialah nafsu mutmainah, ialah insan kamil, ialah cahaya sebesar lidi yang memancar di tengah angkasa. Tidak membenci ketika difitnah tdak menyerang ketika diancam. Mengapa ragu-ragu. Benar akan besinar, jahanam akan tenggelam. 
  • Menurut Pak Mantri, dunia itu tidak tetap, berubah. Siapa di atas, suatu kali akan di bawah, dan sebaliknya. Tunggulah saja, dan jangan mempercepat waktu. Sebab, waktu tak bisa diajukan atau diundurkan. 
  • Dunia ini akan damai. Yaitu, kalau hatimu damai. Sebaliknya, kalau hatimu rusuh, dunia akan rusuh juga. Soalnya ialah bagaiamana engkau merasa, bukan bagaimana yang sebenarnya terjadi. Rasa ialah kunci dari kebahagian. 
  • Ketika engakau gembira, ingatlah pada suatu kali kau akan mendapat kesusahan. Apalagi menertawakan nasib buruk orang lain, Nak. Jangan, sekali-kali jangan. Orang yang berpangkat harus berbuat baik, suka menolong. Kalau ada yang kesusahan, harus bisa membantu. Jangan malah menertawakan. Kalau tidak bisa membantu, menyesallah. Dan berjanjilah suatu kali kau akan membantu, sebaliknya ikutlah berduka cita atas kemalangan orang lain. Engkau boleh tertawa apabila saudaramu beroleh kesukaan. Bersusahlah bersama orang yang susah, bergembirahlah bersama orang yang bergembira. 
  • Mungkin kita suatu kali berlawanan dengan orang. Lawan ialah perbuatannya. Bukan orangnya. Prinsipnya ialah cinta. Ketahuilah bahwa sebenarnya dunia itu memang berpasangan. Misalnya kita nyatakan bahwa kemiskinan ialah musuh kita. Apa artinya pertama kita mesti melawannya. Menghilangkan kemiskinan, bukan menghinakan orang-orang melarat. Kita mesti berbuat sesuatu. Kita menghargai orang miskin, yang karena merekalah kita tahu bahwa kita kaya dan hidup enak. Miskin kaya hanyalah kebetulan. Kita tidak ditanya dulu ketika kita lahir apakah akan jadi kaya atau miskin. Maka, kalau kita kebetulan kaya kita harus tolong yang miskin. Kaya dan miskin. Keduanya adalah keadaan hidup kita. Hidup itu indah. Meskipun engkau menderita, percayalah hidup itu menyenngkan. Orang bahagia ialah yang tersenyum dalam senang atau susah. Cintailah hidupmu.




“Perempuan mana yang suka dibandingkan dengan perempuan lain, apalagi tentang kencantikan”, katanya dengan muka yang merajuk.
Aku hanya memalingkan muka menatap langit malam itu yang sangat hitam, sepertinya Tuhan memilih kain hitam untuk menutupi bumi karena manusia ketika diberikan langit yang biru dengan berhiaskan  gumpalan-gumpalan awan putih namun dasar manusia mereka malah asik menggantinya dengan asap-asap dari cerobong-cerobong pabrik, kendaraan, bahkan dari hasil pembakaran hutan-hutan untuk dijadikan perkebunan. Kenyataan pahit yang harus ditanggung oleh manusia.
Ketika kembali kulihat ke dalam matanya, aku menemukan titik-titik air yang bersembunyi di kelopaknya. Kalian harus tahu, aku mencintai dia bukan karena dia tetapi karena bola matanya. Mata itu selalu bersinar dengan berpendar warna hijau, setiap aku memandang matanya seakan melihat hamparan rerumputan hijau yang menari-nari mengajak aku tidur selamanya. Aku pernah berkata kepadanya dengan tatapan yang serius, “kalau aku mati, aku ingin bersemayam dalam bola matamu”.
Ia hanya membalasnya dengan terkekeh, “aku tidak ingin seorang perayu bersemayam dalam mataku”. Kemudian, ia melanjutkan dengan tatapan  yang membuat aku seperti terserang penyakit Hipoksia, “Tapi aku akan mencongkelnya untukmu sebagai kenang-kenangan jika kamu berselingkuh dengan perempuan lain dan ketika aku menikahi laki-laki lain.”
“Kamu tidak yakin dengan aku”. setelah menyeruput Kopi Toraja hitam kesukaanku.
“Tidak ada kisah sepasang kekasih yang berakhir happy ending, kalaupun ada berarti mereka menyimpan banyak kebohongan dibawah ranjangnya.”
Kami berdua bertemu di salah satu café tempat di mana kami ketika pertama kali bertemu, dia suka dengan suasana café yang tak beratap, ia suka melihat bintang, katanya “setiap mereka yang mati dibunuh, diperkosa, atau aktivis-aktivis yang hilang menjelma menjadi bintang”, sedangkan aku suka menyeruput secangkir Kopi Toraja sambil memandang bola matanya yang berwarna hijau.
Kubisikkan ke telinganya,
 “Aku ingin bercerita pengalamanku selama di salah satu daerah di pulau Kalimantan.”
Ia menoleh lalu berkata, “kamu terlalu banyak bercerita dan menyeruput kopi”.
Aku lalu memulai ceritaku tentang Kalimantan yang pernah aku baca dan dia baca di buku-buku pelajaran ketika masih sekolah dulu. Ia hanya mendengarkan, sesekali ia memprotesku karena aku lebih mirip guru sejarah bukan seorang pendongen handal yang mampu membuat penontonnya duduk berjam-jam karena rasa penasaran. Pernah suatu hari aku membeli tiket untuk menonton pendongen namun aku kecewa karena akhir ceritanya happy ending, aku lebih suka manusia memandang kehidupan ini dengan sisi kepedihannya agar terbiasa dengan rasa sakit.
Sore itu aku tiba dengan pesawat dari Jakarta, kulihat di sekeliling luar jendela pesawat yang masih dibasahi oleh embun, terlihat betapa indahnya pertemuan garis-garis yang membentang sepanjang muara Sungai Kapuas dan Laut Cina Selatan, dua hal yang berbeda yang tidak akan bercampur namun karena hal itu tercipta garis-garis abstrak yang mungkin akan ditawar mahal oleh kolektor lukisan.
“belikan aku juga lukisan seperti itu biar seperti ibu-ibu pejabat yang hanya membeli lukisan mahal untuk hiasan ruang tamunya, makna atau alasan pelukis menuangkan perasaan ke atas kanvas nomor kesekian yang terpenting namanya tercatat dalam daftar nama pembeli lukisan di galeri-galeri pelukis tersohor di negeri ini.” mulutnya yang mungil terus saja berisi nada-nada minor.
Perjalananku selanjutnya melewati jalan-jalan beraspal menuju ke salah satu daerah, aku menoleh kiri-kanan selama perjalanan aku menantikan menjumpai pohon-pohon raksasa yang tumbuh di lebatnya hutan Kalimantan,sesekali aku melihat langit, mungkin aku juga bisa menjumpai burung Enggan yang menjadi mascot Kalimantan, tetapi yang ada hanya hamparan langit yang biru dan awan mengkilat-kilat karena pantulan cahaya matahari. Berjam-jam aku menantikan dua hal itu, namun seperti kisah-kisah yang bergendre sedih, selalu berujung dengan rasa sakit.
Di dalam kepalaku, segalanya mulai mempertanyakan tulisan-tulisan yang pernah aku baca, juga kecurigaanku terhadap guru yang pernah mengajarkan mengenai bentang alam Kalimantan dan semua margasatwa yang hidup di dalamnya. Inikah sebuah kebohongan yang terstruktur yang dibuat oleh pemerintah untuk menidurkan rakyatnya, dengan hanya menampilkan segala hal yang baik  namun mengubur segala yang buruk. Apakah mereka mencuci otak kami sejak kanak-kanak dengan berbagai doktrin yang ia sebarkan, dengan janji mimpi indah tentang masa depan akan dunia yang lebih modern. Ia seperti sengaja melupakan kerusakan yang telah diciptakannya untuk menjadi negeri yang modern. Pernah aku membaca surat kabar sambil menyeruput kopi hitam di café ini beberapa bulan yang lalu, aku menggigil membaca tulisan-tulisan yang berisi pembangunan pabrik-pabrik, pembukaan lahan perkebunan, pengerukan tanah tambang sebagai alasan untuk lebih mensejahterahkan rakyatnya. Rasa kopi malam itu tidak pahit, namun asin dan berbau amis seperti darah manusia, akupun hanya menyeruputnya beberapa kali.
Rasa penasaranku membawa aku berjalan-jalan untuk menyaksikan secara dekat hutan-hutan yang telah berganti rupa menjadi perkebunan kelapa sawit yang berjejer rapi seperti garis-garis dalam buku tulis. Semuanya tampak tenang, hanya suara hembusan angin yang terbawa dari laut Cina Selatan yang mendengung dalam gendang telinga, tak lupa ia menerbangkan debu-debu dari tanah yang gersang. Seseorang memberitahuku, “dahulu tanah-tanah di sini rawa gambut, lahan-lahanya basah”.
“Bagus dong, sekarang lahannya sudah menjadi lahan produktif.”
“Hmm, kamu tahu lahan gambut itu mampu mengurangi pemanasan global karena menahan gas-gas rumah kaca.” Lanjutnya dengan raut muka yang masam.
“Lalu, kenapa masyarakat sini mendukung pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit?”
“Karena mereka seperti kamu.” Ia kemudian berlalu menuju setapak-setapak perkebunan kelapa sawit.
Perempuanku yang sedari tadi diam, menatap bibirku yang terus saja menumpahkan ratusan kata-kata, memotong ceritaku.
“Lalu perempuan siapa tour guide-mu hari itu?” dia hanya melempar pertanyaan lalu hilang ditelan lorong-lorong kelam yang menganga seperti mulut iblis.
Aku tak mengejarnya, aku hanya terdiam dan menyeruput kopi Toraja yang semakin pahit karena dingin. Lalu setelah membayar bon, aku menengok ke arah meja kami. Di sana terlihat ada bungkusan kado dibalut dengan kertas berwarna-warni, saat ku buka isinya bola mata berwarna hijau milik perempuanku yang pernah ku kenal.