Matahari ibukota Jakarta yang tetap menyengat walaupun langit kelihatan berkabut karena asap. Hal itu tidak menyurutkan semangatku berkunjung ke tempat yang menurutku adalah surga mungkin para penyuka buku juga akan menyebutnya semacam itu. Aku menuju ke gedung baru Perpustakaan Nasional di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Sejak diresmikan oleh Presiden Joko Widodo tanggal 14 September 2017, menurutku ini adalah langkah nyata untuk meningkatkan minat literasi yang sedang terpuruk.
The World’s Most Literate Nations (WMLN) pada tahun 2016, menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara. Begitu juga menurut badan pendidikan PBB (UNESCO) menempatkan minat baca Indonesia hanya 0,01%, artinya hanya 1 dari 10.000 orang yang menyukai membaca. Mereka yang suka membaca buku adalah makhluk langka di Indonesia tetapi itu bukan sebuah hal yang patut dibanggakan melainkan sebaliknya. Sebenarnya pemerintah telah berhasil mengentaskan buta aksara, sejak Sekolah Dasar bahkan mungkin sekarang di Taman Kanak-kanak telah ada pelajaran membaca. Mengenali aksara adalah keharusan di jaman sekarang tetapi menumbuhkan budaya baca masih mengalami kesulitan. Selain kesadaran akan pentingnya budaya membaca yang masih kurang, hal ini diperparah dengan infrastruktur ataupun akses buku bacaan yang masih sulit menjangkau hingga ke daerah-daerah.
Saya akan menceritakan bagaimana Perpustakaan Nasional sangatlah berbeda dengan kebanyakan konsep perpustakaan yang pernah aku kunjungi. Sebenarnya tidak banyak perpustakaan yang pernah aku kunjungi, hanya tempat di mana saya pernah belajar namun dari sanalah saya bisa menyimpulkan bahwa kebanyakan desain perpustakaan sudah terbilang ketinggalan jaman padahal untuk mencari pembaca sangatlah sulit jika perpustakaan tidak mengikuti perkembangan jaman dan tekhnologi yang semakin dinamis. Gambaran perpustakaan seperti bangunan tua tidak terurus, deretan meja dan bangku yang berdebu, rak-rak buku yang tinggi, ruangan yang pengap dan panas, buku-buku yang teorinya telah ketinggalan, dan penjaga perpustakaan yang terlihat loyo karena telah tua menjadi stigma yang melekat jika kita berbicara tentang perpustakaan.
Kemegahan Perpustakaan Nasional telah terlihat ketika saya memasuki halamannya, terlihat bangunan perpustakaan yang menjulang tinggi. Perpustakaan Nasional memiliki 27 lantai atau setinggi 126,3 meter dengan luas bangunan 50.917 meter persegi. Hal ini menjadikannya gedung perpustakaan tertinggi di dunia, klaim Presiden Jokowi ketika meresmikannya. Sebelum memasuki gedung utama Perpusnas, kita harus melewati sebuah bangunan yang berasitektur jaman kolonial. Saat masuk, saya seperti sedang berada di ruang tamu pejabat Belanda. Ada meja dan empat buah sofa di tiap sisi pintu masuk dan keluar. Begitu juga dengan dinding di ruang tamu terdapat puluhan bingkai foto yang tergantung, beberapa diantaranya adalah layar LCD yang bisa menampilkan beragam foto yang menceritakan zaman bersejarah di Indonesia. Ada juga foto-foto anak bangsa yang berjuang untuk memajukan budaya literasi, kebanyakan mereka adalah penulis, seperti penulis kesukaan saya Pramoedya Ananta Toer dan Tan Malaka, selain itu ada juga Ahmad Wahib, Sapardi Djoko Damono, Wiji Tukul, Goenawan Muhammad, dan masih banyak tokoh-tokoh lain.

RUANG TAMU BANGUNAN KOLONIAL PERPUSNAS
Kemudian saya masuk ke ruangan yang mirip dengan kamar tamu namun di dalamnya jelas tidak ada kasur tetapi digantikan dengan layar di dinding yang terpancar dari proyektor. Di ruangan itu saya bisa menyaksikan bagaimana sejarah aksara dan pustaka di Indonesia. Ternyata, sejarah awal bukti penggunaan tulisan di masyarakat Indonesia di mulai ketika Era Hindu-Budha dengan ditemukannya dokumen paling awal berupa prasasti Yupa di Kalimantan Timur, yang berasal dari abad ke 5. Kemudian, memasuki Era Islam yang diiringi dengan penyebaran aksara Arab yang mendapat tempat terutama di wilayah berbahasa Melayu, sedangkan di waktu yang sama beberapa masyarakat masih mempertahankan jenis tulisannya seperti Jawa, Sunda, Bugis, Makassar, Rencong, dan Batak. Terkahir masuklah pengaruh atau Era Eropa yang memperkenalkan penggunaan aksara Latin hampir di seluruh wilayah Indonesia pada abad ke 16. Para kaum misionaris memegang peran penting dalam proses latinisasi di Indonesia. Bangunan berarsitektur kolonial ini membawa saya mengingat bagaimana budaya menulis dan membaca telah lama dekat dengan masyarakat Indonesia serta pentingnya pendokumentasian dalam bentuk tulisan. Aku selalu mengingat tulisan Pramoedya Ananta Toer dalam buku Bumi Manusia, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.

ANEKA RAGAM AKSARA NUSANTARA
Mata saya lalu tersorot pada tulisan “Perpusatakaaan Nasional Republik Indonesia” dan terjemahannya dalam empat bahasa negara lain yang terpampang di dinding Perpustakaan Nasional. Setiap orang berhak menggambarkan surga di kepalanya, termasuk aku yang menggambarkannya sebagai rumah yang dipenuhi dengan buku dengan beberapa gelas kopi hitam hangat. Mungkin di Perpusnas tidak boleh minum secangkir kopi hitam sambil membaca tetapi buku yang tak terbatas untuk dibaca sudah aku anggap bagian dari surga.
Memasuki lantai pertama, pengunjung disambut dengan foto enam presiden yang pernah memerintah Indonesia. Selain itu, saya sudah terkagum-kagum melihat tumpukan buku-buku yang bersampul tua disusun setinggi empat lantai. Sebelum naik ke lantai berikutnya, aku diarahkan oleh security untuk menyimpan tas dan barang bawaan lainnya seperti makanan dan minuman di loker. Ini salah satu cara menjaga kebersihan dan agar pengunjung yang merasa memiliki buku yang disukanya tidak membawanya pulang secara sembunyi-sembunyi. Sebagai pembaca yang baik dan budiman, tidak sepatutnya kita mengambil buku yang bukan hak milik kita apalagi buku teman yang dipinjam.
Saya dan pengunjung lainnya tidak dibolehkan mengakses lantai lain sebelum mendaftarkan diri sebagai anggota di Perpustakaan Nasional. Awalnya aku berpikir ini terlalu birokratis dan pasti akan memakan waktu lama untuk antri membuat kartu anggota. Ternyata anggapan saya salah, namanya perpustakaan modern, semuanya serba tekhnologi dan cepat. Jangan samakan dengan proses pembuatan E-KTP atau pembuatan kartu kredit. Syaratnya pun tidaklah banyak hanya butuh KTP. Tidak perlu antri untuk mengisi formulir pendaftaran, disediakan puluhan layar computer untuk registrasi. Setelah itu tinggal duduk menunggu nama dipanggil untuk dikonfirmasi terkait identitas dan pengambilan foto. Pelayanannya sangatlah cepat, kartu anggota Perpusnasku jadi dalam waktu 3 menit setelah di foto dibadingkan dengan E-KTP yang bisa berminggu-minggu. Aku menghitung kurang lebih 20 menit saja untuk proses pembuatan kartu anggota.
Aku menaiki lantai demi lantai dengan tangga escalator, ternyata di lantai empat ada kantin jadi jangan takut kelaparan jika ingin membaca dari pagi sampai perpustakaan tutup. Masih di lantai yang sama dipamerkan buku-buku koleksi dari tiap provinsi yang ada di Indonesia, kebanyakan berisi tentang keadaan geografi, budaya, bahasa dan penemuan-penemuan purba di tiap-tiap provinsi.
Selanjutnya, untuk ke lantai 5 hingga 24 disediakan lift sebanyak 5 buah, sehingga pengunjung tidak perlu berkeringat untuk mendaki setiap lantai. Aku kemudian berkunjung ke lantai 7, Layanan Koleksi Anak, Lansia, dan Disabilitas. Suasana di layanan anak ini seperti taman bermain yang dilengkapi dengan buku-buku cerita khusus anak-anak. Ada bermacam-macam gambar kartun tokoh cerita dongeng khas Indonesia di tiap tiang gedung yang menambah semaraknya ruangan ini. Seandainya saya masih kanak-kanak mungkin saya akan lebih memilih untuk ke Perpustakaan Nasional daripada ke sekolah. Ini menunjukkan bagaimana seriusnya pemerintah meningkatkan minat baca masyarakatnya sedini mungkin. Aku belum pernah melihat perpusatakaan yang seramah ini terhadap anak-anak, sungguh tidak ada kekakuan terhadap konsep perpustakaan tradisional. 
 
RUANG LAYANAN ANAK
Gambaran perpustakaan di pemikiranku adalah bangunan yang hanya menyimpan beranekaragam buku, dokumen atau teks-teks tertulis lainnya. Namun setelah aku memasuki lantai 8, layanan koleksi visual, konsep perpustakaan di kepalaku harus  direkonstruksi ulang. Di ruang ini disediakan komputer untuk menonton koleksi film yang ada di Perpustakaan Nasional. Selain itu terdapat berbagai macam koleksi kaset tape, CD film-film yang pernah populer dari produksi film nasional hingga hollywood, ada juga CD beraneka ragam genre lagu, mulai lagu anak-anak, pop Indonesia, dangdut, pop barat, rock, musik jazz, bahkan CD musik tradisional atau lagu-lagu daerah yang jaman dulu banget. Perpustakaan Nasional bukan hanya untuk mereka yang suka membaca tetapi juga untuk para penyuka musik atau film.



Setiap daerah Indonesia memiliki sejarah tulisnya masing-masing dengan menggunakan bahasa yang beranekaragam dan dengan media yang berbeda pula. Ruang Layanan Koleksi Nusantara di lantai 9 seperti sebuah museum untuk memamerkan naskah-naskah kuno yang pernah ada di Indonesia. Babad Dipenogoro, Panji Angraeni, Negarakertagama, La Galigo, Kitab Tibb, dan masih banyak lagi. Ini cocok untuk mereka yang menyukai benda-benda purbakala. Tetapi buat mereka yang menyukai buku-buku langka, bisa langsung ke Lantai 14. Di sana banyak koleksi buku tua dan langka, kebanyakan berbahasa asing seperti Belanda, Inggris, dan Cina. Aku tidak heran dengan banyaknya koleksi buku yang berbahasa Belanda karena Indonesia pernah dijajah selama kurang lebih 350 tahun. Namun, jika pengunjung ingin membacanya harus meminta bantuan kepada pustakawan yang bertugas untuk mengambil dari rak karena buku-buku tersebut terlihat rapuh di makan waktu.

LAYANAN KOLEKSI NUSANTARA
Selanjutnya masih banyak lagi tempat-tempat menarik yang tersedia di gedung Perpustakaan Nasional, seperti lantai yang khusus untuk koleksi peta, foto dan lukisan. Waktu itu yang dipamerkan kebanyakan gambar sampul majalah Tempo, ada gambar penyidik KPK Novel Baswedan dan tidak jauh darinya ada juga karikatur tersangka korupsi E-KTP, Setya Novanto. Selain itu ada juga ruangan yang dikhususkan buat mereka pemburu wifi gratis, tempatnya pun sangat nyaman. Pengunjung bisa memilih mau duduk di kursi, sofa atau selonjoran dengan bantal di karpet. Bagi mereka yang tidak membawa laptop, ada juga ruangan yang seperti warnet. Bagi mereka yang ingin baca koleksi majalah dari berbagai negara maju dan ASEAN ada di lantai 23.




Lantai yang menjadi penutup perjalanan saya adalah lantai 24, Layanan Koleksi Budaya Nusantara dan Eksekutif Lounge. Ruangan ini sangat nyaman untuk membaca sambil melihat ibukota Jakarta dari ketinggian. Selain itu tersedia fasilitas tempat duduk yang sangat mewah untuk sebuah perpustakaan. Beberapa lama aku di berkeliling di lantai terakhir ini, kebanyakan pengunjungnya berfoto di balkon, entah mengarah ke Tugu Monumen Nasional ataupun membelakangi gedung-gedung pencakar langit.



Perpustakaan Nasional di bangun dengan serius oleh pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakatnya yang semakin menurun. Sekarang setelah adanya perpustakaan nasional seharusnya mereka yang khususnya berada di Ibukota Jakarta tidak punya alasan keterbatasan buku atau wajah perpustakaan yang tradisional karena kita telah memiliki Perpustakaan Nasional yang berdiri megah dan dilengkapi tekhnologi modern. Penyuka buku bukan hanya di ibukota, banyak diantaranya berada di daerah-daerah yang jauh mulai dari Pulau Sabang sampai Merauke. Kesungguhan pemerintah pusat harus diikuti oleh pemerintah daerah dengan melakukan pembaharuan terhadap perpustakaan di masing-masing daerahnya. Janganlah hanya menjadikan perpustakaan daerah sebagai bagian dari formalitas terbentuknya sebuah pemerintahan. Terakhir, aku menyarankan bagi mereka yang berkunjung ke Jakarta agar menyempatkan waktu untuk merasakan nyamannya membaca di perpustakaan yang memiliki konsep lebih modern dan mungkin membaca sambil memandang Monas ataupun melihat senja turun di tengah hiruk-pikuknya warga ibukota.




Film Planet of The Apes yang disutradari oleh Tim Burton merupakan film yang membuat saya merasa ketakutan jika membayangkan kelak bumi yang sekarang dikuasai oleh manusia diambil alih oleh kawanan kera. Saat ini manusia adalah predator yang paling beringas membunuh hewan dan merusak hutan untuk kepentingan ekonomi. Kelak jika kera-kera menguasai bumi, apakah mereka akan menjadi predator yang membinasakan umat manusia atau sebaliknya mereka mampu hidup berdampingan dengan manusia, selalu menjadi pertanyaan dalam benak saya.
Hampir setiap hari di media kita menyaksikan bagaimana beringasnya manusia membunuh hewan dan merusak hutan untuk membuka pertambangan dan lahan perkebunan. Bahkan, manusia menganggap hewan adalah hama bagi mereka. Seperti halnya yang terjadi di Pulau Borneo (Kalimantan), luasnya hutan hujan telah berganti dengan semakin meluasnya lahan perkebunan sawit dan karet serta semakin rusaknya hutan karena tanahnya mengandung batubara yang dijadikan bahan bakar bagi usaha industri.
Orangutan Kalimantan (Borneo Pygmaeus) tersebar di wilayah Kalimantan dan Malaysia (Sabah dan Sarawak) jumlahnya semakin berkurang akibat dari hutan tempat mereka tinggal telah rusak dan perburuan Orangutan untuk dijadikan hewan peliharaan atau diikutkan dalam sirkus serta dibunuh. Namun kita masih dapat menyaksikan kepedulian terhadap kelangsungan hidup Orangutan agar mereka tidak punah seperti yang dilakukan oleh Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation. Mereka yang direhabilitasi di kawasan hutan buatan BOS adalah Orangutan dan Beruang Madu yang malang namun mereka lebih beruntung daripada Orangutan yang mati di alam liar karena ulah manusia.
Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation memiliki dua pusat rehabilitasi bagi Orangutan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Salahsatu yang saya kunjungi adalah pusat rehabilitasi yang terletak di Samboja Lestari, Kalimantan Timur, sekitar 38 km dari Kota Balikpapan. Perjalanan bisa ditempuh dengan mengendarai mobil karena jalanan yang akan kita lalui beraspal, namun setelah memasuki kawasan konservasi, kita harus melalui jalan tanah yang berbukit dan bila hujan, kubangan air akan menyulitkan untuk itu sebaiknya memakai mobil offroad. Perjalanan saya menuju ke pusat rehabilitasi Orangutan merupakan perjalanan pertama sehingga saya tidak mengetahui jika ingin berkunjung harus mendaftar terlebih dahulu untuk mendapatkan nomor antrian. Pengunjung yang bisa masuk dalam pusat rehabilitasi dibatasi hanya berkisar 50 orang per hari. Mungkin itu terdengar tidak adil bagi pengunjung atau menguntungkan untuk sebuah objek wisata. Namun, inilah yang membedakan tempat rehabilitasi dan kebun binatang. Di tempat rehabilitasi ini, Orangutan diajarkan/dilatih agar bisa dibebasliarkan sehingga interaksi mereka dengan manusia sangat dibatasi untuk mengembalikan insting binatang mereka.
Sebelum memasuki kawasan rehabilitasi BOS, kita harus melewati pos penjagaan. Kami beruntung karena petugas membolehkan kami untuk masuk melihat proses rehabilitasi Orangutan. Petugas yang akan menemani kami bernama Nisa. Dia telah bekerja merawat Orangutan yang sedang direhabilitasi selama 15 tahun. Sambil membawa kami berkeliling, dia juga bercerita tentang Orangutan dan Beruang Madu yang harus menjalani rehabilitasi. Kebanyakan Orangutan yang berjumlah 149 ekor dan Beruang Madu sebanyak 50 ekor memiliki latarbelakang kisah yang sangat menyedihkan yang semakin memperlihatkan bagaimana beringasnya manusia merebut hak mereka.
Sekitar 500m dari pintu masuk, kita tiba dikandang rehabilitasi beruang madu. Di kandang yang luasnya kira-kira 2.5 hektar tinggal tiga ekor beruang madu bernama Lady, Dawai, dan Kristina hasil sitaan dari pemilik sebelumnya. Kedatangan kami disambut oleh Lady yang mendekat ketika mendengar dan mencium bau manusia, ia berusaha mencari perhatian kami, indera penciuman beruang madu bisa hingga radius 2km. Menurut Nisa, Lady telah terbiasa berinteraksi dengan manusia sehingga naluri binatangnya telah menghilang. Seharusnya jika kita mendekat beruang madu harusnya menjauh bukan mendekat. Begitu halnya dengan pola hidup yang seharusnya tergolong hewan nokturnal namun sekarang mereka beraktifitas di siang hari. Lady dan kedua beruang madu lainnya telah terbiasa meminta makanan kepada pengunjung, mereka telah kehilangan naluri berburunya, sehingga sulit untuk dibebaskan ke alam. Beruang madu dalam sehari mampu menghabiskan buah-buahan sebanyak 5 kg, meminum susu 1 liter, dan mereka sangat suka meminum madu.
Setelah dari tempat rehabilitasi Beruang madu, kami kembali mengendarai mobil menuju ke tempat rehabilitasi Orangutan. Saya terkejut melihat tempat rehabilitasi Orangutan karena mereka ternyata tidak di kandangkan tetapi dilepaskan di sebuah pulau buatan yang dikelilingi sungai-sungai kecil. Mereka sengaja menjadikan sungai sebagai batas tiap pulau meniru hutan tempat Orangutan yang sebenarnya.  Sepenuturan Nisa, terdapat 13 Pulau buatan yang dijadikan tempat rehabilitasi. Luas satu pulau mulai dari 1 hektar hingga 4 hektar walaupun menurut saya itu adalah tempat yang luas untuk dijadikan tempat tinggal namun tidak untuk Orangutan yang memiliki kebiasan menjelajah. Orangutan jantan adalah hewan territori sehingga satu pulau hanya dihuni satu pejantan dan 2-5 betina, itupun kalau mereka merasa cocok satu sama lain jika tidak maka akan terjadi persaingan yang membuat mereka saling membunuh.
Nisa lalu kembali bertutur tentang Orangutan yang ada di tempat rehabilitasi, mereka (Orangutan) yang bernasib malang. Ternyata terdapat banyak kisah pilu mengenai Orangutan yang belum saya ketahui, selain Orangutan ini diambil dari sirkus, ada juga yang disita karena dijadikan hewan peliharaan, atau ditemukan oleh warga diperkebunan yang kemudian diselamtakan ke tempat rehabilitasi. Selain itu, sekitar 40 Orangutan menderita TBC yang ditularkan oleh manusia, TBC mereka tidak bisa disembuhkan karena bukanlah penyakit yang bisa mewabah di kawanan Orangutan. Begitu halnya dengan kebanyakan bayi Orangutan di tempat rehabilitasi ditemukan tanpa induk. Sehingga pengasuh harus mengajarkan kebiasaan yang dilakukan oleh Orangutan, naluri meniru mereka sangatlah peka.
Kami kemudian bertemu dengan Orangutan Jantan yang bernama Bujang, menurut Nisa umur Bujang sekarang 31 tahun, ia telah tergolong dewasa. Umur Orangutan bisa hingga 65 tahun seperti halnya manusia karena mereka memiliki kekerabatan Gen yang sangat dengan kita. Bujang lahir di tempat sirkus hingga umur 15 tahun lalu dibawa ke tempat rehabilitasi sekarang dia sudah 16 tahun direhabilitasi namun petugas rehabilitasi tidak mampu mengembalikan naluri binatang Bujang karena telah terlalu lama berinteraksi dan meniru kebiasaan manusia. Bujang ketika berjalan menggunakan kedua kaki-nya layaknya seorang manusia. Dia tidak mengfungsikan tangannya ketika berjalan. Namun, hal yang paling menyedihkan yang diderita oleh Bujang adalah masalah psikologisnya. Ia dinamakan Bujang karena sama sekali tidak tertarik kawin dengan Orangutan betina walaupun telah dewasa. Menurut Nisa, si Bujang malah lebih tertarik dengan perempuan manusia yang berambut pirang. Ia sesekali melirik kami yang berada diseberangnya sambil beristirahat di bawah bangunan yang dijadikannya tempat berteduh dari sinar matahari siang. Di pulau tempat Bujang, tinggal pula Orangutan betina bernama Ani. Sama halnya dengan Bujang, Ani memiliki permasalahan psikologis yaitu tidak tertarik dengan Orangutan jantan tetapi tertarik dengan laki-laki manusia karena dari bayi ia diasuh dengan petugas laki-laki. Ani ditemukan di perkebunan saat umurnya masih setahun, sekarang dia telah berumur 25 tahun dan sudah tergolong dewasa. Dengan faktor kesamaan itu Bujang dan Ani ditempatkan di pulau yang sama, namun walaupun begitu mereka tidak pernah kawin.
Di sebelah pulau tempat tinggal Bujang dan Ani, terdapat Orangutan lainnya yang bernama Romeo yang diselamatkan dari tempat sirkus di Taiwan dan Isti dari sirkus Ancol. Mereka juga telah sangat terbiasa berinteraksi dengan manusia sehingga tidak takut jika ada manusia yang mendekat. Mbak Nisa bercerita banyak tentang kebiasaan Orangutan yang belum kami ketahui. Orangutan itu hewan yang sangatlah pemalu namun juga pendendam. Perilaku pemalu Orangutan betina bisa terlihat ketika melahirkan petugas yang menjaganya selalu siaga namun pada saat petugas lengah tiba-tiba anaknya sudah lahir. Sedangkan pendendam karena Orangutan itu bisa mengingat siapa yang baik dan jahat terhadap mereka. Orangutan sangat membenci dokter hewan karena tiap tahun mereka rutin diperiksa kesehatannya. Makan yang paling disukai oleh Orangutan adalah durian, kami lalu bertanya, apakah mereka bisa membuka buah durian yang kulit luarnya dipenuhi dengan duri. Menurut Mbak Nisa, untuk mereka itu sangatlah mudah karena kekuatan Orangutan jantan 10 kali kekuatan laki-laki dewasa dan Orangutan betina 5 kali kekuatan perempuan. Menurutku inilah jawaban sering kita temui berita di media jika Orangutan ditemukan mati dengan luka tembak di badannya. Manusia memang adalah makhluk lemah.
Kedekatan gen dengan manusia membuat beberapa prilaku Orangutan dan manusia kadang menjadi sangatlah mirip. Sepunuturan mbak Nisa di sini terdapat juga Orangutan yang “ganjen” karena puber sebelum waktunya. Siklus tubuh Orangutan betina seperti halnya dengan perempuan, yaitu mengalami haid tiap bulannya. Orangutan betina tersebut bernama Citra, ketika umurnya masih 11 yang tergolong Orangutan remaja tetapi dia telah hamil. Usia yang masih sangatlah muda membuat Citra secara mental belum siap untuk memiliki anak dan dia belum memiliki role mode (tiruan) sebagai contoh membesarkan bayi sehingga ketika anaknya lahir dia menginjak-injak bayinya. Citra adalah Orangutan yang disita dari sirkus. Namun, ada juga Orangutan betina bernama Marie yang tahu tentang melahirkan dan bisa merawat bayi-nya. Usia kehamilan Orangutan juga 9 bulan sebelum melahirkan. Aku lalu bertanya, “Selama hidup Orangutan betina bisa melahirkan berapa kali ?”. “Hanya dua kali, mereka pun baru hamil lagi anak kedua setelah 8 tahun.” Jawab Mbak Nisa. Dengan siklus melahirkan yang sangatlah lambat, mereka (Orangutan) sangatlah terancam dari kepunahan jika terus diburu dan dibunuh.
Seperti halnya manusia, Orangutan bisa juga stress yang membuat dia membentur-benturkan kepalanya. Selain itu jika Orangutan sakit, mereka akan sangat manja dan kadang juga tidak memiliki nafsu makan sehingga petugas rehabilitasi harus mengetahui makan kesukaan Orangutan yang sakit. Menurut Nisa, ada Orangutan yang jika sakit tidak mau makan buah-buahan tetapi ketika diberikan ayam goreng baru dia mau makan. Kembali lagi Orangutan ini ketika dipelihara terbiasa diberikan makan ayam goreng sehingga ia telah terbiasa memakan makanan yang sebenarnya bukanlah pakan mereka.
Sebenarnya tempat rehabilitasi Orangutan dan Beruang Madu di BOS sangatlah luas, namun karena sebelumnya kami tidak memiliki janji jadi kami harus menyudahi kunjungan kami. Namun menurutku dengan dua tempat itu saja sudah sangatlah berkesan dan bermanfaat bagi saya yang belum mengetahui informasi yang banyak terkait Orangutan dan Beruang Madu. Sebelum kami pulang, kami diajak mengunjungi penginapan yang ada di kawasan konservasi. Samboja Lodge adalah usaha yang dikelola oleh BOS Foundation, di sini pengunjung bisa menginap dan menikmati suasana alam Kalimantan. Pengunjung juga diberi pengetahuan terkait bagaimana pentingnya menjaga hutan dan menanam kembali lahan-lahan hutan yang telah kritis. Pengunjung juga bisa menikmati paket tour di kawasan hutan konservasi sehingga bisa melihat kebiasaan Orangutan di alam liar.
BOS Foundation adalah organisasi Non-profit yang didekasikan untuk merehabilitasi Orangutan dan habitatnya. Didirkan sejak tahun 1991, sejak saat itu mereka telah menyelamatkan lebih dari 2.300 Orangutan dengan bantuan 400 orang staff. Di kawasan konservasi Samboja saja terdapat kurang lebih 140 orang staff untuk merehabilitasi Orangutan dan Beruang Madu serta menjaga keamanan kawasan konservasi agar tidak di rusak manusia. Mereka (Orangutan,Beruang Madu, dan Hutan) membutuhkan donasi untuk tetap menjaga keberlangsungan kehidupan mereka. Mereka tidak akan berada dalam kawasan konservasi jika manusia tidak merusak habitat mereka. Mereka membutuhkan bantuan donasi kita, manusia-manusia yang masih peduli terhadap keseimbangan alam dan hak-hak makhluk hidup lainnya. Bumi tidak diciptakan hanya sebagai rumah bagi manusia tetapi untuk semua makhluk hidup.
Kebanyakan dari mereka tidak bisa kembali hutan, rumah mereka yang sebenarnya. Selain naluri yang semakin memudar, rumah tempat tinggal mereka telah tidak ada akibat dari meningkatnya pembukaan hutan untuk perkebunan dan pertambangan. Tidak ada lagi ekosistem hutan yang layak untuk mereka tinggali. Tempat tinggal terbaik bagi Orangutan dan Beruang madu berada di ketinggian 2500mdpl yang mana tempat itu juga cocok untuk dijadikan lahan perkebunan. Pakan mereka semakin susah selain itu mereka juga diburu dan dibunuh oleh manusia. Sehingga, beberapa dari mereka harus tinggal di kawasan konservasi selamanya, kebutuhan pakan dan perawatan mereka harus dipenuhi yang berarti memiliki biaya. Menurut Mbak Nisa, donasi yang mereka dapatkan kebanyakan dari perusahaan, orang asing, dan juga warga Indonesia yang masih peduli terhadap keberlangsungan hidup Orangutan. Semakin banyak donasi yang diterima BOS Foundation semakin baik pula untuk rehabilitasi dan kehidupan Orangutan, Beruang Madu di kawasan konservasi.
Jika kita ingin memberikan donasi kepada Orangutan dan Beruang Madu, kita diberikan banyak sekali pilihan-pilihan yang menarik. Kita bisa mengadopsi Orangutan, dengan menetukan Orangutan yang akan kita adopsi. Disediakan pula pilihan adopsi, apakah kita ingin mengadopsi per bulan, 6 bulan, 12 bulan, dan spesial adopsi.  Pilihan adopsi perbulan kita bisa memilih nama Orangutan-nya, seperti aku memilih untuk mengadopsi bayi Orangutan yang bernama Ben, ia adalah bayi Orangutan yang ditolak oleh induknya, di brosur donasi ia menampakkan wajah malas selain itu Ben adalah nama yang bagus itu seorang Orangutan. Sedangkan untuk spesial adopsi, kita mengadopsi dua Orangutan sekaligus, mereka memiliki kisah yang membuat sedih dan semakin membenarkan keberingasan manusia. Shelton ditemukan dengan sembilan luka tembakan ditubuhnya, beberapa tembakan membuat mata kanannya buta permanen. Sedangkan, Kopral tidak memiliki tangan akibat ketika dipelihara ia menderita luka bakar, saat dibawa ke tempat konservasi BOS, kedua tangannya telah membusuk sehingga harus diamputasi. Namun walaupun tidak mempunyai tangan ia tetap bisa memanjat pohon dengan menggunakan kaki dan mulutnya. Kedua Orangutan ini sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang lebih karena kekurangannya. Mereka juga tidak akan mungkin dibebasliarkan ke hutan karena di kawanan Orangutan, mereka tidak mengenal Orangutan buta dan puntung sehingga akan terus berada dikawasan konservasi. Saya bersama dengan teman-teman kantor, memilih adopsi spesial untuk Shelton dan Kopral selama setahun.
Sekali lagi mereka butuh kepedulian kita untuk menyelamatkan kehidupan Orangutan, Beruang Madu, dan semua hewan yang terancam punah akibat perburuan dan pembunuhan. Mereka jika hidup di hutan memang saling memburu namun yang menjadi musuh utama mereka bukanlah persaingan dengan binatang lainnya tetapi kita, manusia yang semakin serakah untuk menguasai bumi. Jadilah orang yang ikut peduli terhadap bumi untuk kehidupan semua makhluk hidup. Salahsatu yang bisa kita lakukan dengan memberikan donasi dengan mengklik http://donation.orangutan.co.id atau mengunjungi website www.orangutan.or.id untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait konservasi yang dilakukan oleh Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation.




Orangutan bernama Bujang
Beruang Madu bernama Dawai







Daftar antrian pengunjung
Jalanan di kawasan konservasi



Mau hidup enak-enak!
Ketika masih sekolah SD di tahun 90-an, guru paling sering bertanya, “Anto, kalau sudah besar mau jadi apa?”. Spontan aku jawab, “Pegawai Bank, bu”. Wajar saja saya mau jadi pegawai Bank karena dikeluarga hanya ada dua jenis pekerjaan, pertama jadi seperti Bapak, seorang pegawai bank yang selalu tampil dengan baju kemeja dan berdasi, kerja di depan komputer, punya kendaraan motor dinas Honda Wing, sebelum ke kantor sepatu di lap sampai kinclong. Kedua, seperti Ibu, seorang guru SD yang mengajar di pelosok desa, kalau musim hujan harus libur karena sekolahnya kebanjiran. Kebanggaan terbesar seorang guru kalau memakai pakaian Korpri saat upacara bendera 17 Agustus, selebihnya hidup seorang guru terlihat memperihatinkan karena harus berurusan dengan koperasi.
Sebenarnya, terkadang ingin jadi guru seperti ibu, mengabdi untuk kemajuan anak bangsa tetapi penampilan seorang karyawan Bank selalu lebih menggiurkan di mata seorang anak kecil apalagi saat belajar bahasa Inggris, kalau nyebut karyawan Bank harus Bank Officer daripada Teacher, it is too simple in my ears. Jadilah, saya seorang anak kecil yang bermimpi kelak bisa berpakaian necis kayak bapak.
Tetapi, semua berubah ketika masuk SMP, terkadang ada teman yang berpikiran out of the box, kalau ditanya cita-cita dia tidak menjawab sebuah pekerjaan tetapi dia menyampaikan sebuah harapan yang mungkin sangat tidak mungkin dikabulkan, kalaupun dikabulkan hanya satu dari satu milyar penduduk bumi ini. Jawaban temanku ini unik tetapi sangat menarik hatiku, dia bakal menjawab, aku ingin muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Betapa mulia cita-cita anak ini. Kadang aku berpikir, “ Brengsek, kok dia bisa kepikiran cita-cita begitu.” Semenjak saat itu aku telah tertular dengan cita-cita “mission impossible’.
Perkembangan teknologi membawa perubahan besar terhadap pemikiran anak-anak yang lahir di Era 90-an keatas, sekarang mereka sering disebut generasi Y atau Milenial. Saat masih SMP dan SMA bahkan sampai sekarang televisi sebagai media informasi terbesar yang ditonton oleh sebagaian besar anak-anak termasuk saya, saya sudah bisa menonton seorang yang terlahir miskin, tiba-tiba menjadi kaya karena bertemu dengan perempuan cantik dari keluarga kaya. Tutorial orang dewasa berpacaran atau pertengkaran-pertengkaran yang bisa timbul jika berkeluarga, terkadang aku juga senang melihat artis-artis yang saling tuding menuding penyebab perceraian mereka. Tetapi satu hal kekecewaan ketika masih kanak-kanak, kok kakak-kakak JKT 48 belum muncul, yaaa. Mungkin aku akan menjadi fans garis kerasnya.
Ingin menjadi orang kaya ketika masih tua menjadi misiku ketika beranjak dewasa, untuk foya-foya di masa muda sudah tidak mungkin terjadi karena penghasilan orangtua hanya cukup untuk membiayai warisan satu-satunya, yaitu pendidikan. Waktu itu dipikiran saya untuk jadi orang kaya hanya ada beberapa pekerjaan, pertama menjadi seorang pedagang, karena modal tidak ada jadilah saya mencoret kemungkinan itu, kedua menjadi seorang bupati, entah kenapa setiap bupati itu terlihat kaya dan mungkin memang kaya, ada yang kaya sebelum menjabat, adapula kaya setelah menjabat. Kemarin saja saya baru sadar setelah mendengar perkataan Bapak Menteri dalam Negeri mengatakan, bahwa “selama KPK ada sudah 351 kepala daerah yang tertangkap”. Untuk menjadi seorang Bupati, aku mundur karena merasa masih terlalu muda dan pusing dengan politik, sepertinya perlu modal juga. Jadilah saya mendaftar di Universitas memilih jurusan Kedokteran sebanyak dua kali, aku lihat dokter-dokter di daerahku termasuk dalam daftar orang kaya, kalau aku sakit, dokternya cuma nanya kurang lebih 5 menit, ibuku bakal membayar Rp.50ribu. Aku kadang heran, hanya dengan menjawab pertanyaan, seorang dokter bisa tahu penyakitku dan akan sembuh tetapi uang ibuku akan berpindah tangan. Sakit adalah hal menakutkan bagiku karena uang belanja ibu akan berkurang. Kali ini bukan saya yang menolak jadi dokter, tetapi sebaliknya, kemampuanku tidak mampu lulus tes masuknya, untuk jadi seorang dokter harus menjawab tes Matematika, Fisika, dan Kimia, kalau sekarang kebanyakan orang  meneriakkan anti komunis maka aku anti sama ketiganya. Jadilah, aku anak ekonomi yang berharap kuliah santai tetapi kalau sarjana jadi Manajer Perusahaan Ternama di bursa Efek Indonesia. Itulah cita-cita mulia seorang anak ekonomi untuk mereka yang telah memiliki perusahaan keluarga, sedangkan aku tetap pada “mission impossible”.
Pagi tadi, ada hiruk pikuk di salah satu postingan Instagram, si mimin mengupload mengenai captured berita online yang menampilkan sebuah perkiraan gaji seorang karyawan BUMN dalam sebulan. Hanya perkiraan, yang tahu pasti hanyalah mereka yang menerima struk gaji sebenarnya. Di kolom komentar terdapat, beberapa nyinyiran karyawan, “7 jutaan iyaa emangnyaa? sambil tag beberapa temannya. Ada juga netizen yang ngomen, “Di Papua gak sampe 7 juta”.
Saking penasarannya saya stalking akun Intsgaram mereka seperti waktu suka jadi Polisi Sosial Media mantan, ternyata mereka yang nyinyir itu termasuk adalah pegawai yang masih sangat baru, belum cukup setahun kerja. Mereka salah satu contoh generasi Y (Milenial) dan salah satu karakteristik generasi Y (Milenial) adalah mudah tergiur dengan uang karena mereka sangat mempertimbangkan keadaan finansilanya. Kalau kalian jadi generasi Y tetapi tidak memiliki barang-barang bermerk, makan di café-café yang lagi hits, ataupun tidak pernah liburan ke luar kota atau luar negeri. Berarti kamu termasuk golongan generasi Y yang “cupu”.
Sebenarnya, kebutuhan yang banyak dapat membuat seorang calon pekerja menjadi lebih termotivasi untuk semakin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar bisa bersaing mencari pekerjaan yang mengiming-imingkan gaji tinggi. Tetapi, akan menjadi bumerang jika ternyata gaji yang dijanjikan tidak sesuai dengan perkiraannya atau informasi penghasilan dari situs-situs di dunia maya yang nggak jelas sumber informasinya (yang penting banyak dikunjungin). Beban kerja yang tinggi dan penghasilan yang dirasa kurang akan menurunkan motivasi seorang pekerja atau bahkan akan sibuk mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan gaji tinggi. Seringkali mereka akan mengeluh dengan keadaan yang menimpanya sejak bergabung di perusahaan tempatnya bekerja, namun mereka lupa bersyukur bisa makan, mengirimkan uang ke kampung dan pulang lebaran dari gaji perusahaanya. Belum tentu di perusahaan lain kamu bisa berbuat begitu apalagi berpikir untuk beli sepatu bermerk dan liburan ke luar negeri. Hahahaha Anak muda sekarang mau gaji tinggi tetapi sering mengeluh, seolah-olah hanya hidupnya yang paling susah.
Seperti kata temanku waktu SMP, “Muda Foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Sekarang semboyan itu seperti, “it’s bullshit man”. Nikmati saja gaji yang sekarang sambil berusaha menemukan kebahagian apalagi buat yang masih jomblo.