Bigger Thomas, seorang pemuda berumur 20 tahun yang hidup dalam keluarga yang miskin berkulit hitam dan tidak berpendidikan di Chicago pada tahun 1930-an. Pada suatu pagi dia bangun di apartemen sempit bersama keluarganya di kota South Side. Dia melihat tikus yang besar berlari cepat di seberang ruangan, kemudian ia membuat tikus tersebut  tersudut lalu dibunuhnya dengan wajan. Bigger dibesarkan di bawah kondisi prasangka rasial yang keras di tahun 1930-an di Amerika, Bigger dibebani dengan keyakinan yang kuat bahwa ia tidak memiliki kontrol atas hidupnya dan bahwa ia tidak bisa bercita-cita apa pun selain  pekerja kasar sebagai buruh yang berupah rendah.
Ibunya menyuruh dia menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh Mr. Dalton agar ia bisa mendapatkan uang sehingga keluarga mereka bisa pindah ke apartemen yang lebih baik.  Jika ia tidak bekerja keluarganya akan kelaparan. Namun, Bigger tidak peduli dengan tawaran tersebut karena ia telah memiliki rencana untuk merampok tokoh makanan milik Mr. Blum bersama teman-temannya. Walaupun Gangnya mengetahui bahwa jika mereka merampok orang kulit hitam polisi tidak akan peduli namun jika orang yang mereka rampok orang kulit putuh mereka akan memasuki wilayah baru yaitu aturan kulit putih.
Bigger bersama teman-temannya  bertemu di Doc’s pool untuk membuat rencana merampok Mr. Blum. Setelah terjadi ketegangan antara Bigger bersama salah seorang temannya yang ragu untuk merampok, mereka akhirnya setuju untuk bertemu lagi pada pukul 03.00 untuk pergi merampok.
Sebelum merampok Bigger menghabiskan uang yang dimilikinya dengan menonton bioskop untuk menghilangkan ketakutannya merampok. Dia bercerita bahwa dia lebih baik masuk ke penjara daripada pergi untuk wawancara pekerjaan. Sebelum film diputar ia melihat berita tentang seorang wanita muda yang bernama Mary Dalton, reportenya mengomentari bahwa Mary terkejut karena keluarganya ingin dia mengakhiri hubungannya bersama kekasihnya. Bigger menyadari bahwa wanita tersebut adalah putri dari calon majikannya, Mr. Dalton.
Setelah menonton Bigger bersama temannya bertemu lagi untuk segera menjalankan rencana mereka namun salah seorang temannya belum datang. Bigger sebenarnya telah merasa ketakutan dan ia bahagia jika temannya tidak datang. Namun, tak berapa lama temannya tersebut datang, Bigger menyalahkan temannya tersebut dan mengatakan bahwa tidak ada lagi waktu untuk merampok sambil memukulnya. Anggota yang lain curiga dengan kelakuan Bigger dan balik menyalahkan bahwa Bigger lah yang ingin menggagalkan rencana mereka sehingga ia diancam dengan senjata. Bigger pun meninggalkan temannya dan pulang ke rumahnya.
Bigger kemudian menuju rumah Mr. Dalton untuk di wawancarai, setibanya di sana ia melihat kemegahan rumah yang dimiliki Mr. Dalton. Ia merasa bahwa kehidupan mereka sungguh berbeda. Mr. Dalton adalah pemilik apartemen yang ditinggali oleh Bigger bersama keluarganya. Sebelum masuk ke ruang kerja Mr. Dalton ia melihat Mrs Dalton yang berjalan dengan menyentuh dinding, Bigger berpikir bahwa Mrs. Dalton telah buta. Pada saat wawancara tiba-tiba datang Mary Dalton dan mereka saling diperkenalkan. Akhirnya, dia pun diterima menjadi supir dikeluarga Mr. Dalton. Tugas pertama yang dia peroleh adalah mengantarkan Mary ke Universitas malam itu juga.
Bigger lalu bertemu dengan pembantu keluarga tersebut yang bernama Peggy. Menurut penuturan Peggy, keluarga Dalton sangat senang dan peduli dengan orang berkulit hitam, supir Mr. Dalton sebelumnya juga adalah seorang pemuda kulit hitam. Mrs. Dalton menyuruh supir terdahulu untuk bersekolah setelah tamat ia berhenti dan bekerja di kantor pemerintahan. Setelah makan malam Bigger diperintahkan untuk menyalakan tungku setelah itu Peggy menunjukkan kamarnya yang dia rasa sangat besar.
Sebelum mengantar Mary Dalton ke Universitas dia ke dapur dan menemui Mrs. Dalton sehingga Bigger mendapatkan pertanyaan tentang latarbelakang pendidikannya. Bigger merasa memiliki rencana lain daripada ke sekolah.
Malam itu juga Bigger mengantarkan Mary yang ternyata tidak ingin ke Universitas melainkan ingin diantarkan untuk bertemu kekasihnya Jan Erlone. Bigger pun diperkenalkan kepada Jan Erlone yang seorang anggota kelompok komunis yang berjuang melawan ketidakadilan. Mereka pergi ke restoran untuk makan lalu minum-minum bersama.
Diperjalanan pulang Mary memberitahukan bahwa dia akan ke Detroit besok pagi sehingga Bigger diperintahkan untuk membawakan koper Mary ke stasiun. Mereka akhirnya sampai di rumah Mr.Dalton. Bigger yang melihat Mary telah mabuk, ia antarkan ke kamar. Tiba-tiba muncul perasaan terangsang melihat tubuh Mary, Bigger lalu menciumi Mary. Namun, tiba-tiba Mrs. Dalton masuk ke kamar anaknya karena panik Bigger menutup wajah Mary dengan bantal yang membut perempuan tersebut mati. Bigger yang mulai panik mulai menyusun rencana. Dia memutuskan untuk membakar tubuh Mary di tungku ruang bawah tanah. Lalu besoknya ia akan bertindak tidak terjadi apa-apa dan menuduh bahwa Jan yang membawa Mary lari karena Mr.Dalton melihat Jan sebagai komunis yang berbahaya.
Keesokan harinya Bigger bangun lebih pagi daripada keluarganya. Ia mulai membuat alibi kepada ibunya bahwa ia pulang jam 2 malam bukan seperti sangkaan ibunya yang menduga Bigger belum pulang hingga pukul 4 malam. Bigger merasa ia telah menciptakan kehidupan yang baru setelah membunuh Mary. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sengaja membunuh Mary dan berharap bahwa semua orang di sekelilingnya tidak mengetahui perbuatannya.
Bigger berpikir tentang Mary dan mulai percaya bahwa pembunuhannya dibenarkan karena rasa malu, takut dan orang kulit putihlah yang melakukannya. Dia berharap orang kulit hitam lain memiliki rasa solidaritas untuk berperang melawan orang kulit putih. Ia berangan-angan ada orang kulit hitam seperti Hitler yang datang mencambuk orang kulit hitam lain agar mereka tidak takut dan malu lagi.
Setiba di rumah Mr. Dalton ia menemukan Peggy mengintip ke dalam tungku. Bigger berpikir untuk membunuh Peggy namun ia melihat tidak ada hal yang mencurigakan. Bigger memperlihatkan pamflet komunis yang diberikan Jan kepadanya. Peggy melihat mobil ditinggalkan di luar sepanjang malam, Bigger mengatakan bahwa Mary yang menyuruhnya. Peggy ragu-ragu tetapi Bigger mengatakan bahwa ada laki-laki yang datang ke rumah Dalton malam sebelumnya. Bigger berpura-pura ketika Mary tidak turun dari kamarnya, Peggy menunjukkan bahwa mungkin Mary telah pergi ke stasiun.
Bigger kemudian menguping percakapan antara Mrs. Dalton dan Peggy, ia bersemangat menonton drama ini terungkap. Jan lalu menelpon untuk berbicara dengan Mary. Peggy percaya bahwa Mary yang meminta Jan untuk menelpon agar bisa menutupi sesuatu. Peggy curiga melihat tidak semua pakaian Mary di kemasi. Bigger mulai gugup dan Mrs. Dalton bertanya lagi kepadanya dan mengulangi ceritanya. Mrs. Dalton memberikan ia waktu sehari untuk libur.
Bigger menuju ke rumah kekasihnya Bessie dan memperlihatkan uang yang ia dapatkan. Bigger merasa ia gagal memperoleh uang banyak selama pembunuhan. Ia kemudian menyusun rencana untuk meminta uang tebusan terhadap Mary. Bigger memberitahu Bessie bahwa ia dapatkan uang itu dari anak majikannya yang melarikan diri dengan seorang komunis. Bigger berniat untuk membuat catatan tebusan untuk mengumpulkan lebih banyak uang. Dia meyakinkan bahwa Mary telah hilang selama-lamanya ketika Bessie mulai curiga ia mengancam akan memukul Bessie. Dia menyuruh Bessie untuk mengambil uang tebusan sedangkan dia akan ke rumah Mr.Dalton untuk mengetahui rencana Mr. Dalton. Bessi setuju walaupun ia ragu-ragu.
Bigger kemudian kembali ke rumah Mr. Dalton, sesampainya ia melihat ke tungku dan menambahkan lagi batubara ke dalamnya. Ia kemudian bertemu dengan Mr. Dalton lalu di suruh untuk ke stasiun mengambil koper Mary. Mr. Dalton juga menemukan bahwa Mary belum tiba di Detroit. Ia pun kembali ditanyai oleh Mr. Dan Mrs. Dalton, ia pun mengulangi ceritanya.
Ketika tiba di stasiun Bigger bertemu dengan Britten, seorang detektif swasta yang disewa keluarga Mr. Dalton. Bigger merasa gembira karena untuk pertama kalinya dia yang memegang kendali terhadap orang-orang kulit putih. Bigger menceritakan bahwa ia hanya mengikuti instruksi Mary. Ketika ditanyakan tentang Jan, ia mulai memainkan peran anak kulit hitam yang bingung.
Britten menuduh Bigger seorang komunis dan akan dituduh sebagai mitra Jan. Namun, Mr. Dalton mengatakan bahwa ia tidak bisa menahan Bigger karena dia berkulit hitam. Ia mengatakan bahwa Bigger adalah anak yang baik.
Dalton dan Britten membawa Jan ke rumahnya untuk ditanyai dan menyangkal bahwa ia melihat Mary malam sebelumnya. Mr. Dalton menawarkan uang kepada Jan untuk mengungkapkan keberadaan Mary namun Jan keluar dari rumah tersebut.
Bigger kemudian memberitahu perkembangan terbaru dan ia menyuruh Bessie untuk meminta uang tebusan sebesar $10.000 lalu ia menyuruh untuk menandatanganinya dengan gambar palu dan arit. Bessie tidak ingin membantu Bigger dan menuduh Bigger sebagai pembunuh Mary. Bigger pun mengakuinya dan mengatakan bahwa itu tidak apa-apa karena orang kulit putih membunuh lebih banyak orang kulit hitam. Bessie yang ketakutan tidak ingin terlibat namun Bigger mengancamnya.
Bigger kembali ke rumah Mr.Dalton dan menyelipkan catatan tebusan itu di bawah pintu. Mr. Dalton menemukannya dan memanggil Britten. Bigger masih memperlihatkan perilaku pemalu dan bodohnya.
Jan pun ditangkap sehubungan hilangnya Mary, Mr. Dalton memperlihatkan permintaan tebusan yang ditandangani dengan lambang partai komunis. Jan memiliki saksi yang bertentangan dengan cerita Bigger. Para wartawan senang mendengar bahwa Bigger tidak ingin makan bersama Jan dan Mary. Mereka ingin mencetak artikel bahwa Bigger “seorang primitif negro” tidak ingin terganggu dengan peradaban orang kulit putih.
Wartawan berkumpul di ruang bawah tanah untuk membahas cerita, Peggy meminta Bigger untuk membersihkan abu dari tungku. Bigger tidak ingin mengangkat abu sebelum wartawan meninggalkan ruangan. Namun, abu yang telah memenuhi ruangan menyebabkan asap tebal menyelimuti ruang bawah tanah. Setelah asapnya hilang, wartawan melihat beberapa potong tulang dan anting-anting di lantai. Bigger menyadari kesalahannya dan kabur melalui jendela.
Bigger menuju rumah Bessie agar tidak menuju ke tempat uang tebusan. Bessie mengatakan bahwa pemerintah akan mencurigai dia sebagai pemerkosa lalu membunuh Mary untuk menghilangkan jejak. Bigger kemudian berpikir bahwa Bessie hanya akan menghambat pelariannya sehingga ia membunuh Bessie dengan memukulkan batu bata di tengkorak Bessie. Setelah pagi Bigger meninggalkan rumah Bessie, ia seperti mendapatkan kekuatan baru lagi. Ia membaca surat kabar yang mengatakan bahwa mungkin Mary diserang secara seksual sebelum di bunuh dan polisi memerintahkan untuk menggeledah setiap bangunan di sisi selatan.
Bigger kemudian bersembunyi di bangunan yang hampir roboh dan ia disana ia teringat bagaimana dulu ia bersama keluarganya pernah diusir dari apartemen hanya dua hari sebelum runtuh. Keesokan harinya polisi menangkap Bigger dan membawanya turun dari kerumunan orang kulit putih yang marah dan menuntut untuk membunuh “kera yang hitam”.
Jan mengunjungi Bigger di penjara. Dia mengatakan bahwa dia mengerti bagaimana ia takut, marah, dan malu Bigger melalui pelanggaran yang tabu sosial sehingga membuat hubungan ras tegang. Jan memperkenalkan temannya, Boris A. Max, untuk membela Bigger secara gratis. Jan dan Max berbicara dengan Bigger sebagai manusia, dan Bigger mulai melihat orang kulit putih sebagai individu dan dirinya sebagai sama  seperti mereka. Max mencoba untuk menyelamatkan Bigger dari hukuman mati, dengan alasan bahwa sementara kliennya bertanggung jawab atas kejahatannya, sangat penting untuk mengakui bahwa ia adalah produk dari lingkungannya.
Max memperingatkan bahwa akan ada lebih banyak orang seperti Bigger jika Amerika tidak mengakhiri lingkaran setan kebencian dan dendam. Meskipun argumen Max benar, namun Bigger tetap dijatuhi hukuman oleh mati.







Repotase (yang Belum Benar-benar) Investigasi
Imam Wahyudi
Penggunaan kata “investigasi” pada judul sebuah program benar mencerminkan karater program tersebut ata sekedar nama yang dipilih karena eye catching, ear catching, “berwibawa”, serta berpotensi untuk menarik perhatian pemirsa. Metode dalam investigasi adalah mencatat atau merekam fakta (menelusuri dokumen, wawancara, perekaman, termasuk perekaman tesembunyi), peninjauan (penelusuran langsung ke lapangan, termasuk melakukan penyamaran), dan percobaan (pengecekan silang, simulasi, tes laboratorium, dan lain-lain). Liputan atau reportase investigasi bukan sekedar memperoleh informasi terkait unsur 5W+1H (What, Who, Where, Why, When, How) seperti dalam straight news (berita langsung).
Terdapat beberapa konten investigasi yang perlu diragukan atau dipertanyakan mengenai kebenarannya. Seperti liputan tentang “Hati-hati Perampok Incar ATM Anda”. Topik ini perlu diungkap mengingat modus-modus pembobolan rekening melalui ATM korban sampai kini terus berkembang.
Beberapa konten investigasi juga diduga tidak menyediakan cukup informasi yang bisa membuat penonton yakin bahwa narasumber utama itu benar-benar kredibel. Nama, wajah, dan suara narasumber utama Reportase Investigasi disamarkan. Ini digunakan agar melindungi kesalamatan dari narasumber utama yang telah “membocorkan” informasi rahasia. Namun, hal inilah yang seperti memaksa penonton untuk percaya bahwa narasumber yang nama, wajah, suaranya disamarkan memang narasumber utama yang terpercaya.
Bagaimanapun hal yang paling mengejutkan bahwa ada oknum-oknum yang menawarkan jasa liputan investigasi. Oknum tersebut menawarkan akan menyediakan segala hal mengenai reportase investigatif palsu termasuk narasumber palsu.
Rutinitas Berita dan Sinisme terhadap Buruh
Azhar Irfansyah
Berita tentang menumpuknya sampah yang ditinggalkan para buruh memicu sikap antipati terhadap aksi buruh. Tuntutan parah buruh pun seakan tenggelam dalam tumpukan sampah-sampah mereka. Selain itu berita rutin yang selalu diberitakan selepas aksi buruh adalah kemacetan lalu lintas dan kerugian akibat aksi. Aksi buruh akhirnya terkesan merugikan semua kalangan kecuali para buruh peserta aksi itu sendiri. Berita ini pun disambut komentar pembaca yang juga antipati terhadap tuntutan buruh, bahkan ada yang berkomentar untuk menyarankan perusahaan untuk memecat buruh yang banyak menuntut.
Berita sinis ini membuat upaya buruh dalam memperjuangkan nasibnya semakin berat. Dalam berbagai isu, buruh masih mengharapkan atau bahkan bergantung pada media massa untuk menyebar luaskan aksi dan pernyataan mereka.
Menurut Shoemaker dan Reese dalam Mediating the Message (1996:60) terdapat beberapa level pengaruh yang menentukan isi berita suatu media. Secara berturut-turut tingkatan tersebut yaitu: pengaruh individu pekerja media, pengaruh rutinitas media, pengaruh organisasi media, pengaruh eksternal media, dan pengaruh ideologi media. Begitupun corak produksi kapitalis membagi kelas pekerja ke dalam kategori-kategori hierarkis: terampil, semiterampil, dan tak terampil.
Seorang wartawan yang juga bagian dari kelas pekerja kemudian lebih menghayati posisinya sebagai pekerja berketerampilan atau kelas menengah. Ia merasa menjadi bagian dari kelas di dalam kelas. Meskipun hidup dari menukar tenaganya dengan upah seperti halnya seorang buruh. Namun, sesungguhnya wartawan memiliki tingkat upah yang rendah daripada wartawan di negara lain. Kebanggaan wartawan-wartawan Indonesia pada statusnya sebagai pekerja terampil hanyalah kebanggan semu. Ilusi hierarki keterampilan dan kebanggaan semua membuat wartawan tak rela upahnya yang pas-pasan tersaingi oleh upah buruh yang kastanya lebih rendah dalam hierarki keterampilan. Para wartawan penulis sinis akhirnya harus melawan perjuangan kelasnya sendiri.
Serikat Pekerja Media, Kekerasan Simbolik, dan Prospek Masa Depan
Satrio Arismunandar
Pekerja di industri media dituntut memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap lingkungan yang dinamis dan selalu berubah cepat. Jika pekerja media mengabaikan atau tidak tanggap dengan tuntutan lingkungan, dinamika perubahan ini akan menggilas mereka.
Serikat pekerja media bukan sekedar penting bagi peningkatan kesejahteraan, tapi juga penting bagi kebebasan pers. Pertama, jurnalisme yang kuat dan bebas tidak akan terwujud manakala para jurnalisnya sendiri hidup dalam keadaan tidak sejahtera dan ketakutan. Kedua, hanya melalui serikat pekerja media yang independen, para jurnalis akan memiliki penyuara yang bisa bicara untuk kepentingan mereka. Ketiga, hanya melalui serikat pekerja media, para jurnalis dapat mengembangkan rasa aman, yakni suatu perasaan bahwa mereka memiliki perlindungan yang nyata bagi semua rekan sekerja.
Keberadaan  serikat pekerja jurnalis berkaitan dengan satu hal: rasa hormat, yaitu rasa hormat terhadap diri sendiri sebagai individu, rasa hormat terhadap profesi dan kerja jurnalisme yang dilakukan, serta rasa hormat dari publik, pemerintah, dan pihak majikan.
Pertumbuhan serikat pekerja media sangatlah lamban karena beberapa alasan, pertama, ada persepsi keliru bahwa orang yang mendirikan media dianggap mempunyai idealisme dan tujuan luhur, jauh dari pertimbangan bisnis ekonomis. Namun, ternyata para pemilik media lebih berorientasi profit. Sehingga kelayakannya hanya diukur dari nilai ekonomi:rating, tiras, dan pendapatan iklan yang masuk.
Kedua, wartawan dininabobokan atau terkecoh dengan konsep atau kebanggaan palsu “kaum profesional”, yang dianggap berstatus lebih tinggi daripada pekerja kasar seperti buruh pabrik, kuli, tukang, dll. Serikat pekerja dianggap bukan jatah “kaum profesioal”, melainkan hanya cocok untuk para pekerja kasar.
Ketiga, adanya ketidaksukaan dan hambatan dari pemilik media terhadap usaha-usaha untuk mendirikan serikat pekerja. Pemilik media melakukan berbagai bentuk “kekerasan simbolik” yang secara tersirat bisa dimengerti oleh para pekerja bahwa keberadaan serikat pekerja itu sebenarnya tidak disukai. Kekerasan simbolik misalnya terjadi perlakuan pilih kasi yang tidak berdasarkan prestasi kerja melainkan pekerja yang loyal, patuh, dan mengikuti apa saja semua kemauan pemilik media akan dipromosikan dan diperlakukan lebih baik, dari segi posisi jabatan, gaji, bonus, dll. Sedangkan pekerja yang mendukung berdirinya serikat pekerja media biasanya diperlakukan lebih buruk, tidak diberi posisi jabatan strategis, serta karirnya dihambat. Kekerasan simbolik yang lain adalah mengembangkan opini di lingkungan perusahaan bahwa keberadaan serikat pekerja justru akan merusak kinerja perusahaan, menciptakan konflik yang tidak perlu antara pimpinan dan bawahan, serta merusak “hubungan baik yang bersifat kekeluargaan” antara pemilik media dan karyawan.
Demi memajukan serikat pekerja media setidaknya ada tiga fokus garapan yang harus mereka lakukan, pertama dibentuk serikat pekerja yang hanya mengurusi soal kebutuhan dan kesejahteraan karyawan. Kedua, serikat pekerja media yang memfokuskan diri pada hubungan antara karyawan dengan manajemen perusahaan. Serikat pekerja ini berfungsi sebagai mediator antara kedua belah pihak, serta menjembatani masalah yang timbul antara karyawan dengan manajemen perusahaan. Ketiga, serikat pekerja media yang memfokuskan diri pada isu-isu strategis perusahaan. Serikat pekerja tidak cukup hanya mengurusi karyawan, tapi juga ikut duduk dengan direksi lain untuk menentukan arah kebijakan perusahaan. Dengan kata lain, serikat pekerja ikut bermain dalam tataran politis di perusahaan, termasuk menyetujui atau tidak menyetujui pimpinan suatu perusahaan.
Serikat pekerja media juga bisa memperjuangkan independensi redaksi, serta pemberian durasi dan ruang media bagi konten-konten yang mencerdaskan dan mendidik, yang selama ini sering dikalahkan oleh konten-konten “sampah”, yang dilandasi oleh orientasi profit ekonomis semata.

Referensi, Remotivi. 2015. Orde Media (Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru). Yogyakarta. Penerbit Insistpress


Buku ini berisi tentang kritik terhadap dunia pertelivisian Indonesia yang semakin berkembang seiring berlalunya Era Orde baru ke Era Demokrasi namun masih banyak siaran televisi yang berisi konten-konten yang tidak pantas ataupun berbahaya jika di tonton. Tulisan ini merupakan summary dari buku Orde Media (Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru).
Mereka para pemikir beraliran kritis-kaum Marxis-menganggap televisi sebagai alat yang dimanfaatkan para pemilik modal besar untuk melenakan, membuat bodoh, dan mendorong masyarakat enggan berpikir tentang masalah-masalah mendasar terkait penderitaan rakyat banyak. Dengan kata lain, televisi adalah alat yang disengaja dikembangkan para penguasa modal untuk menipu dan membuat masyarakat cuma berpikir tentang hal-hal remeh dan merasa dunia sebenarnya “baik-baik saja”.
Televisi komersial adalah bisnis. Pemiliknya sekedar cari uang. Keuntungan diperoleh dari selisih pemasukan iklan dengan biaya produksi. Realitas bisnislah yang menyebabkan mereka terpaksa melahirkan program-program murahan seperti yang dikeluhkan masyarakat. Banyak program di berbagai stasiun televisi yang mengudara secara nasional di Indonesia memang bukan saja bernilai estetika rendah, melainkan juga merusak masyarakat. Contoh-contohnya terentang dari obrolan mesum, pengobrak-abrikan kebudayaan, gosip yang berpotensi menghancurkan nama baik, pengeksposan kehidupan pribadi, pelecehan perempuan, penghinaan fisik, kekerasan yang berdarah-darah, kebohongan kuis, kebohongan reportase investigatif, propaganda politik pemilik yang terang-terangan dalam berita dan kuis, penyebaran agama yang memecah bangsa, tampilan setan di pagi hari, dan sebagainya.
Orde Media : Sebuah pengantar
Roy Thaniago (Direktur Remotivi 2010-2015)
Keruntuhan suatu rezim fasis atau otoriter selalu disertai dengan harapan akan lenyapnya dominasi, kekerasan, dan manipulasi. Namun, kuasa kaum oligarki seperti halnya perlombaan estafet yang pada gilirannya mengoper tongkat estafet kekuasaan. Tongkat itu kini berada di tangan industri media. Kaum oligarki melalui industri media berkuasa dengan merumuskan percakapan ratusan juta warga Indonesia. Media mengatur apa yang seharusnya dibicarakan dan apa yang dihindari untuk dibicarakan. Ruang publik disesaki oleh kepentingan elite untuk melayani nafsu ekonomi-politiknya. Kerja media dioperasikan dengan bersandar semata-mata pada pasar. Padahal, pasar adalah rimba penaklukan antarspesies.
Informasi yang diproduksi kebanyakan media bukan diproyeksikan untuk memberdayakan, melainkan memperdaya warga agar giat mengonsumsi dan menaruh perhatian pada isu-isu yang diagendakan media, yang sering kali menggeser fokus subtansinya ke remeh-temeh di seputarnya. Warga dijauhkan dari hal-hal subtansial, dan didekatkan pada hal-hal bombastis, karena penonton dipandang sebagai konsumen, bukan warga negara yang punya hak dan akses atas informasi yang benar dan bermutu, yang bisa dipakai sebagai pertimbangan membuat tindakan.
Kekuasaan media terlihat dalam hal politik ketika Pemilu 2014, media telah berkuasa dalam memilihkan pemimpin negara, melancarkan agenda elite politik, mengadonnya menjadi komoditas, dan meraup untung dari pertikaian horizontal yang terjadi di antara para pendukung politik. Semua itu dilakukan media sambil terus mengulang istilah “pendidikan politik”, “pesta rakyat”, atau “partisipasi publik”, seolah ingin meyakinkan bahwa kita sedang mempraktikkan demokrasi. Maka, media tidak saja mengatur selera busana dan mendikte cara mengisi waktu luang, tapi juga memilihkan presiden dan mengarahkan ke mana sebuah kebijakan publik harus bermuara, maka tibalah kita di era Orde Media.
 Metro Tv Effect
Samiaji Bintang
Tulisan ini berisi kritikan tentang bagaimana media televisi bertindak melebihi peran mereka sebagai media informasi. Ketika terjadi bencana alam laporan-laporan wartawan Metro Tv membangkitkan kesadaran dan solidaritas nasional serta partisipasi masyarakat luas. Metro Tv memanfaatkan simpati dan kedermawanan masyarakat dengan membuat program Indonesia Menangis yang menampung dan mengelola sumbangan publik. Hal ini pun di ikuti oleh stasiun TV One dan berbagai stasiun televisi lainnya. Seharusnya, media televisi mengarahkan pemirsa memberi bantuan lewat lembaga-lembaga bantuan yang berpengalaman dan profesional seperti Palang Merah Indonesia.
Jika masing-masing media berita yang semestinya bertugas sebagai “anjing penjaga” sibuk mengumpulkan dan menyalurkan dana bantuan kemanusian, siapa yang akan melaporkan dan memastikan miliaran dana bantuan itu benar-benar sampai ke tangan korban? Media sebagai pelopor dan “anjing penjaga” punya tugas penting: mengawasi proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Jangan sampai media menjadikan pemberitaan bencana yang intensif hanya trik mendongkrak popularitas dan prestise stasiun televisi berita.
Panggil Aku Wartawan
Indah Wulandari
Seorang produser berita malam Global Tv Agus Mundzir mengatakan bahwa “enggak ada media massa yang tidak memihak. Kalaupun ada, adanya di surga”. Para wartawan seringkali di kontrol oleh pemilik media dalam memberitakan sesuatu hal. Padah sesungguhnya berita itu harus cover both sides, berimbang, dan kerjanya harus berdasar Kode Etik Jurnalistik.
Wartawan juga diperas habis-habisan di lapangan untuk menghasilkan berita. Sesungguhnya menurut Kovach “seorang wartawan adalah makhluk asosial”. Asosial tidak sama dengan anti sosial. Seorang wartawan boleh mengemukakan pendapatnya, tetapi bukan dalam sebuah berita melainkan kolom opini. Setiap wartawan harus bersikap independen terhadap narasumber yang mereka liput atau wawancara.
Objektivitas bukanlah tujuan dari sebuah liputan jurnalistik, melainkan sebuah metode “disiplin dalam melakukan verifikasi”. Objektiv sebagai liputan yang berimbang (balance) tidak berat sebelah (fairness), dan akurat. Balance maupun fairness bukanlah sebuah tujuan, melainkan metode. Liputan yang balance malah bisa mengeruhkan kebenaran. Begitu pula dengan fairness. Prinsip profesionalisme wartawan ditentukan oleh dua hal, pertama sikap independensi wartawan dari setiap narasumbernya. Kedua adalah perlindungan terhadap audiens, pengiklan, dan citizen. Jika terjadi sebuah konflik, maka yang harus dilayani paling dahulu adalah citizen.
Maka, setiap reporter harus mengawal berita yang mereka liput di lapangan hingga ke proses editing. Liputan sebuah peristiwa adalah sebuah karya yang tanggung jawabnya terletak pada tiap indvidu reporter yang meliput.
Politik Media dalam Penyebutan “Ical” atau “ARB”
Kamil Alfi Arifin
Akronim tiga huruf “ARB” dianggap lebih mustajab dan mampu mendatangkan keuntungan dan kekuasaan politik bagi diri dan partainya. Pergantian inisial didasarkan pertimbangan marketing dan strategi politik untuk mendulang dukungan maupun suara pada pemilihan mendatang. Sebutan “Ical” juga identik dengan berbagai kasus-kasus yang bisa menghambat pencapresannya seperti kasus lumpur Lapindo yang sangat identik dengan akronim “Ical”.Sehingga, media-media di bawah kepemilikan Aburizal Bakrie menggunakan sebutan “ARB” bukan lagi “Ical”.
Pada penilaian yang ekstrem, memang tak ada media yang sepenuhnya netral. Netralitas itu hanya mitos. Ataupun jargon semata. Sekarang sudut pandang media menjadi seragam. Seragam dalam mendukung kepentingan satu orang dan golongan saja, yang tak lain para pemilik modal. Fungsi kritis media sebagai anjing penjaga bagi kekuasaan (baik ekonomi dan politik) yang menyimpang, kini malah berbeda. Muncullah anggapan yang pesimistis bahwa media sebagai anjing penjaga sudah dianggap semakin lunak pada majikannya. Ia hanya menggonggong pada orang lain, dan diam di hadapan sang tuan. Anjing-anjing itu sedang lapar, dan menengadah menjulurkan lidahnya pada para pemilik modal.
Noam Chomsky mengatakan bahwa media selalu memiliki bias-bias tertentu dalam dirinya. Media tidak pernah bisa memosikan dirinya seperti layaknya burung onta yang steril. Media pasti berpihak. Sialnya lagi, media berpihak dan loyal pertama-tama bukan pada warga melainkan pada para saudagar. Chomsky menuding media telah memainkan peran partisan dalam politik pencapresan yang menghamba pada kepentingan modal si pemilik media dengan menggunakan bahasa sebagai strategi. Media dengan sempurna menjelma sebagai alat tunggangan politik dan mesin propaganda yang gigih.

Referensi, Remotivi. 2015. Orde Media (Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru). Yogyakarta. Penerbit Insistpress


Novel ini merupakan karya Pramoedya Ananta Toer setelah melakukan reportase singkat di wilayah Banten Selatan pada akhir tahun 1957.
Novel ini menceritakan kehidupan seorang pemuda bernama Ranta bersama istrinya Ireng dalam menghadapi kesusahan hidup yang telah begitu lama mereka alami. Setiap hari mereka hidup serba kekurangan yang menyebabkan anak-anak mereka tak mampu bertahan hidup karena cacingan. Namun, di tengah kesulitan mereka ada saja yang tetap menindas mereka, dia adalah seorang Lurah di daerahnya yang bernama Juragan Musa. Ranta selalu diberikan perintah untuk mencuri bibit karet dengan upah yang sedikit, sebenarnya ia tidak ingin melakukan pekerjaan buruk itu namun karena takut oleh kekuasaan Juragan Musa dan kemiskinannya maka ia melakukannya dengan upah seringgit.
Suatu malam setelah melakukan pekerjaan Ranta pulang dengan tangan yang berdarah. Ireng sangat ketakutan melihat keadaan suaminya, untunglah ada dua orang singgah bermalam di bale di depan rumahnya dan Ranta pun dipapah oleh kedua orang petani singkong tersebut. Ranta menceritakan bahwa ia telah dipukuli oleh anak buah Juragan Musa setelah mencuri karena ia meminta upah namun ia balik dituduh telah mencuri bibit si Juragan Musa. Ranta berkata kepada istrinya bahwa mereka telah hidup dalam kesakitan melulu, kalau bukan daging yang sakit, yaa hati yang sakit. Kedua orang tersebut melihat Ranta yang sangat tegar menghadapi segala kesulitan, setelah keadaan Ranta membaik mereka memohon untuk pergi. Sebelum pergi Ranta meminta mereka untuk datang kembali dan mengajak kawannya yang lain.
Tidak lama setelah kepergiaan kedua orang tersebut, datanglah Juragan Musa berteriak memanggil Ranta, karena yang dipanggil tidak keluar maka Juragan Musa mengancam akan melaporkan Ranta kepada polisi. Sehingga, Ranta pun akhirnya keluar menemui Juragan Musa yang sudah terlihat marah. Namun, Ranta tak kalah marah seperti akan menerkam Juragan Musa. Perasaan ketakutan melihat Ranta seperti binatang buas membuat Juragan Musa melompat mundur sehingga aktentas dan tongkatnya terjatuh ke tanah dan dia sendiri lari terbirit-birit.
Tidak disangka kedua orang petani singkong itu datang bersama satu temannya yang pernah juga dipukuli oleh anggota Juragan Musa, dari orang ini mereka ketahui bahwa Juragan Musa merupakan anggota kelompok DI yang selalu menyebar teror di daerah mereka. Ranta dan keempat tamunya lalu berunding untuk melaporkan Juragan Musa kepada Komandan yang bertugas menjaga desa mereka. Setelah berkemas-kemas Ranta, istrinya Ireng, dan ketiga orang tersebut menuju ke markas komandan untuk membawa aktentas dan tongkat Juragan Musa sebagai bukti bahwa dia adalah anggota DI sehingga tidak pernah diteror oleh DI.
Juragan Musa dengan penuh ketakutan tiba di rumahnya yang disambut oleh istri mudanya yang sedang khawatir karena untuk pertama kali suaminya telat pulang. Dengan gusarnya Juragan Musa berteriak mencari bujangnya Rodjali, istrinya memberitahu bahwa Rodjali ua suruh pergi menyusul Juragan Musa. Mendengar hal itu Juragan Musa memarahi istrinya bahkan menuduh istrinya sebagai pembawa sial lalu ia masuk ke kamar mengambil keris pusakanya. Juragan berniat untuk pergi membunuh Ranta. Tibalah Rodjali yang kemudian di suruh oleh Juragan Musa untuk memanggil para anak buahnya yang merupakan anggota DI untuk berkumpul di rumahnya. Tak lama muncullah anak buah Juragan Musa yang diperintahkan mencari Ranta untuk dibunuh.
Juragan Musa yang ditinggal berdua dengan istrinya kemudian terlibat pertengkaran yang berujung penganiayaan terhadap istrinya. Namun, tak lama datang prajurit bersama Komandannya disertai dengan Ranta datang untuk menangkap Juragan Musa dengan bukti-bukti yang ditemukan di dalam tasnya. Juragan Musa tetap menolak dituduh sebagai anggota DI namun komandan terus mendesaknya agar mengaku. Tak lama kemudian Komandan mendapat kode dari anak buahnya jika ada orang yang datang. Komandan dan prajuritnya bersembunyi dan menyuruh Juragan Musa beserta istrinya bertingkah seperti biasanya. Tamu-tamu yang datang membuktikan bahwa Juragan Musa adalah seorang petinggi DI, ia akhirnya ditangkap oleh Komandan lalu di bawa ke Markas.
Ranta lalu diangkat menjadi Lurah sementara karena telah membantu Komandan mengamankan daerahnya. Sementara waktu Ranta bersama istrinya tinggal di rumah Juragan Musa karena rumahnya telah dibakar oleh anak buah Juragan Musa. Keesokan harinya ia bercerita kepada Rodjali bahwa jika seluruh warga bersatu maka semua bisa dikerjakan dan diperlukan persatuan agar desa mereka tetap aman dari para pemberontak yang telah sewaktu-waktu datang untuk memangsa mereka.
Datanglah Komandan bersama prajuritnya meminta bantuan Ranta agar mengerahkan warganya untuk melawan para pemberontak yang telah datang untuk menyerang kembali. Tetapi sebelum mereka berangkat istri Juragan Musa meminta diri untuk kembali ke kampungnya. Ranta mencegah dengan memperingatkan bahwa pemberontak telah bersiap menyerang dan sangat berbahaya jika dia tetap ingin keluar dari kampung. Namun, istri Juragan Musa tetap bersikeras pergi tanpa menghiraukan peringatan Ranta. Rodjali di suruh menyusul mantan majikannya agar istri Juragan Musa tetap aman.
Setelah malam tiba terjadilah pertempuran antara prajurit-prajurit bersama warga melawan pemberontak yang ingin membalas dendam atas ditangkapnya Juragan Musa. Akhirnya, pemberontak berhasil dikalahkan oleh persatuan antara prajurit dan warga. Hanya saja istri Juragan Musa yang menderita karena mendapat siksaan oleh pemberontak ketika ia sedang menunggu truk.
Kampung mereka kembali aman dibawah pimpinan Lurah Ranta. Komandan sangat berterimakasih atas bantuan Ranta beserta warganya dalam membantu memberantas pemberontak yang selalu menyebar ancaman. Lurah Ranta, Komandan, prajurit, dan warga bergotong-royong dalam membangun desa mereka kembali setelah porak-poranda akibat penindasan pemberontak DI. Istri Juragan Musa yang telah sehat kembali juga ingin turut membantu dalam menyejahterahkan desanya dengan membantu mengajar membaca dan menulis untuk anak-anak gadis dan istri-istri di desanya. Seluruh warga desa larut dalam kebahagian untuk menyejahterahkan hidup mereka dan juga untuk keturunan mereka.

Referensi :
Pramoedya. Ananta Toer. 2015. Sekali Peristiwa Di Banten Selatan. Jakarta. Lentera Dipantara.