Manusia di zaman modern kebanyakan pernah mengalami stress dan rasa kurang percaya diri. Ada berbagai penyebab hal tersebut seperti karena seringkali mengalami kegagalan, mendapatkan musibah, ataupun karena diremehkan oleh orang-orang di sekitarnya. Hal tersebut berdampak pada mindset pikirannya sehingga ia memandang bahwa kesuksesan telah jauh dalam jangkauannya. Berbagai metode diciptakan untuk mengurangi atau menyembuhkan rasa frustasi yang berlebihan seperti berkonsultasi dengan psikilog dan menghadiri seminar-seminar motivasi, serta salah caranya adalah membaca buku-buku motivasi atau pengembangan diri agar kepercayaan diri yang telah runtuh agar dapat bangkit kembali untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan. Menurut saya buku Life Will Never Be The Same adalah salah satu buku terbaik untuk mengembalikan kepercayaan diri atau memotivasi manusia untuk selalu berkembang demi mencapai sukses yang diinginkan oleh setiap orang. Maka saya meringkas buku ini agar kalian mendapat gambaran sedikit tentang buku Life Will Never Be The Same.
Buku yang ditulis oleh Davit Setiawan berisi motivasi untuk para pembacanya. Pada intinya membahas tentang bagaimana manusia seharusnya berubah sesuai dengan perubahan zaman atau dia akan dipaksa berubah oleh arus perkembangan zaman yang semakin maju dan modern. Ada berbagai penyebab manusia sulit berubah seperti manusia sangat susah keluar dari zona nyaman (comfort zone) .
Dalam hidup, perubahan tidak dapat kita hindari karena suka atau tidak perubahan merupakan salah satu hukum dalam kehidupan dan pasti akan terjadi. Tanpa perubahan, kehidupan mungkin saat ini tidak jauh berbeda dengan zaman purba. Tanpa perubahan hidup akan sangat monoton dan suatu saat akan kesulitan menghadapi masa depan. Banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan karena menolak perubahan seperti Nokia dan Kodak.
Pada kenyataannya manusia memang sangat sulit untuk berubah, termasuk berubah untuk menjadi lebih baik. Padahal jika manusia ingin sukses maka mereka seharusnya  sadar, mau, dan berani melakukan perubahan dalam diri mereka bahkan ketika perubahan itu belum tiba. Setiap saat mereka selalu meng-upgrade level kehidupan. Perubahan dapat berupa inovasi, upgrade skill, membaca buku-buku pengembangan diri, mengikuti seminar, dan lain-lain. Sesungguhnya, suatu proses selalu menghasilkan suatu hasil, baik itu hasil yang matang maupun karbitan.
Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih belajar, akan menjadi pemilik masa depan. Semua orang mempunyai masa lalu, namun tidak semua orang mempunyai masa depan. Tidak jarang orang mencari masa depan mereka di masa lalu, ingatlah bahwa tidak ada ada masa depan di masa lalu. Maka yang harusnya yang kita lakukan adalah mengambil pembelajaran berharga yang terjdi di masa lalu. Perubahan menjanjikan kesempatan dan kekuatan baru. Jangan menolak perubahan hanya karena anda takut kehilangan yang telah dimiliki karena dengannya anda merendahkan nilai yang bisa anda capai melalui perubahan.
Hari untuk berubah itu tidak akan datang kecuali anda yang melakukan perubahan dalam hidup saat ini. Banyak orang menganggap bahwa dengan tetap berada pada zona nyaman, mereka sudah mengambil langkah aman. Namun, anggapan ini salah karena sebenarnya mereka telah membenamkan potensi terbaik yang ada dalam dirinya untuk bergerak maju. Jika kita menginginkan suatu pencapaian yang lebih dalam hidup kita, pasti ada harus yang dikorbankan dan salah satunya adalah kenyamanan yang kita sering dirasakan. Kita harus berani melakukan sesuatu yang baru jika ingin berkembang menjadi lebih baik. Jika anda tidak mendorong diri anda untuk bergerak maju, maka kehidupan ini akan memaksa anda untuk bergerak. No body can go back and start new beginning but anyone can start today and make a new ending. Segala sesuatu yang dianggap “terlambat” bukanlah suatu alasan untuk mundur dan menyudahi impian. Ingin memiliki keidupan seperti apa di masa depan merupakan pilihan anda.
Rutinitas kita disadari atau tidak sangat mungkin membenamkan kemampuan kita untuk tumbuh. Kebanyakan orang berfokus pada sesuatu yang salah sekalipun mereka sadar itu salah. Anda tidak akan tumbuh selama anda tidak mengubah fokus anda. Maka saat ini juga, ubahlah fokus anda pada sesuatu yang menjadikan anda hebat. Fokus yang tepat akan melipat gandakan kekuatan anda untuk berhasil. Fokus kelak akan berubah menjadi suatu kebiasaan. Beberapa manfaat jika manusia mempunya fokus, adalah sebagai berikut ;
1.      Membuat tujuan semakin jelas
2.      Mampu meruntuhkan hal-hal yang seakan mencoba menghardik kita untuk mengalihkan fokus kita
3.      Menjadikan pencapaian seseorang berbeda dengan yang lain
Kegagalan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Kegagalan merupakan sebuah kata yang tidak enak di dengar dan tidak semua orang di dunia menginginkan hal itu Kegagalan masa lalu dapat menyebabkan kita tidak mampu mengeluarkan potensi terbaik. Berhenti mengurung diri dalam keterpurukkan masa lalu sehingga masa depan yang cemerlang bisa dicapai tanpa ada rasa takut dari masa lalu. Segala sesuatu yang pernah terjadi dalam hidup anda memang bagian dari hidup anda yang bukan untuk anda sesali. Sehingga. untuk menjadi orang sukses jangan pernah melihat bahwa keadaan buruk atau kegagalan merupakan suatu final, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Selain itu, kesulitan mengajarkan banyak ilmu kehidupan yang kita tidak pernah dapatkan di pendidikan formal. Jalanilah kehidupan dengan menatap kesulitan dan rintangan secara positif.
Tidak ada kesuksesan sejati tanpa penolakan. Semakin banyak penolakan yang dialami, anda akan semakin banyak belajar dan semakin dekat dengan harapan anda. Penolakan bukanlah suatu kegagalan, tetapi penolakan adalah suatu pengalaman yang bisa membuat kita lebih baik lagi. Jika kita diperhadapkan dengan kegagalan itu berarti kita harus berusaha lebih keras lagi. Kita belajar bahwa orang-orang sukses tidak pernah sukses tanpa kegagalan.  Bangkit dari kegagalan adalah suatu keharusan jika kita ingin tetap maju karena tidak ada kesuksesan tanpa kegagalan.
Orang-orang sukses selalu belajar dari pengalaman yang mereka lalui. Guru terbaik adalah pengalaman dan kegagalan terburuk itu. Kesulitan hidup bukanlah bencana besar dan momok yang sangat menyeramkan. Selalu ada alasan mengapa kita ditempatkan dikondisi-kondisi tertentu. Karena kita sedang di persiapkan untuk menjadi seseorang lebih bernilai. Sambutlah setiap kesulitan dengan jiwa besar, sehingga jika suatu saat nanti anda telah tiba dipuncak kesuksesan, maka anda pasti akan berterima kasih kepada setiap kesulitan yang pernah anda alami karena anda telah menjadi kuat oleh kesulitan-kesulitan itu.
Tidak ada satu orang pun yang bisa memilih untuk lahir dalam keluarga kaya dan rupawan atau pun lahir dalam kondisi cacat, menderita, dan miskin. Semua keterbatasan tidak menghalangi namun harus membuat kita bekerja lebih keras lagi. Semua orang sukses adalah mereka yang telah melewati pedihnya diremehkan, sakitnya keterpurukan, dan dalamnya luka penderitaan. Kehidupan memang dipenuhi oleh badai-badai penghambat, bahkan akan ada masa di mana setiap orang akan “saling mangsa”. Maka untuk bertahan dan tetap tumbuh dan berkembang, anda harus jadi mangsa yang tangguh yang tidak dapat untuk ditaklukkan oleh siapapun.
Orang sukses adalah orang yang memiliki goals (tujuan) dalam hidupnya. Goals inilah yang membuat akselerasi mereka semakin cepat, terarah, dan mendorong mereka untuk bergerak maju. Goals akan memberikan daya tarik kepada kita, sehingga kita bergerak untuk mencapainya. Untuk menjadi sukses, sederhana. Tahu apa yang anda lakukan dan cintai apa yang anda lakukan serta percaya apa yang anda lakukan. Selain itu, mencapai kesuksesan, kita harus fokus, kerja keras, dedikasi, komitmen dan keteguhan hati. Orang sering melihat orang sukses dari buah keberhasilannya, tapa melihat seberapa banyak dan besar pengorbanan yang mereka lakukan. Pengorbanan, kerja keras dan semangat pantang menyerah merupakan harga yang harus dibayar untuk mencapai kesuksesan. Sukses anda tidak bergantung pada orang lain.
Orang sukses dan orang gagal sama-sama seorang pemimpi. Perbedaannya, orang gagal adalah mereka yang terlelap dalam mimpi yang seakan-akan keadaan itu akan membawa impian menjadi kenyataan, sedangkan orang sukses adalah mereka yang terus bermimpi dan mewujudkan impian itu dengan tindakan. Orang-orang sukses memulai kesuksesan mereka dengan semangat dan optimisme kemudian menciptakan keajaiban-keajaiban melalui tindakan nyata dan terarah. Sedang orang gagal mengharapkan keajaiban itu datang untuk merubah kehidupannya
Pada dasarnya orang sukses di dunia adalah para pemberani, berani menghadapi risiko dan berani menerima keadaan dirinya sendiri. Keberanian untuk memberikan yang terbaik dalam hidup ini akan membawa menuju kesuksesan. Jika ingin hasil yang terbaik maka manusia harus berjuang, bekerja keras, berkorban dan mendedikasikan hidupnya untuk meraih yang dicita-citakannya. Tidak ada seorang penakut yang sukses.

Keterangan : 
Penulis : Davit Setiawan
Penerbit : Elex Media Komputindo
Terbit : Februari 2013
Kategori : Motivasi (Pengembangan Diri)


Bigger Thomas, seorang pemuda berumur 20 tahun yang hidup dalam keluarga yang miskin berkulit hitam dan tidak berpendidikan di Chicago pada tahun 1930-an. Pada suatu pagi dia bangun di apartemen sempit bersama keluarganya di kota South Side. Dia melihat tikus yang besar berlari cepat di seberang ruangan, kemudian ia membuat tikus tersebut  tersudut lalu dibunuhnya dengan wajan. Bigger dibesarkan di bawah kondisi prasangka rasial yang keras di tahun 1930-an di Amerika, Bigger dibebani dengan keyakinan yang kuat bahwa ia tidak memiliki kontrol atas hidupnya dan bahwa ia tidak bisa bercita-cita apa pun selain  pekerja kasar sebagai buruh yang berupah rendah.
Ibunya menyuruh dia menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh Mr. Dalton agar ia bisa mendapatkan uang sehingga keluarga mereka bisa pindah ke apartemen yang lebih baik.  Jika ia tidak bekerja keluarganya akan kelaparan. Namun, Bigger tidak peduli dengan tawaran tersebut karena ia telah memiliki rencana untuk merampok tokoh makanan milik Mr. Blum bersama teman-temannya. Walaupun Gangnya mengetahui bahwa jika mereka merampok orang kulit hitam polisi tidak akan peduli namun jika orang yang mereka rampok orang kulit putuh mereka akan memasuki wilayah baru yaitu aturan kulit putih.
Bigger bersama teman-temannya  bertemu di Doc’s pool untuk membuat rencana merampok Mr. Blum. Setelah terjadi ketegangan antara Bigger bersama salah seorang temannya yang ragu untuk merampok, mereka akhirnya setuju untuk bertemu lagi pada pukul 03.00 untuk pergi merampok.
Sebelum merampok Bigger menghabiskan uang yang dimilikinya dengan menonton bioskop untuk menghilangkan ketakutannya merampok. Dia bercerita bahwa dia lebih baik masuk ke penjara daripada pergi untuk wawancara pekerjaan. Sebelum film diputar ia melihat berita tentang seorang wanita muda yang bernama Mary Dalton, reportenya mengomentari bahwa Mary terkejut karena keluarganya ingin dia mengakhiri hubungannya bersama kekasihnya. Bigger menyadari bahwa wanita tersebut adalah putri dari calon majikannya, Mr. Dalton.
Setelah menonton Bigger bersama temannya bertemu lagi untuk segera menjalankan rencana mereka namun salah seorang temannya belum datang. Bigger sebenarnya telah merasa ketakutan dan ia bahagia jika temannya tidak datang. Namun, tak berapa lama temannya tersebut datang, Bigger menyalahkan temannya tersebut dan mengatakan bahwa tidak ada lagi waktu untuk merampok sambil memukulnya. Anggota yang lain curiga dengan kelakuan Bigger dan balik menyalahkan bahwa Bigger lah yang ingin menggagalkan rencana mereka sehingga ia diancam dengan senjata. Bigger pun meninggalkan temannya dan pulang ke rumahnya.
Bigger kemudian menuju rumah Mr. Dalton untuk di wawancarai, setibanya di sana ia melihat kemegahan rumah yang dimiliki Mr. Dalton. Ia merasa bahwa kehidupan mereka sungguh berbeda. Mr. Dalton adalah pemilik apartemen yang ditinggali oleh Bigger bersama keluarganya. Sebelum masuk ke ruang kerja Mr. Dalton ia melihat Mrs Dalton yang berjalan dengan menyentuh dinding, Bigger berpikir bahwa Mrs. Dalton telah buta. Pada saat wawancara tiba-tiba datang Mary Dalton dan mereka saling diperkenalkan. Akhirnya, dia pun diterima menjadi supir dikeluarga Mr. Dalton. Tugas pertama yang dia peroleh adalah mengantarkan Mary ke Universitas malam itu juga.
Bigger lalu bertemu dengan pembantu keluarga tersebut yang bernama Peggy. Menurut penuturan Peggy, keluarga Dalton sangat senang dan peduli dengan orang berkulit hitam, supir Mr. Dalton sebelumnya juga adalah seorang pemuda kulit hitam. Mrs. Dalton menyuruh supir terdahulu untuk bersekolah setelah tamat ia berhenti dan bekerja di kantor pemerintahan. Setelah makan malam Bigger diperintahkan untuk menyalakan tungku setelah itu Peggy menunjukkan kamarnya yang dia rasa sangat besar.
Sebelum mengantar Mary Dalton ke Universitas dia ke dapur dan menemui Mrs. Dalton sehingga Bigger mendapatkan pertanyaan tentang latarbelakang pendidikannya. Bigger merasa memiliki rencana lain daripada ke sekolah.
Malam itu juga Bigger mengantarkan Mary yang ternyata tidak ingin ke Universitas melainkan ingin diantarkan untuk bertemu kekasihnya Jan Erlone. Bigger pun diperkenalkan kepada Jan Erlone yang seorang anggota kelompok komunis yang berjuang melawan ketidakadilan. Mereka pergi ke restoran untuk makan lalu minum-minum bersama.
Diperjalanan pulang Mary memberitahukan bahwa dia akan ke Detroit besok pagi sehingga Bigger diperintahkan untuk membawakan koper Mary ke stasiun. Mereka akhirnya sampai di rumah Mr.Dalton. Bigger yang melihat Mary telah mabuk, ia antarkan ke kamar. Tiba-tiba muncul perasaan terangsang melihat tubuh Mary, Bigger lalu menciumi Mary. Namun, tiba-tiba Mrs. Dalton masuk ke kamar anaknya karena panik Bigger menutup wajah Mary dengan bantal yang membut perempuan tersebut mati. Bigger yang mulai panik mulai menyusun rencana. Dia memutuskan untuk membakar tubuh Mary di tungku ruang bawah tanah. Lalu besoknya ia akan bertindak tidak terjadi apa-apa dan menuduh bahwa Jan yang membawa Mary lari karena Mr.Dalton melihat Jan sebagai komunis yang berbahaya.
Keesokan harinya Bigger bangun lebih pagi daripada keluarganya. Ia mulai membuat alibi kepada ibunya bahwa ia pulang jam 2 malam bukan seperti sangkaan ibunya yang menduga Bigger belum pulang hingga pukul 4 malam. Bigger merasa ia telah menciptakan kehidupan yang baru setelah membunuh Mary. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sengaja membunuh Mary dan berharap bahwa semua orang di sekelilingnya tidak mengetahui perbuatannya.
Bigger berpikir tentang Mary dan mulai percaya bahwa pembunuhannya dibenarkan karena rasa malu, takut dan orang kulit putihlah yang melakukannya. Dia berharap orang kulit hitam lain memiliki rasa solidaritas untuk berperang melawan orang kulit putih. Ia berangan-angan ada orang kulit hitam seperti Hitler yang datang mencambuk orang kulit hitam lain agar mereka tidak takut dan malu lagi.
Setiba di rumah Mr. Dalton ia menemukan Peggy mengintip ke dalam tungku. Bigger berpikir untuk membunuh Peggy namun ia melihat tidak ada hal yang mencurigakan. Bigger memperlihatkan pamflet komunis yang diberikan Jan kepadanya. Peggy melihat mobil ditinggalkan di luar sepanjang malam, Bigger mengatakan bahwa Mary yang menyuruhnya. Peggy ragu-ragu tetapi Bigger mengatakan bahwa ada laki-laki yang datang ke rumah Dalton malam sebelumnya. Bigger berpura-pura ketika Mary tidak turun dari kamarnya, Peggy menunjukkan bahwa mungkin Mary telah pergi ke stasiun.
Bigger kemudian menguping percakapan antara Mrs. Dalton dan Peggy, ia bersemangat menonton drama ini terungkap. Jan lalu menelpon untuk berbicara dengan Mary. Peggy percaya bahwa Mary yang meminta Jan untuk menelpon agar bisa menutupi sesuatu. Peggy curiga melihat tidak semua pakaian Mary di kemasi. Bigger mulai gugup dan Mrs. Dalton bertanya lagi kepadanya dan mengulangi ceritanya. Mrs. Dalton memberikan ia waktu sehari untuk libur.
Bigger menuju ke rumah kekasihnya Bessie dan memperlihatkan uang yang ia dapatkan. Bigger merasa ia gagal memperoleh uang banyak selama pembunuhan. Ia kemudian menyusun rencana untuk meminta uang tebusan terhadap Mary. Bigger memberitahu Bessie bahwa ia dapatkan uang itu dari anak majikannya yang melarikan diri dengan seorang komunis. Bigger berniat untuk membuat catatan tebusan untuk mengumpulkan lebih banyak uang. Dia meyakinkan bahwa Mary telah hilang selama-lamanya ketika Bessie mulai curiga ia mengancam akan memukul Bessie. Dia menyuruh Bessie untuk mengambil uang tebusan sedangkan dia akan ke rumah Mr.Dalton untuk mengetahui rencana Mr. Dalton. Bessi setuju walaupun ia ragu-ragu.
Bigger kemudian kembali ke rumah Mr. Dalton, sesampainya ia melihat ke tungku dan menambahkan lagi batubara ke dalamnya. Ia kemudian bertemu dengan Mr. Dalton lalu di suruh untuk ke stasiun mengambil koper Mary. Mr. Dalton juga menemukan bahwa Mary belum tiba di Detroit. Ia pun kembali ditanyai oleh Mr. Dan Mrs. Dalton, ia pun mengulangi ceritanya.
Ketika tiba di stasiun Bigger bertemu dengan Britten, seorang detektif swasta yang disewa keluarga Mr. Dalton. Bigger merasa gembira karena untuk pertama kalinya dia yang memegang kendali terhadap orang-orang kulit putih. Bigger menceritakan bahwa ia hanya mengikuti instruksi Mary. Ketika ditanyakan tentang Jan, ia mulai memainkan peran anak kulit hitam yang bingung.
Britten menuduh Bigger seorang komunis dan akan dituduh sebagai mitra Jan. Namun, Mr. Dalton mengatakan bahwa ia tidak bisa menahan Bigger karena dia berkulit hitam. Ia mengatakan bahwa Bigger adalah anak yang baik.
Dalton dan Britten membawa Jan ke rumahnya untuk ditanyai dan menyangkal bahwa ia melihat Mary malam sebelumnya. Mr. Dalton menawarkan uang kepada Jan untuk mengungkapkan keberadaan Mary namun Jan keluar dari rumah tersebut.
Bigger kemudian memberitahu perkembangan terbaru dan ia menyuruh Bessie untuk meminta uang tebusan sebesar $10.000 lalu ia menyuruh untuk menandatanganinya dengan gambar palu dan arit. Bessie tidak ingin membantu Bigger dan menuduh Bigger sebagai pembunuh Mary. Bigger pun mengakuinya dan mengatakan bahwa itu tidak apa-apa karena orang kulit putih membunuh lebih banyak orang kulit hitam. Bessie yang ketakutan tidak ingin terlibat namun Bigger mengancamnya.
Bigger kembali ke rumah Mr.Dalton dan menyelipkan catatan tebusan itu di bawah pintu. Mr. Dalton menemukannya dan memanggil Britten. Bigger masih memperlihatkan perilaku pemalu dan bodohnya.
Jan pun ditangkap sehubungan hilangnya Mary, Mr. Dalton memperlihatkan permintaan tebusan yang ditandangani dengan lambang partai komunis. Jan memiliki saksi yang bertentangan dengan cerita Bigger. Para wartawan senang mendengar bahwa Bigger tidak ingin makan bersama Jan dan Mary. Mereka ingin mencetak artikel bahwa Bigger “seorang primitif negro” tidak ingin terganggu dengan peradaban orang kulit putih.
Wartawan berkumpul di ruang bawah tanah untuk membahas cerita, Peggy meminta Bigger untuk membersihkan abu dari tungku. Bigger tidak ingin mengangkat abu sebelum wartawan meninggalkan ruangan. Namun, abu yang telah memenuhi ruangan menyebabkan asap tebal menyelimuti ruang bawah tanah. Setelah asapnya hilang, wartawan melihat beberapa potong tulang dan anting-anting di lantai. Bigger menyadari kesalahannya dan kabur melalui jendela.
Bigger menuju rumah Bessie agar tidak menuju ke tempat uang tebusan. Bessie mengatakan bahwa pemerintah akan mencurigai dia sebagai pemerkosa lalu membunuh Mary untuk menghilangkan jejak. Bigger kemudian berpikir bahwa Bessie hanya akan menghambat pelariannya sehingga ia membunuh Bessie dengan memukulkan batu bata di tengkorak Bessie. Setelah pagi Bigger meninggalkan rumah Bessie, ia seperti mendapatkan kekuatan baru lagi. Ia membaca surat kabar yang mengatakan bahwa mungkin Mary diserang secara seksual sebelum di bunuh dan polisi memerintahkan untuk menggeledah setiap bangunan di sisi selatan.
Bigger kemudian bersembunyi di bangunan yang hampir roboh dan ia disana ia teringat bagaimana dulu ia bersama keluarganya pernah diusir dari apartemen hanya dua hari sebelum runtuh. Keesokan harinya polisi menangkap Bigger dan membawanya turun dari kerumunan orang kulit putih yang marah dan menuntut untuk membunuh “kera yang hitam”.
Jan mengunjungi Bigger di penjara. Dia mengatakan bahwa dia mengerti bagaimana ia takut, marah, dan malu Bigger melalui pelanggaran yang tabu sosial sehingga membuat hubungan ras tegang. Jan memperkenalkan temannya, Boris A. Max, untuk membela Bigger secara gratis. Jan dan Max berbicara dengan Bigger sebagai manusia, dan Bigger mulai melihat orang kulit putih sebagai individu dan dirinya sebagai sama  seperti mereka. Max mencoba untuk menyelamatkan Bigger dari hukuman mati, dengan alasan bahwa sementara kliennya bertanggung jawab atas kejahatannya, sangat penting untuk mengakui bahwa ia adalah produk dari lingkungannya.
Max memperingatkan bahwa akan ada lebih banyak orang seperti Bigger jika Amerika tidak mengakhiri lingkaran setan kebencian dan dendam. Meskipun argumen Max benar, namun Bigger tetap dijatuhi hukuman oleh mati.







Repotase (yang Belum Benar-benar) Investigasi
Imam Wahyudi
Penggunaan kata “investigasi” pada judul sebuah program benar mencerminkan karater program tersebut ata sekedar nama yang dipilih karena eye catching, ear catching, “berwibawa”, serta berpotensi untuk menarik perhatian pemirsa. Metode dalam investigasi adalah mencatat atau merekam fakta (menelusuri dokumen, wawancara, perekaman, termasuk perekaman tesembunyi), peninjauan (penelusuran langsung ke lapangan, termasuk melakukan penyamaran), dan percobaan (pengecekan silang, simulasi, tes laboratorium, dan lain-lain). Liputan atau reportase investigasi bukan sekedar memperoleh informasi terkait unsur 5W+1H (What, Who, Where, Why, When, How) seperti dalam straight news (berita langsung).
Terdapat beberapa konten investigasi yang perlu diragukan atau dipertanyakan mengenai kebenarannya. Seperti liputan tentang “Hati-hati Perampok Incar ATM Anda”. Topik ini perlu diungkap mengingat modus-modus pembobolan rekening melalui ATM korban sampai kini terus berkembang.
Beberapa konten investigasi juga diduga tidak menyediakan cukup informasi yang bisa membuat penonton yakin bahwa narasumber utama itu benar-benar kredibel. Nama, wajah, dan suara narasumber utama Reportase Investigasi disamarkan. Ini digunakan agar melindungi kesalamatan dari narasumber utama yang telah “membocorkan” informasi rahasia. Namun, hal inilah yang seperti memaksa penonton untuk percaya bahwa narasumber yang nama, wajah, suaranya disamarkan memang narasumber utama yang terpercaya.
Bagaimanapun hal yang paling mengejutkan bahwa ada oknum-oknum yang menawarkan jasa liputan investigasi. Oknum tersebut menawarkan akan menyediakan segala hal mengenai reportase investigatif palsu termasuk narasumber palsu.
Rutinitas Berita dan Sinisme terhadap Buruh
Azhar Irfansyah
Berita tentang menumpuknya sampah yang ditinggalkan para buruh memicu sikap antipati terhadap aksi buruh. Tuntutan parah buruh pun seakan tenggelam dalam tumpukan sampah-sampah mereka. Selain itu berita rutin yang selalu diberitakan selepas aksi buruh adalah kemacetan lalu lintas dan kerugian akibat aksi. Aksi buruh akhirnya terkesan merugikan semua kalangan kecuali para buruh peserta aksi itu sendiri. Berita ini pun disambut komentar pembaca yang juga antipati terhadap tuntutan buruh, bahkan ada yang berkomentar untuk menyarankan perusahaan untuk memecat buruh yang banyak menuntut.
Berita sinis ini membuat upaya buruh dalam memperjuangkan nasibnya semakin berat. Dalam berbagai isu, buruh masih mengharapkan atau bahkan bergantung pada media massa untuk menyebar luaskan aksi dan pernyataan mereka.
Menurut Shoemaker dan Reese dalam Mediating the Message (1996:60) terdapat beberapa level pengaruh yang menentukan isi berita suatu media. Secara berturut-turut tingkatan tersebut yaitu: pengaruh individu pekerja media, pengaruh rutinitas media, pengaruh organisasi media, pengaruh eksternal media, dan pengaruh ideologi media. Begitupun corak produksi kapitalis membagi kelas pekerja ke dalam kategori-kategori hierarkis: terampil, semiterampil, dan tak terampil.
Seorang wartawan yang juga bagian dari kelas pekerja kemudian lebih menghayati posisinya sebagai pekerja berketerampilan atau kelas menengah. Ia merasa menjadi bagian dari kelas di dalam kelas. Meskipun hidup dari menukar tenaganya dengan upah seperti halnya seorang buruh. Namun, sesungguhnya wartawan memiliki tingkat upah yang rendah daripada wartawan di negara lain. Kebanggaan wartawan-wartawan Indonesia pada statusnya sebagai pekerja terampil hanyalah kebanggan semu. Ilusi hierarki keterampilan dan kebanggaan semua membuat wartawan tak rela upahnya yang pas-pasan tersaingi oleh upah buruh yang kastanya lebih rendah dalam hierarki keterampilan. Para wartawan penulis sinis akhirnya harus melawan perjuangan kelasnya sendiri.
Serikat Pekerja Media, Kekerasan Simbolik, dan Prospek Masa Depan
Satrio Arismunandar
Pekerja di industri media dituntut memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap lingkungan yang dinamis dan selalu berubah cepat. Jika pekerja media mengabaikan atau tidak tanggap dengan tuntutan lingkungan, dinamika perubahan ini akan menggilas mereka.
Serikat pekerja media bukan sekedar penting bagi peningkatan kesejahteraan, tapi juga penting bagi kebebasan pers. Pertama, jurnalisme yang kuat dan bebas tidak akan terwujud manakala para jurnalisnya sendiri hidup dalam keadaan tidak sejahtera dan ketakutan. Kedua, hanya melalui serikat pekerja media yang independen, para jurnalis akan memiliki penyuara yang bisa bicara untuk kepentingan mereka. Ketiga, hanya melalui serikat pekerja media, para jurnalis dapat mengembangkan rasa aman, yakni suatu perasaan bahwa mereka memiliki perlindungan yang nyata bagi semua rekan sekerja.
Keberadaan  serikat pekerja jurnalis berkaitan dengan satu hal: rasa hormat, yaitu rasa hormat terhadap diri sendiri sebagai individu, rasa hormat terhadap profesi dan kerja jurnalisme yang dilakukan, serta rasa hormat dari publik, pemerintah, dan pihak majikan.
Pertumbuhan serikat pekerja media sangatlah lamban karena beberapa alasan, pertama, ada persepsi keliru bahwa orang yang mendirikan media dianggap mempunyai idealisme dan tujuan luhur, jauh dari pertimbangan bisnis ekonomis. Namun, ternyata para pemilik media lebih berorientasi profit. Sehingga kelayakannya hanya diukur dari nilai ekonomi:rating, tiras, dan pendapatan iklan yang masuk.
Kedua, wartawan dininabobokan atau terkecoh dengan konsep atau kebanggaan palsu “kaum profesional”, yang dianggap berstatus lebih tinggi daripada pekerja kasar seperti buruh pabrik, kuli, tukang, dll. Serikat pekerja dianggap bukan jatah “kaum profesioal”, melainkan hanya cocok untuk para pekerja kasar.
Ketiga, adanya ketidaksukaan dan hambatan dari pemilik media terhadap usaha-usaha untuk mendirikan serikat pekerja. Pemilik media melakukan berbagai bentuk “kekerasan simbolik” yang secara tersirat bisa dimengerti oleh para pekerja bahwa keberadaan serikat pekerja itu sebenarnya tidak disukai. Kekerasan simbolik misalnya terjadi perlakuan pilih kasi yang tidak berdasarkan prestasi kerja melainkan pekerja yang loyal, patuh, dan mengikuti apa saja semua kemauan pemilik media akan dipromosikan dan diperlakukan lebih baik, dari segi posisi jabatan, gaji, bonus, dll. Sedangkan pekerja yang mendukung berdirinya serikat pekerja media biasanya diperlakukan lebih buruk, tidak diberi posisi jabatan strategis, serta karirnya dihambat. Kekerasan simbolik yang lain adalah mengembangkan opini di lingkungan perusahaan bahwa keberadaan serikat pekerja justru akan merusak kinerja perusahaan, menciptakan konflik yang tidak perlu antara pimpinan dan bawahan, serta merusak “hubungan baik yang bersifat kekeluargaan” antara pemilik media dan karyawan.
Demi memajukan serikat pekerja media setidaknya ada tiga fokus garapan yang harus mereka lakukan, pertama dibentuk serikat pekerja yang hanya mengurusi soal kebutuhan dan kesejahteraan karyawan. Kedua, serikat pekerja media yang memfokuskan diri pada hubungan antara karyawan dengan manajemen perusahaan. Serikat pekerja ini berfungsi sebagai mediator antara kedua belah pihak, serta menjembatani masalah yang timbul antara karyawan dengan manajemen perusahaan. Ketiga, serikat pekerja media yang memfokuskan diri pada isu-isu strategis perusahaan. Serikat pekerja tidak cukup hanya mengurusi karyawan, tapi juga ikut duduk dengan direksi lain untuk menentukan arah kebijakan perusahaan. Dengan kata lain, serikat pekerja ikut bermain dalam tataran politis di perusahaan, termasuk menyetujui atau tidak menyetujui pimpinan suatu perusahaan.
Serikat pekerja media juga bisa memperjuangkan independensi redaksi, serta pemberian durasi dan ruang media bagi konten-konten yang mencerdaskan dan mendidik, yang selama ini sering dikalahkan oleh konten-konten “sampah”, yang dilandasi oleh orientasi profit ekonomis semata.

Referensi, Remotivi. 2015. Orde Media (Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru). Yogyakarta. Penerbit Insistpress