Saat di bus transjakarta selepas pulang kerja, sudah jadi kebiasaan jika ada ruang sedikit yang memungkinan saya akan buka hape agar tidak bosan. Sebuah akun di aplikasi X @booknotbomb memposting ulang tweet-nya di tanggal 17 April 2024, "Kita semua adalah buruh. Istilah "karyawan" adalah warisan militerisme orde baru dan golongan karya, untuk mengikis militansi, memecahbelah kekuatan kelas buruh, dan melemahkan solidaritas kelas." Akun X ini menyadarkan saya sepertinya untuk menyambut hari buruh tanggal 1 Mei 2026, saya akan menceritakan kegiatan saya sebagai seorang buruh selama tanggal 30 April 2026.

Ada dua buruh yang pernah saya jumpai melalui bacaan, pertama Pinneberg seorang buruh dari Jerman bersama isteri dan bayi perempuannya, pernah dalam suatu babak kehidupannya dia bertengkar dengan isterinya perihal perkara uang beberapa lama selepas pernikahan, Lammchen (isteri Pinneberg), "Kita hanya akan hidup menggunakan gajimu. Kita bahkan sudah sepakat menabung, lalu ke mana perginya semua tabungan kita? Bahkan semua pemasukan ekstra kita sudah habis."
"Tapi, bagaimana bisa?" Pinneberg mulai termenung. "Kita sama sekali tidak hidup berfoya-foya."

Kedua adalah tokoh aku dalam novel Bukan Pasar Malam, yang mengayuh pedal sepeda di tengah teriknya matahari Jakarta ke rumah-rumah kawannya mencari hutang agar dapat pulang ke Blora menjenguk ayahnya yang sedang di rumah sakit.  Hutang! Presiden! Menteri! Para-paduka-tuan! Dan penyakit! Mobil! Keringat dan debu tahu kuda!---Hatiku berteriak.

Tanggal 30 April 2026, sekitar pukul 00.30 WIB, saya berbaring di atas kasur sambil scroll postingan instagram yang menampilkan seorang menteri mengklarifikasi potongan videonya yang dirujak oleh pengguna sosial media karena menyarankan perubahan posisi gerbong perempuan yang secara tidak langsung mengganti korban dengan laki-laki jika terjadi kecelakaan kereta api. Seharusnya kebanyakan orang paham bahwa menteri tersebut tidak berniat seperti itu namun pengguna sosial media sangat sensitif dengan komentar bodoh saat terjadi musibah/dukacita. Dalam kumpulan tulisan SGA di buku Affair, obrolan urban dia menulis, "Andaikan Anda diangkat jadi menteri. Meskipun Anda belum mulai bekerja, Anda sudah dianggap orang sukses. Jabatan Anda adalah sukses Anda, bahwa sebagai menteri Anda rada-rada bego, itu bukan persoalan besar. "Dia pernah jadi menteri" adalah ucapan yang menunjukkan bahwa jabatannya jauh lebih penting dari prestasi kerjanya."

Setelah bangun, saya perkirakan akan terlambat lagi. Namun, yang luput dari prediksi adalah saat sudah melangkah masuk lift dari lantai 11 kondisi sudah berdesakan, yang akan berlanjut sampai lantai paling bawah. Sambil berjalan ke halte bus transjakarta, saya mengirimkan pesan teks whatsapp kepada isteri menanyakan kabar mereka, si abang dan si adik yang beberapa hari ini sedang sakit. Sudah hampir pukul 09.00 biasanya para pekerja yang menggunakan bus transjakarta sudah berkurang, kebanyakan jam kerja kantoran di kita ini 09.00 s.d 17.00, namun hari ini benar-benar anomali walaupun memang saat menuju ke halte, jalanan masih basah sepertinya pagi tadi hujan sehingga orang-orang menunda berangkat kerja. Hujan di Jakarta tidak pernah se-romantis video/foto yang tersebar di sosial media bagi para pekerja, setiap hujan reda mungkin ribuan pekerja akan bergegas di waktu yang sama berangkat atau pulang kerja. Saat masuk halte, antrean sudah agak ramai tetapi biasanya cukup 1 atau 2 bus yang kamu lewatkan, maka bus selanjutnya akan mengangkutmu. 

Pagi ini saya harus melewatkan 3 bus umum dan 1 bus khusus wanita, akhirnya di bus ke 5 saya bisa berangkat, tentu saja dengan kondisi masih sangat berdesakan. Tidak ada hal yang paling bisa membunuh kebosanan di bus yang penuh sesak kecuali mendengarkan lagu timur di spotify dengan suara earphone full. Perjalanan tidak lama, hanya sekitar 15 menit karena jalurnya khusus bus transjakarta dan hanya berhenti di halte busway velbak. Sesampainya di halte busway csw, suasana masih sangat ramai. Para penumpang dengan sendirinya berbaris menuju tangga turun yang lebarnya hanya cukup untuk dua orang, jika ada yang turun tangga dengan langkah lambat karena sedang mengetik teks di hape, maka antrean akan tersendat yang itu sangat menjengkelkan bagi orang seperti saya yang sudah terlambat. Setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta yang sebagian besar saya habiskan dengan berjalan kaki, saya telah terbiasa berjalan cepat (kadang-kadang berlari sedikit jika melihat bus transjakarta akan tiba di halte). 

Akhirnya, saya tiba di halte terakhir terminal blok M dengan kondisi cuaca yang sangat panas, saya bisa merasakan keringat mengalir di punggung apalagi hari ini adalah hari kamis, ada aturan pakaian dinas mengharuskan blazer/jas warna bebas. Pemerintah di awal tahun sudah memperingatkan fenomena "Godzilla" El Nino yang melanda seluruh Indonesia termasuk Jakarta, fenomena yang akan menyebabkan lonjakan suhu dan tingkat radiasi UV sangat tinggi. Ingatan saya kembali ke masa lalu saat masih duduk di bangku universitas, hari itu cuaca Makassar sangat panas, salah seorang dosen yang mengajar menceritakan bahwa ketika dia menempuh pendidikan kuliah magister di Australia pada suatu musim panas, hanya mahasiswa Indonesia yang tetap berpakaian rapi (bercelana jeans panjang), sedangkan dosen dan mahasiswa lain bercelana pendek ke universitas, mereka menyesuaikan kondisi cuaca yang sangat panas. Setelah melihat dirinya tampil aneh, akhirnya dosen saya mengikuti gaya berpakaian di saat kondisi cuaca yang panas. Tetapi ini Indonesia.


 


Setelah semalam Jakarta diguyur  hujan, embun tebal menutupi kaca-kaca bus. Hiruk pikuk kendaraan lain tidak terlihat, seperti menyusuri kesunyian dalam kabut. Dalam bus disesaki orang dengan dunianya sendiri. Sesekali pengumuman pemberhentian memecah kesunyian. Setiap orang berangkat sendiri-sendiri namun sebagian besar turun di halte yang sama, halte di perkantoran. Di pintu halte pemberhentian, seorang petugas dengan seragam akan berdiri menyambut, mengingatkan agar memperhatikan langkah saat berpindah dari bus ke halte, di sebelahnya beberapa penumpang sudah bersiap menggantikan posisimu di bus. Langkah yang cepat menyusuri pintu-pintu keluar, selepas itu kamu harus berjinjit menghindari jalanan yang masih tersisa genangan air. Tenda dan gerobak penjual sarapan berjejer di pinggir jalan, menunggu para pekerja yang belum sempat sarapan untuk mampir. 

Sepasang earbud melantunkan lirik lagu Kunto Aji, "jangan salahkan barisan panjang di pusat kota kita bergegas mengejar mimpi-mimpi yang sama". Sepanjang perjalanan menuju kantor, saya melihat puluhan orang bergerak menuju tujuannya atau menjalakan aktivitasnya masing-masing. Saat hujan turun dengan deras, pengemudi bus tetap melaju sepanjang jalurnya, dalam bus tetap penuh sesak, petugas tetap berdiri di pintu, sebagian pekerja berdiam diri di halte tujuan menunggu hujan reda, sebagian pekerja bersikeras menerobos mengenakan jas hujan ataupun payung, melipat celana panjang hingga lutut sambil memeluk tas dengan tangan memegang sepatu. Pedagang makanan juga tetap buka walaupun harus berjibaku menghindarkan masakannya terpercik air. 

Setiap orang secara sadar melakukan aktivitasnya sebagai makhluk sosial dalam masyarakat, meskipun keterhubungan antarmanusia seringkali tidak tampak di permukaan. Apakah setiap pengorbanan dan usaha yang kita lakukan pada akhirnya ditujukan untuk menjaga harmoni dan tatanan dalam masyarakat atau lahir dari dorongan kasih sayang terhadap sesama manusia?  Menurut para ekonom, kasih sayang itu langka, jika kita menggerakkan masyarakat dengan kasih sayang, tidak akan ada lagi yang tersisa bagi kehidupan pribadi kita. Kita mesti mencadangkan kasih sayang dan tidak memboroskannya dengan mubazir. Maka dari itu para ekonom memikirkan apa yang dapat digunakan mengorganisir masyarakat, namun tersedia berlimpah ruah?

Adam Smith mengembangkan gagasan kepentingan diri sendiri (self-interest) sebagai dorongan dasar yang menggerakkan aktivitas ekonomi individu. Self-interest sebagai mekanisme yang menjelaskan bagaimana tindakan individu berkontribusi pada pencapaian kesejahteraan bersama, namun tujuan kehidupan manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia). Kebahagian secara konsisten tetap menjadi sesuatu yang populer, dan bahwa sebagian besar orang mengejarnya, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk orang-orang yang mereka cintai. Oleh karena itu, tema kebahagian selalu menjadi diskursus menarik untuk para pemikir filsafat. Pertanyaan sederhana yang sering muncul dipikiran, apakah saya bahagia atau bagaimana caranya saya bisa bahagia atau kenapa saya tidak bahagia, dan masih banyak lagi hal ihwal lainnya tentang kebahagiaan.

Apa yang membuat kehidupan manusia bahagia? Menurut Aristoteles, kebahagiaan dicapai melalui kebajikan yang diekspresikan dalam tindakan. Kita akan bahagia jika melibatkan diri secara positif dalam lingkungan manusiawi, yaitu keluarga, kampung, dan polis (kota). Pendekatan Aristoteles memang berangkat dari pertanyaan tentang bagaimana manusia dapat hidup dengan baik dan bahagia, namun kebahagiaan (eudaimonia) justru tidak ditemukan melalui fokus reflektif pada diri sendiri. Ketika manusia mengembangkan pengetahuan dan kapasitas sosialnya, ia menemukan dirinya dengan keluar dari dirinya, bukan dengan menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan yang dihitung. Karena itu, Aristoteles tidak akan sejalan dengan gagasan bahwa seseorang mengambil peran aktif dalam komunitas agar merasa lebih terpenuhi atau lebih bahagia, sebab pandangan semacam itu menjadikan keterlibatan sosial sebagai sarana bersyarat bagi kepentingan diri. Bagi Aristoteles, partisipasi yang autentik berarti terlibat langsung dalam persoalan, tantangan, dan harapan orang lain tanpa kalkulasi manfaat personal. Kebahagiaan muncul bukan sebagai hasil yang dikejar, melainkan sebagai konsekuensi dari hidup yang dijalani secara bajik, rasional, dan selaras dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial dan politis. 

Kita tidak perlu selalu merefleksikan setiap tindakan dalam kerangka “apa keuntungan yang akan saya peroleh?, karena cara berpikir semacam itu merepresentasikan logika kapitalistik yang mereduksi tindakan manusia menjadi kalkulasi return. Dalam kapitalisme modern, hampir setiap aktivitas dipahami sebagai bentuk penanaman modal—baik uang, waktu, maupun relasi—yang dinilai sah sejauh menjanjikan imbal hasil di masa depan. Logika ini memang rasional dan diperlukan dalam ranah ekonomi, misalnya dalam pengelolaan perbankan atau investasi, tetapi menurut kerangka Aristoteles, logika tersebut tidak boleh diperluas ke seluruh dimensi kehidupan manusia. Manusia bukan semata-mata makhluk ekonomis yang bertindak berdasarkan keuntungan, melainkan makhluk rasional dan sosial yang menemukan kepenuhan hidup justru ketika bertindak tanpa kalkulasi manfaat personal. Ketika relasi, kepedulian, dan partisipasi sosial dipahami sebagai investasi yang menunggu imbal balik, kebajikan kehilangan maknanya, dan kebahagiaan gagal terwujud sebagai eudaimonia, yakni hidup yang baik itu sendiri, bukan hasil yang dinegosiasikan.

Klub sepakbola Manchester United meraih dua kemenangan di pertandingan liga Inggris melawan dua peringkat teratas, sangat mudah menemukan suporternnya yang meluapkan kebahagiaan di media sosial. Namun, kemenangan tidak berlangsung selamanya akan tiba saatnya mengalami kekalahan. Apakah suporter Manchester United tetap bahagia saat mengalami kekalahan atau merasakan sebaliknya? Saya pernah bertahun-tahun merasakan kebahagian itu dipengaruhi oleh pertandingan Manchester United, saya merasakan hari-hari menjadi sangat menyenangkan, semangat dalam beraktivitas, bahkan menerima orang-orang atau pembahasan yang menjengkalkan dengan hati gembira.

Setelah saya renungi sepertinya perasaan itu muncul berawal dari pengorbanan yang saya lakukan setiap ingin menyaksikan pertandingan liga yang nun jauh di tanah leluhur bangsa Anglo-Saxon. Kembali ke masa-masa kuliah di Makassar saat tinggal bersama abang, kami berdua seringkali berboncengan motor berkeliling di tengah malam bahkan hingga dini hari mencari warung kopi atau tempat persinggahan supir-supir antar kota lalu larut pada euforia pertandingan sepakbola. Saat itu platform streaming digital belum tersedia, begitu juga streaming ilegal. Sehingga setiap kekalahan memberikan perasaan menyakitkan, hidup yang menyenangkan menjadi tiba-tiba menderita. Akhirnya tanpa saya sadar, sebuah klub sepakbola menjadi faktor yang merubah perasaan dari bahagia menjadi menderita atau sebaliknya. 

Perasaan bahagia saya ternyata berasal dari hal eksternal yang tidak melekat pada diri saya. Mungkin kita sadar atau tidak saat ini kebanyakan dari manusia menggantungkan kebahagiannya pada hal-hal eksternal. Saya sangat terganggu dengan kalimat, "uang bukan jaminan kebahagian, tetapi jika tidak punya uang pasti tidak bahagia". Dengan menganggap uang sebagai sumber kebahagian atau setidaknya mengobati penderitaan, umat manusia akan mengejar tujuan punya banyak uang selama menjalani kehidupannya. Pada akhirnya, manusia akan berakhir dalam penderitaan jika tidak mencapai tujuannya ataupun akan menyakiti sesama manusia asalkan tujuannya tercapai. Pemikiran tidak mengejar kebahagian dari hal-hal eksternal seperti punya harta, jabatan, terkenal, atau bahkan melalui klub sepakbola memang terdengar naif karena kerangka berpikir kita telah lama dibentuk oleh logika yang mengagungkan pencapaian lahiriah.

Boethius, Montaigne, Kierkegarard merupakan kelompok filsuf yang menganggap bahwa menggantungkan kebahagiaan pada keberuntungan eksternal adalah tindakan beresiko, dan bahwa manusia akan lebih baik jika menggali sumber daya batiniah merea sendiri untuk menemukan ketengan dan kepuasan hidup. Dalam ilmu psikolog terdapat istilah Hedonic Treadmil, kondisi ketika kita harus bekerja semakin keras hanya untuk memperoleh imbalan yang sama. Manusia cenderung kembali ke tingkat kebahagian yang sama, meskipun mengalami perubahan besar dalam hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Akibatnya, kita harus mengejar hal baru atau bekerja semakin keras hanya untuk merasakan kebahagia yang sama seperti sebelumnya. Konsep ini memperingatkan bahwa, jika kebahagian hanya digantungkan pada hasil eksternal (uang, status, dan pengakuan), maka manusia akan terjebak dalam pengejaran tanpa akhir.

Seorang penulis Michael Gracey dalam artikelnya yang berjudul Hedonic Treadmills in the Vale of Tears menutup tulisannya dengan sangat baik, kira-kira seperti ini, "saya akan mendorong anak-anak saya untuk menikmati antusiasme mereka, sembari tetap waspada pada hasrat-hasrat yang dapat menggoyahkan keseimbangan ata menjerumuskan mereka ke dalam Hedonic Treadmil. Namun di sisi lain, jika mereka terlaly pasif, saya akan mengingatkan mereka agar tidak sekedar menunggu "penyelamatan" menuju hidup yang bahagia. Sebaliknya, apa yang mereka lakukan di dunia inilah yang membentuk siapa diri mereka.

dok. pementasan teater "suara-suara gelap (dari ruang dapur)
oleh kala teater, 19 Juli 2019.

Saya sedang menempuh kuliah magister di jurusan ilmu ekonomi, sebelum perkuliahan calon mahasiswa/ mahasiswi diminta untuk ikut kuliah matrikulasi. Setelah enam kali pembelajaran, seorang dosen pada mata kuliah makro memberikan ujian matrikulasi. Salah satu pertanyaannya. "Anggaplah jika seorang wanita menikah dengan majikannya. Setelah mereka menikah, isterinya juga mendukung seperti sebelumnya. Apakah pernikahan itu mempengaruhi GDP (Gross Domestic Product) ? Bagaimana pernikahan ini mempengaruhi GDP ? Jelaskan !"

Hal pertama yang terlintas di kepala saya adalah cerita drama-drama di televisi yang menampilkan sebuah kisah cinta antara majikan dan asisten rumah tangga, dengan adegan-adegan romantis tentu disertai dengan halang-rintang yang menjadi konflik drama namun berakhir bahagia. Kembali ke pertanyaan ujian, jawabannya adalah pernikahan antara seorang wanita dengan majikannya akan mempengaruhi GDP (Gross Domestic Product)  atau dalam bahasa Indonesia disebut Pendapatan Domestik Bruto (PDB)

PDB adalah sebuah metode yang digunakan oleh banyak negara untuk mengukur barang atau jasa yang di produksi di dalam suatu negera, tanpa peduli apakah barang tersebut diproduksi oleh perusahaan nasional atau asing, hasil pengukuran tersebut adalah sebuah angka yang seharusnya naik di masa baik atau turun di masa buruk. Dalam rumus ekonomi berikut :

PDB = konsumsi + investasi + belanja pemerintah + ekspor - impor

Rumusan PDB di atas tidak hanya menghitung jumlah barang atau jasa, tetapi menghitung nilai pasar - nya. Nilai pasar ini hanya bisa diukur melalui harga. Sehingga label harga merupakan sombol PDB yang paling utama. Apa yang tidak diberi harga, apa yang tidak melibatkan transaksi finansial formal yang didasari oleh uang, tidak masuk dalam hitungan, tak peduli betapa pentingnya hal tersebut seperti kebijaksanaan, kebaikan hati, keberanian, bahkan rasa cinta tanah air.

PDB merupakan ikon populer pertumbuhan ekonomi, yang sepanjang abad ke-20 terdapat asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi sma artinya dengan kemajuan: asumsi naiknya PDB berarti kehidupan pasti menjadi lebih baik. Sehingga negara-negara mengejar perubahan angka PDB menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Pada tanggal 05 Agustus 2025, Badan Pusat Statistik Indonesia merilis laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2025, yang saya kutip dari laman website BPS Indonesia  bahwa "ekonomi Indonesia triuwulan II-2025 terhadap triwulan II-2024 mengalami pertumbuhan 5,1 persen (y-on-y). Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan dari berbagai pihak yang menganggap bahwa angka tersebut tidak sejalan dengan realitas di masyarakat seperti  angka kelas menengah yang semakin turun, berita peningkatan PHK, dan pelemahan daya beli masyarakat.

Namun perlu kita ketahui bersama bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi naik tinggi, kita belum tentu merasa puas dan bahagia dengan kehidupan kita dibandingkan yang kita rasakan sebelumnya.

Semoga saja wanita yang menikahi majikannya diberkahi dengan kebahagian. Jasa rumah tangga yang diberikan oleh seorang pembantu rumah tangga yang diupah akan dihitung dalam metode perhitungan PDB pada unsur konsumsi namun tidak diberikan oleh seorang ibu rumah tangga. Perubahan status dari seorang yang pada awalnya adalah pekerja yang menerima upah dari majikannya (konsumsi jasa) termasuk dalam perhitungan PDB menjadi seorang ibu rumah tangga yang tetap mengerjakan pekerjaan domestik, namun karena tidak melibatkan transaksi finansil/uang sehingga layanan rumah tangga yang dilakukan dalam hubungan pernikahan dianggap sebagai produksi rumah tangga yang tidak dibayar.

Dalam sistem kapitalisme, hanya produksi pabrik yang dianggap sebagai aktivitas yang menciptakan nilai gina dan nilai tukar. Bahkan, pada era kapitalisme awaln, perempuan dipaksa berada di rumah untuk menciptakan dan merawat tenaga kerja tetapi dinilai tidak memiliki nilai dari sudut pandang ekonomi dan tidak dikategorikan sebagai kerja. Hal ini membuat perempuan tidak pernah mendapatkan upah dari hasil kerja perawatan atas tenaga kerja yang berupa keluarganya.

Kondisi ini yang membuat para perempuan kesulitan mendapatkan akses modal sehingga mengakibatkan patriarki tidak pernah padam.

Sudah waktunya masyarakat memahami bahwa perempuan/laki-laki yang melakukan pekerjaan rumah tangga atau merawat keluarga adalah seorang pekerja seperti halnya dengan para pekerja di kantor, di pabrik, di pasar, dan semua jenis pekerja,

Sumber referensi:
Fioramonti, Lorenzo, 2017. Problem Domestik Bruto, ed. ke-1. Terjemahan: Lita Soerjadinata. Marjin Kiri, Tangerang Selatan. 220 hal.

Jurnal Perempuan vol.28 N0.3, Desember 2023.

Website Badan Pusat Statistik https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/08/05/2455/ekonomi-indonesia-triwulan-ii-2025-tumbuh-4-04-persen--q-to-q---5-12-persen--y-on-y---semester-i-2025-tumbuh-4-99-persen--c-to-c--.html




Bagian Pertama :
Sebelum wabah coronavirus, tidak ada satupun rapat yang saya hadiri dengan virtual semua dilakukan tatap muka di ruang rapat. Hampir tidak memungkinkan membawa pekerjaan saat rapat karena hanya pegawai tertentu yang memiliki laptop, saya bekerja di depan komputer, semua dokumen pekerjaan ada di sana. Jika saya membawa komputer berpindah ke ruang rapat tentu saja merepotkan saya, dedikasi terhadap pekerjaan tidak perlu terlalu berlebihan. Maka, demi menjaga keseimbangan antara pekerjaan dengan rapat, setiap karyawan berbagi peran, dan rapat tidak serutin pekerjaan harian. Mereka yang menghadiri rapat tatap muka tentu saja memberikan semua perhatiannya pada pembahasan penyebab rapat tersebut dilangsungkan. 
Kenormalan tersebut berubah saat wabah coronavirus memaksa orang-orang harus hidup dalam keterbatasan berinteraksi dengan manusia lain untuk menekan penyebaran demi menimalkan jumlah kematian hingga manusia menemukan obat/penangkal agar melewatinya. Namun, jika manusia berlindung di rumah masing-masing secara penuh tanpa berinteraksi dengan manusia lain, selain akan menyalahi kodrat manusia sebagai makhluk sosial, yang terpenting ekonomi tidak akan menjalankan fungsinya. Kemungkinan kematian karena kegagalan ekonomi akan lebih besar dibandingkan kematian karena terjangkit coronavirus.
Manusia harus tetap bekerja, perekonomian harus berputar walaupun dalam keterbatasan, mendorong kemajuan teknologi hingga terintegrasi dalam kehidupan manusia. Saya teringat dengan bacaan yang membahas tentang manusia yang bermimipi dengan kemajuan teknologi, robot-robot akan menggantikan pekerjaan, manusia akan hidup dengan menikmati hal-hal yang disukai di dunia. Saat manusia menemukan surel (surat elektronik), manusia berpikir akan punya waktu bersantai jika tidak ada lagi waktu yang terbuang karena menunggu surat. Para pekerja jasa pengantar surat sudah tidak relevan dengan dunia kerja, mereka digantikan dengan jaringan tak kasat mata yang saling terhubung. Penemuan surel tidak membuat manusia bisa bersantai namun semakin sibuk, waktu menunggu surat digantikan dengan mengerjakan surat yang jumlahnya berkali-kali lipat dari sebelumnya.
Begitu halnya saat wabah coronavirus, teknologi mendorong para pekerja dapat bertemu membahas pekerjaan dengan virtual. Pada awalnya, saya cukup menyukainya apalagi saat bisa berinteraksi dengan orang lain di saat sudah beberapa bulan terkurung dalam kamar kosan karena larangan keluar rumah oleh pemerintah. Seperti halnya dengan proses pengiriman surat, rapat tatap muka langsung tentu menyita waktu kerja bukan hanya saat rapat tetapi juga perjalanan menuju ruang rapat. Dengan adanya pilihan rapat virtual, waktu akan lebih efisien.
Kenormalan baru terbentuk pasca wabah coronavirus, setiap pekerja hampir pasti diberikan laptop menggantikan komputer. Para pekerja bisa bekerja di mana saja, di ruang kerja, di kantin, di rumah, di ruang rapat, asalkan laptop punya daya dan sambungan internet dari ponsel. 
Walaupun teknologi sudah sangat maju, namun para penemu belum bisa membuat teknologi mesin waktu Doraemon agar manusia bisa kembali ke masa lalu mengkoreksi kekeliruan yang penah kita buat. Ketiadaan teknologi tersebut, membuat manusia hanya bisa meratapi masa sekarang yang sedang kita jejaki. 
Saat ini seringkali kita dijejali dengan berbagai hal yang membuat kita tidak memusatkan perhatian pada satu hal, beberapa orang memiliki kemampuan mengerjakan beberapa hal secara bersamaan tetapi beberapa lainnya mungkin tidak bisa.
Saya juga tidak tahu, siapa yang saling mempengaruhi dalam hal menciptakan disrupsi yang membuat manusia "crisis of attention", apakah teknologi yang merubah perilaku manusia atau sebaliknya kita yang membuat teknologi bergerak ke arah yang menghilangkan kemampuan kita dalam memusatkan perhatian pada satu hal saja.

Lapak buku di sekitaran Rumah Sakit Harapan Kita

Jika kamu tiap hari berangkat dan pulang kerja berdesak-desakan dengan sesama kelas pekerja dalam bis angkutan umum, lalu sering ada  diantara mereka yang tidak tertib. Sebenarnya kamu ingin memaki tetapi karena paham bahwa hal itu tentu sia-sia, tidak akan membantu mempercepat kamu tiba di halte terakhir tujuanmu. Pilihan itu rasional karena telah dikompensasi oleh biaya yang paling minimum yang bisa kamu keluarkan tiap harinya.Pihak yang mungkin paling dapat disalahkan jika angkutan umum di daerahmu bobrok tentu saja pemerintahannya, tetapi keluhanmu bersama pekerja lainnya tidak akan terdengar kalaupun terdengar sepertinya tidak akan banyak perubahan berarti karena mereka tentu punya banyak alasan yang dapat diterima akal sehatmu.

Di dunia ini telah tumbuh-kembang kesadaran di masyarakat bahwa semakin kecil gaji yang kamu peroleh semakin buruk kamu akan diperlakukan. Di sinilah terlihat kerdilnya manusia menilai manusia lain bukan melalui nilai-nilai internal dalam dirinya. Namun, menjadi orang yang punya banyak uang daripada orang lain bukanlah nasib buruk. Mengutip The Korean Herald pada Sabtu (11/1/2025), penelitian yang dipimpin oleh professor Yoon Suk-joon dari Fakultas Kedokteran Universitas Korea. Hasil analisa data asuransi nasional pada tahun 2020 menunjukkan bahwa mereka yang berada dalam kelompok pendapatan tertinggi secara rata-rata memiliki harapan hidup sehat lebih lama sebesar 8,66 tahun dibandingkan mereka yang ada pada kelompok berpendapatan rendah, masing-masing ada pada usia 74,88 tahun dan 66,22 tahun.

Bumi sudah ada sejak puluhan juta tahun lalu, kita manusia lalu terlahir, hidup dalam waktu singkat, walaupun berbagai cara dilakukan untuk menunda-nunda kematian, setelah kematian tiba, kemudian kehidupan di bumi tetap berlangsung seperti sebelum keberadaan kita. Dalam waktu singkat inilah kebanyakan dari kita berhasrat ingin meraih kebahagian, jauh dari penderitaan. Kebahagiaan seringkali disederhanakan menjadi kesenangan semata, sumber kesenangan manusia selain dari kesenangan yang bisa langsung dirasakan oleh fisik manusia sendiri melainkan juga kesenangan pikiran. Manusia ingin jauh dari rasa sakit, kenikmatan tubuh, pakaian, atau tempat berlindung dari panas terik matahari dan dinginnya malam hari. Namun, manusia lalu memberikan ruang dalam pikirannya tentang pendapat orang lain mengenai dirinya. 

Bersambung.... 

Sumber informasi: artikel https://www.koreaherald.com/article/10383056 ; buku berjudul Tentang Pesimisme, Schopenhaur terbitan Antinomi.

Sang Pekerja/Buruh, Pinneberg!


Di tempat tidur, Lammchen membiarkan suaminya merebahkan diri di lengannya, dia memeluk erat, saraf-saraf suaminya seolah terkulai lemas, lalu dia menangis. Lammchen mendekapnya dan terus menyemangatinya: "Junge, seandainya kau harus kehilangan pekerjaanmu, jangan sampai kau kehilangan keberanianmu, jangan pernah putus asa. Aku tak akan, tak akan, tak akan pernah mengeluh, aku bersumpah padamu!"
Ketakutan paling mendasar bagi kami kelas pekerja yang bergantung kepada kebaikan hati majikan adalah kehilangan pekerjaan. Sebuah kenyataan pahit namun begitulah dunia yang kita huni saat ini, ketidakseimbangan antara jumlah pekerja dan jumlah lapangan kerja baru semakin berjarak. Keadaan ini tentu akan memberikan kecemasan bagi kelas pekerja, jika tiba hari saat sang majikan tidak puas dengan kinerjamu atau mungkin saja kamu berada dalam pandangannya saat suasana hati sang majikan lagi buruk, kamu bisa diberhentikan. Mereka bisa dengan mudah mencari penggantimu. 
Novel berjudul "Lelaki malang, kenapa lagi?", karya Hans Fallada yang diterjemahkan oleh Tiya Hapitiawati terbit pada bulan Desember 2019, diterbitkan oleh Moooi Pustaka. Judul dalam bahasa Jerman, Klener Mann, was nun? terbit pada tahun 1932.
Pinneberg adalah seorang staf pembukuan di sebuah toko gandum, menikahi perempuan bernama Lammchen yang berasal dari keluarga buruh. Walaupun mereka bersama berada dalam kelas pekerja namun pada saat itu di Jerman terdapat perbedaan pandangan antara para buruh dengan karyawan dalam masyarakat.

"Karena kalian para karyawan tidak terorganisir," ujar Tuan Morschel menjelaskan. "Karena tidak ada hubungan erat di antara kalian, tidak ada solidaritas. Karenanya mereka berlaku semena-mena terhadap kalian."
"Karyawan," kata Morschel. "Kalian berpikir bahwa kalian lebih baik daripada kami para buruh."
"Aku tidak berpikir seperti itu."

"Tentu saja kalian berpikir seperti itu. Dan kenapa kalian berpikir seperti itu? Karena kalian dibayar untuk satu bulan penuh, tidak seperti kami yang dibayar setiap satu minggu sekali. Kalian juga tidak mendapatkan uang dari jam lembur kalian, kalian dibayar di bawah tarif. Kalian juga tidak pernah berdemonstrasi karena kalian adalah para pengacau aksi demonstrasi."

Ternyata kecendrungan pandangan yang memberikan jarak status sosial antara pekerja karyawan dan pekerja buruh sudah terjadi sejak lama. Ada pandangan bahwa mereka yang bekerja sebagai karyawan merasa meliliki status lebih tinggi daripada pekerja buruh hanya karena pakaian karyawan lebih rapi, selembar ijazah, dan gaji bulanan. Sedangkan, pekerja buruh lebih menggunakan otot dalam bekerja yang dibayar berdasarkan jam kerja. Namun, sebenarnya mereka berada dalam posisi yang sama yaitu dipekerjakan oleh majikan yang kadang baik/buruk.
Jika kita merujuk pada defenisi bahwa setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain adalah pekerja/buruh. Maka, seharusnya rasa solidaritas antar pekerja itu muncul bukan malah saling bersaing menjilat kaum pemodal yang belum tentu memikirkan kehidupan mereka. Hirarki dalam organisasi perusahaan bukan dijadikan alasan untuk mereka yang berada di atas menindas/menghisap pekerja yang lebih rendah hanya karena ingin memuaskan majikan baik/buruk.

"Seandainya saja kau berada dalam posisiku, Kube...."
"Aku tahu. Aku tahu. Jika semua orang berpikir sepertimu, Anak Muda, mungkin semua orang akan selalu diperbudak oleh majikannya dan harus mengemis hanya untuk mendapatkan sepotong roti. Tapi, itu terserah kau saja, kau masih muda. Kau masih akan menghadapi, kau akan mengalami, seberapa lama kau bisa bertahan menjadi penjilat mereka. Ayo, istirahat!"

semua pekerja adalah buruh
Novel "Lelaki malang, kenapa lagi?" menceritakan perjuangan kelas pekerja dalam menjalani kehidupan awal berumah tangga di tengah kekhawatiran kehilangan pekerjaan. Kehidupan rumah tangga Pinneberg dan Lammchen tidak sepenuhnya mengalami kemalangan, mungkin secara keuangan mereka kesulitan membagi gaji yang kecil Pinneberg ke dalam daftar kebetuhan sehari-hari. Namun, perasaan bahagia tetap menyelimuti keluarga kecil mereka. 

"Kau tahu, rasanya sangat menyenangkan saat kita memiliki sesuatu yang membuat kita selalu bahagia setiap hari."
"Ya, tentu saha," kata Lammchen.
"Aku membayangkan bagaimana saat menyaksikan dia tumbuh besar," kata Pinneberg.

Dikaruniai seorang anak dalam pernikahan memberikan rasa bahagia walaupun juga akan menimbulkan rasa cemas, terutama untuk keluarga kelas pekerja yang hanya menerima gaji bulanan. Pinneberg dan Lammchen harus melakukan perhitungan hingga berkali-kali dalam membagi setiap kebutuhan. Walaupun begitu penghasilan Pinneberg hampir tidak bersisa meski telah menghemat uang untuk menu makanan sehari-hari. 

Kehadiran Murkel akan diiringi dengan kebutuhan yang akan bertambah, Pinneberg harus tetap bekerja namun yang menentukan kelangsungan pekerjaannya bukanlah dia sendiri tetapi majikan yang baik/buruk tersebut. Seandainya saja rasa solidaritas antara para kelas pekerja terjalin dengan kuat, tentu saja majikan yang baik/buruk tidak dapat berbuat semena-mena. 

Lammchen percaya pada solidaritas di antara semua pekerja: "Teman-temanmu tidak akan berbuat curang padamu! Tidak, Junge, semuanya akan baik-baik saja. Aku selalu percaya, tidak ada hal buruk yang akan menimpa kita. Kenapa? Karena kita sudah menjadi orang rajin, kita hidup hemat, kita juga bukan orang jahat, kita juga menginginkan Murkel dan kita bahagia memilikinya-lalu kenapa harus ada hal buruk yang terjadi pada kita? Itu sama sekali tidak masuk akal!"

Dalam kehidupan memang tidak ideal jika kita mengharapkan kehadiran pemerintah memberikan keadilan bagi semua orang terutama bagi mereka yang kehadirannya dianggap membebani pemerintah. Walaupun sebenarnya mereka yang duduk di pemerintahan digaji oleh kelas pekerja dari pajak yang dibayarkan. Suara kelas pekerja pun sangat dibutuhkan oleh para politikus saat pemilu untuk memilih partai dan pemimpin, namun setelah itu mereka akan dilupakan. Apakah pemerintah memihak kelas pekerja/buruh jika diberhentikan oleh sang majikan yang baik/buruk? Apakah pemerintah memudahkan kelas pekerja/buruh memperoleh hak-hak nya setelah diberhentikan oleh sang majikan yang baik/buruk? 

Ia hanyalah satu dari sekian juta orang. Para menteri seringkali berpidato untuk keuntungan mereka sendiri, memperingatkan orang untuk mengencangkan ikat pinggang, mengorbankan apa saja yang dimiliki, memiliki jiwa nasionalisme sebagai orang Jerman, menyimpan uang tabungan di bank, dan memilih partai yang mendukung pemerintah. Semua hal yang mereka inginkan dariku, bukanlah hal yang mereka ingingkan demi kebaikanku; aku bisa mati sengsara atau tidak, tak ada pengaruhnya bagi mereka; aku bisa pergi ke bioskop atau tidak, mereka tak akan tertarik; bahwa Lammchen saat ini hidup dengan layak atau  banyak kesusahan, bahwa Murkel akan bahagia atau sengsara, siapa di antara mereka yang mau peduli?

Pada akhirnya, Pinneberg hanya meletakkan harapan kepada sang majikan yang baik/buruk dan solidaritas sesama kelas pekerja agar tidak kehilangan pekerjaan. Namun, harapan itu tentu sangat naif karena sang majikan yang baik/buruk akan mempertahankanya jika menguntungkan bagi perusahaan. Sedangkan, solidaritas sesama kelas pekerja sangat sulit terwujud karena adanya hirarki yang diciptakan oleh perusahaan.

"Lalu bagaimana jika dia tak menjual sebanyak yang ditargetkan dan tak seefisien itu? Apa tujuan mereka mengusir keluar seseorang hanya karena uang yang dia dapatkan, hanya karena alasan hasil kerja dan semua tanggung jawab yang dia lakukan? Apa orang lemah sama sekali tak boleh sedikit saja lebih kuat? Apa mereka sedemikian berhaknya menghakimi nasib seseorang atas dasar jumlah celana yang dijualnya?"

"Pasti mereka dengan jelas akan mengatakan bahwa mereka tak membayar seseorang hanya karena orang itu bersikap baik, tapi karena orang itu berhasil menjual celana sebanyak mungkin."

Kehawatiran yang telah mengendap dalam kepala Pinneberg pada akhirnya datang juga. Kelas pekerja yang berusaha mempertahakan penghidupan keluarga harus menyerah dengan kenyataan bahwa sang majikan  memanglah baik/buruk. 

Lehmann jatuh tersungkur karena Pinneberg dan Pinneberg pergi tersingkir karena Kessler. Sekarang dia bisa menarik kesimpulan filosifis, bahwa alangkah pentingnya menjadi seorang penjual baik, sepenuh hati, menjual sesuatu dengan penuh cinta. Alangkah pentingnya menerapkan semangat juang yang sama antara harus menjual celana panjang berbahan katun seharga enam setengah dengan menjual jas seharga seratus dua puluh! Ya, solidaritas di antara sesama karyawan itu memang ada, yaitu solidaritas rasa iri untuk memerangi prestasi individu.

Masalah sosial pada kehidupan Pinneberg yang tinggal jauh di Jerman sana, puluhan tahun silam masih dialami oleh kelas pekerja saat ini. Solidaritas antar kelas pekerja masih sangat sulit terjalin, pengakuan diri sendiri bahwa mereka yang menawarkan jasa/tenaga pada pemilik modal/majikan adalah buruh selalu dibantah. Selain itu, sang majikan yang baik/buruk membangun narasi bahwa "perusahaanlah yang memungkinkanmu mengurus kehidupan pribadimu, perusahaanlah yang mengambil alih kekhawatiranmu soal kebutuhan hidupmu, sehingga kalian kelas pekerja seharusnya mengutamakan perusahaan daripada kehidupan pribadinya".

Mungkin tidak semua kelas pekerja, tetapi saya sesekali menjelma menjadi Pinneberg di kehidupan nyata pada abad ke-21. Seringkali perasaan itu hanya memenuhi pikiran karena tahu bahwa tidak ada seseorang yang pernah dipenjarakan karena ide yang masih bermukim dalam kepalanya yang tidak diungkapkan.

"Ya, kau benar," kata Pinneberg pelan. Lalu dia terdiam, Tiba-tiba saja dia memukul meja di depannya penuh kesal: "Sial!" teriaknya. "Ada apa?" tanya Lammchen. "Apa yang terjadi?" 

"Tidak ada," jawabnya, dia sedikit merengus lagi. "Terkadang aku hanya ingin meledakkan amarah atas segala hal yang terjadi di dunia ini." 

Beberapa foto aksi unjuk rasa pada peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) tanggal 01 Mei 2024.





Slavoj Zizek, "Panik Pandemi! Covid-19 Mengguncang Dunia"

Di saat pandemi coronavirus yang semakin menyebar menjangkit manusia terutama terbentuknya klaster perkantoran, pekerja kantoran seperti saya menyambut kebijakan kerja dari rumah dengan bahagia. Sementara waktu, saya tidak akan terjebak kemacetan Jakarta di dalam busway yang penuh sesak di jam berangkat dan pulang kerja. Tidak perlu lagi tergesa-gesa ke kantor agar bisa fingerprint tepat waktu. Tidak perlu lagi mengenakan seragam seperti anak sekolah dan yang paling menyenangkan bisa bekerja tanpa perlu mandi pagi. Pada awalnya saya mengira bahwa lama waktu pandemi mungkin hanya seperti libur hari raya, namun penanganan awal pandemi yang buruk dari pemerintah menyebabkan dari pemerintah menyebabkan gelombang penularan coronavirus dari hari ke hari semakin mengkhawatirkan . Informasi tentang pandemi coronavirus mulai memenuhi topik perbincangan di masyarakat, mulai informasi yang benar, teori konspirasi, rasisme hingga berita bohong "hoax". Selain informasi dari berita atau sosial media, ada juga buku yang terbit. Buku pertama yang saya baca membahas pandemi coronavirus adalah buku terjemahan yang berjudul, "Panik Pandemi! Covid-19 Mengguncang Dunia", yang ditulis Slavoj Zizek.

Slavoj Zizek adalah seorang filsuf dan kritikus budaya, sebelumnya saya tidak pernah mendengar atau membaca tulisannya, selain karena tema pandemi coronavirus, latarbelakang dari Slovenia membuat saya tertarik mengetahui sudut pandangnya. Sebelumnya saya pernah membaca dan kagum dengan tulisan Olga Tokarczuk yang berasal dari Polandia, negara keduanya terletak di Eropa Timur.

Manusia telah melewati berbagai pandemi, kebanyakan kita pada akhirnya menemukan vaksin atau obat. Namun, sebenarnya manusia tidak pernah serius mencegah pandemi. Kita hanya merespon setelah menyaksikan dampak buruk dari pandemi. Kita hanya merespon setelah menyaksikan dampak buruk dari pandemi, malah lebih sering menyalahkan virus sebagai penyebab pandemi yang membunuh banyak orang. Dalam bukunya Slavoj Zizek mengutip defenisi populer virus, bahwa virus adalah "salah satu dari berbagai agen infeksi, biasanya ultramatrospik, yang terdiri dari asam nukleat, baik RNA atau DNA, dalam sebuah protein: mereka menginfeksi hewan, tumbuhan, dan bakteri, dan bereproduksi hanya dalam sel hidup: virus dianggap sebagai unit kimia yang tak hidup atau kadang-kadang sebagai organisme hidup. Virus murni parasit, mereka mereplikasi diri mereka sendiri dengan menginfeksi organisme yang lebih bisa berkembang(ketika virus menginfeksi kita, manusia, kita hanya berfungsi sebagai mesin penyalin).

Virus bukan musuh yang mencoba untuk menghancurkan manusia, ia hanya memproduksi diri dengan otomatisme buta dan bermutasi. Begitu juga dengan coronavirus tidak pernah berencana dan berstrategi untuk menyerang manusia hingga berakibat fatal. Ia tidak tahu apa-apa. Ia bisa menginfeksi manusia bahkan hingga yang tinggal di tempat terpencil di dunia dikarenakan kemudahan manusia menjangkau tempat terjauh pun dengan adanya globalisasi. Semakin banyak dunia kita terhubung, semakin banyak bencana lokal yang dapat memicu ketakutan global dan akhirnya akan menjadi bencana.

Epidemi adalah campuran di mana proses alam, ekonomi, dan budaya saling terkait.

Slavoj Zizek mengutip, Kate Jones, penularan penyakit dari satwa liar ke manusia adalah: dampak tersembunyi pembangunan ekonomi. Ada begitu banyak dampak lain dari kita, di setiap lingkungan. Kita akan pergi ke tempat-tempat yang sebagian besar tak terganggu dan menjadi semakin terbuka. Kita menciptakan habitat di mana virus ditransmisikan dengan lebih mudah, dan kemudian terkejut bahwa kita menghadapi yang baru.

Ketika alam menyerang kita lewat virus, caranya dengan melempar balik pesan yang kita buat sendiri. Pesannya adalah apa yang anda lakukan kepada saya, sekarang saya lakukan kepada anda.

"Panik Pandemi! Covid-19 Mengguncang Dunia" terdiri atas 13 bagian atau judul tulisan dengan 137 halaman, pembaca tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannnya. Salah satu judul yang menarik bagi saya adalah bagian 10, "Tetap Tenang dan Panik!". Kebanyakan pemerintah di dunia pada awal pandemi belum tahu cara menangani sebuah pandemi, termasuk Indonesia.

Kita kebanyakan menyaksikan pemerintah seperti mengingkari adanya ancaman pandemi, seolah-olah pandemi covid-19 tidak akan melanda Indonesia. Pemerintah mengajak masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada dan beraktivitas seperti biasa. Pejabat Indonesia bahkan ada yang berkelakar bahwa tidak ditemukannya virus covid-19 di Indonesia karena memiliki kekebalan tubuh lantaran setiap hari gemar makan nasi kucing, masyarakat yang sehat tidak perlu pakai masker, manganggarkan 72 miliar kepada influencer untuk promosi wisata, covid-19 diperkirakan tidak kuat dengan cuaca panas Indonesia, dan doa bantu tangkal virus. Hal yang paling menggelitik rasionalitas ketika salah satu menteri memperkenalkan kalung "Anti Virus" pemakaian15 menit bisa membunuh 42% coronavirus, 30 menit membunuh 80% coronavirus.

Slavoj Zizek mengkritik hal tersebut, media yang tiada henti mengulangi formula "Jangan Panik" dan kemudian kita mendapatkan semua data yang tak bisa tidak memicu kepanikan. Menurutnya panik memiliki logikanya sendiri. Dia mengingat momen di masa mudanya ketika di negara sosialis Yugoslavia, desas-desus mulai beredar rumor bahwa tak ada cukup tisu toilet di toko-toko. Pihak berwenang pun harus memberanikan kepastian bahwa tersedia cukup tisu toilet untuk konsumsi normal, orang-orang pun juga percaya. Namun, konsumen rata-rata beralasan bahwa mereka tahu ada cukup tisu toilet dan rumor itu salah tetapi bagaimana jika beberapa orang menganggap serius rumor tersebut, dan dengan panik membeli cadangan tisu toilet secara berlebihan, bukankah situasi ini menyebabkan kondisi kekurangan tisu toilet yang sebenarnya? Jadi lebih baik saya bergegas dan memborong cadangan tisu itu untuk saya sendiri. Ini berarti bahwa kita hanya cukup mengandaikan bahwa ada yang percaya rumor itu serius, efeknya sama, yaitu kekurangan nyata tisu toilet di toko.

Sisi lain yang aneh dari kepanikan berlebihan yang terus-menerus adalah tiadanya kepanikan sama sekali di saat kepanikan sebelumnya dibenarkan. Kita diberitahu berulang kali bahwa epidemi baru yang jauh lebih kuat dari pandemi sebelumnya hanya menunggu waktu. Meskipun secara rasional kita yakin akan kebenaran ramalan-ramalan mengerikan ini, namun kita tidak menganggapnya serius dan enggan bertindak dan melakukan persiapan serius. 

Selain itu, Slavoj Zizek juga menawarkan pendekatan komunis global yang berbeda dengan komunisme di Tiongkok, yaitu mengandalkan kerja sama kolektif dengan negara lain, informasi dan harus dibagikan dan rencana dikoordinasikan sepenuhnya. Apa yang terjadi di awal masa pandemi adalah sikap "setiap negara untuk dirinya sendiri". Muncul juga sudut pandang vitalis sinis yang melihat coronavirus sebagai infeksi menguntungkan yang memungkinkan manusia untuk menyingkirkan yang lapuk, lemah, dan sakit. Perdebatan tersebut sedang berlangsung, protokol "tiga orang bijak" jika epidemi di Inggris lebih dahsyat. Tiga konsultan senior di setiap rumah sakit akan dipaksa untuk membuat keputusan mengenai penjatahan perawatan setiap ventilator dan tempat tidur , jika rumah sakit dipenuhi pasien.

Kriteria apa yang akan diandalkan oleh "tiga orang bijak"? Mengorbankan yang terlemah dan tertua? Dan apakah situasi ini hanya akan membuka ruang untuk korupsi besar-besaran. Apakah prosedur seperti itu tidak mengindikasikan bahwa kita sedang bersiap untuk memberlakukan logika paling brutal tentang survival of the fittest? Jadi, pilihan terakhir adalah memilih logika brutal ini atau memilih semacam penciptaan kembali komunisme. 

Dalam buku Slavoj Zizek menyajikan data yang mengungkap informasi tentang cara berpikir kelas penguasa dan watak mereka dalam menghadapi krisis pandemi serta berbagai paradoks tentang covid-19 yang seringkali kita tidak pikirkan.

Dan Patrick, letnan gubernur Texas, mengunjungi Fox News untuk berargumen bahwa ia lebih baik mati daripada melihat kebijakan kesehatan masyarakat merusak ekonomi AS, dan bahwa ia percaya, "banyak kakek nenek" di seluruh negeri akan setuju dengan gegasannya. "Pesan saya: mari kita kembali bekerja, mari kembali hidup, cerdeslah tentang hal itu, dan kita yang berusia 70 tahun lebih, akan menjaga diri kita sendiri."

Bukan hanya Dan Patrick yang berpikir demikian, kita bisa menemukan informasi yang memunculkan kesan bahwa yang benar-benar harus dikhawatirkan bukanlah ribuan orang yang meninggal dan lebih banyak lagi yang akan menyusul, tapi fakta bahwa "pasar sedang panik"- coronavirus semakin menggangu berfungsinya pasar dunia yang sebelumnya berjalan mulus. Kekhawatirkan coronavirus akan memicu krisis ekonomi. Para penguasa membuat kebijakan-kebijakan mencegah krisis ekonomi, namun bukankah yang seharusnya kita pertanyakan, apakah ada yang salah dengan sistem ekonomi yang diterapkan saat ini sehingga tidak mampu berjalan normal jika ada ancaman seperti pandemi.

Donald Trump dalam kunjungannya ke India menyatakan bahwa pandemi akan surut dengan cepat, kita hanya harus menunggu lonjakannya dan kehidupan akan kembali normal.

Sedangkan Tiongkok, media mereka mengumumkan bahwa ketika epidemi berakhir, orang harus bekerja pada hari Sabtu dan Minggu untuk mengejar ketinggalan.

Sehari setelah menteri kesehatan Iran muncul pada konfrensi pers untuk mengurangi penyebaran coronavirus dan untuk menegaskan bahwa karantina massal tidak dibutuhkan, ia membuat pernyataan singkat mengakui bahwa telah terinfeksi coronavirus dan menempatkan dirinya dalam isolasi (bahkan selama penampilannya di tv, ia telah menunjukkan tanda-tanda demam dan lemah).

Tindakan menteri kesehatan Iran yang membahayakan orang di sekitarnya ketika mengabaikan gejala terinfeksi coronavirus ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bupati Ogan Ilir yang wartawan ke rumahnya untuk mengumumkan bahwa dirinya positif terinfeksi coronavirus.

Situasi pandemi coronavirus yang melanda seluruh dunia memunculkan kembali pepatah lama, "sekarang kita semua berada di kapal sama" pernyataan tersebut ada benarnya bahwa coronavirus memproduksi diri dengan otomatisme buta dapat menginfeksi siapa saja, tanpa membedakan latar belakang, apakah dia pejabat pemerintahan, raja, manajer atas, bahkan kelas pekerja. Namun, kita pun mengetahui bahwa mereka yang benar-benar akan kembali bekerja di masa pandemi adalah orang miskin, sementara orang kaya mampu bertahan dalam isolasi mereka yang nyaman.

Epidemi virus mengingatkan kita tentang kemungkinan dan kebermaknaan hidup kita yang paling dekat; tak peduli seberapa hebat bangunan spiritual umat manusia bangun, kontigensi alam yang bodoh seperti virus atau asteroid dapat mengakhiri semuanya.... belum lagi pelajaran ekologi, bahwa kita umat manusia, juga dapat secara tak sadar berkontribusi pada kiamat nanti.

Sumber:

Slavoj Zizek. "Panik Pandemi! Covid-19 Mengguncang Dunia".

Penerbit : PIN (Penerbit Independen).
Life as Divorcee

Pengalaman menikah belum, apalagi dengan bercerai. Orang tua pun berpisah bukan karena bercerai tetapi ajal yang tidak bisa ditunda kedatangannya. Ajaran agama mana pun tidak ada yang mengajarkan mengakhiri pernikahan dengan bercerai. Perceraian pun menjadi sesuatu yang dianggap tabu untuk dibicarakan, tetapi jumlah pasangan yang bercerai semakin meningkat. Buku "Life as Divorcee" karya Virly K.A ini sangat menarik karena topik utama yang dibahas adalah perceraian. 

"Bercerai bukan berarti atau enggan menyelesaikan masalah. Sama seperti mempertahankan rumah tangga setelah badai, bercerai juga merupakan solusi. Sama bobotnya. Sama halnya tidak ada yang salah dengan keputusan perempuan untuk meminta cerai dengan pertimbangan kebahagiaan sendiri. Bukankah kita memang bertanggung jawab terhadap kebahagiaan masing-masing?" 

Lalu, kenapa masih banyak orang yang menggantungkan kebahagiaannya kepada pasangannya padahal perasaan bahagia itu sangat lah pribadi. Mungkin saja kamu merasa bahagia bersama pasanganmu tetapi mungkin saja dia merasa sebaliknya, kamu berjuang bertahan sedangkan dia sebenarnya ingin mengakhiri semuanya namun bertahan karena mengasihanimu. Barangkali kamu bertahan karena takut dengan stigma negatif dari masyarakat jika bercerai walaupun setiap hari kamu mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Kamu menyalahkan dirimu sendiri karena salah memilih pasangan hanya karena kamu percaya bahwa perasaan cinta cukup untuk memulai mengarungi kehidupan berumah tangga selamanya.

Dalam buku "Life as Divorce" Virly K.A berbagi pengalaman dan pandangannya tentang berbagai hal, mulai dari pengalaman perceraiannya, sebelum bercerai dia menyarankan orang beberapa hal yang harus diketahui seperti menjadi seorang divorcee tidak sama dengan kembali single terutama jika memiliki anak. harus siap sebagai orangtua tunggal, berani mengambil keputusan sendiri, mengatur keuangan, berkomunikasi dengan mantan jika memiliki anak. 

Bagian yang paling menarik bagi pembaca yang belum menikah adalah pre-marriage talks I didn't do. Menurutnya pre-marriage talks adalah hal penting yang harus dilakukan sebelum memutuskan menikah. Mulai dari saling terbuka membicarakan prinsip hidup masing-masing, lalu tentang kesesuaian rencana dan impian, kemudian soal anak terutama tentang soal pola asuh anak yang akan diterapkan, keterbukaan pengelolaan keuangan, pelanggaran yang tidak ditoleransi, dan sex stuffs.

Selain itu Virly juga memberikan saran kepada perempuan untuk tidak menikah dengan laki-laki yang memiliki perilaku tertentu, seperti laki-laki yang tidak paham dengan konsep concent (persetujuan),  menyetir tanpa aturan, memiliki perbedaan yang sangat banyak, mengabaikan Tuhan, kasar pada pramusaji, enggak ada butterflies-on-my-stomatch feeling.

Walaupun beberapa pembahasan berdasarkan pengalaman dan pemahaman pribadi namun tidak mengurangi sifat universal pada setiap hal yang dibahas, misalnya pembahasan tentang jenis-jenis suami yang enggak worthy dipertahankan, perkara hamil di luar nikah, co-parenting bagi pasangan yang bercerai. 

Bagi perempuan yang telah menikah, terdapat pembahasan tentang KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), mulai dari indikasi hingga daftar kontak darurat pertolongan di beberapa daerah di Indonesia.

Pernikahan seharusnya membahagiakan bagi setiap pasangan selain itu seharusnya mengedepankan unsur kesetaraan dan keadilan bagi siapa pun,  jika di dalamnya terdapat kekerasan, pengekangan, dan merendahkan pasangan maka itu adalah sebuah kejahatan. 

Judul: Life as Divorcee
Penulis : Virly K.A
Penerbit : Ea Book, 2021.


Burung Kayu, Niduparas Erlang

Kita hanyalah sasareu (pendatang asing) di novel Burung Kayu sehingga tidak pantas menghakimi setiap kisah suku-suku atau uma-uma yang telah diwariskan turun-temurun, kepercayaan dan budaya masyarakat adat dengan menganggapnya sebagai ketertinggalan.
Pemerintah selalu datang seperti seorang bapak yang baik hati, menawarkan kebaikan-kebaikan dengan menyediakan pilihan-pilihan yang menurutnya benar. Bahwa kesejahteraan dan kemajuan itu seharusnya diikuti dengan perubahan budaya-budaya masyarakat yang dianggap tertinggal. Termasuk dengan memberikan pilihan-pilihan agama resmi untuk menggantikan kepercayaan yang telah dianut turun-temurun oleh suatu masyarakat adat. 
Narator menceritakan bahwa,
"Di bawah tatapan polisi, tak ada lagi anak-anak muda yang bernyali merajah tubuhnya dengan ti'ti'. Tak ada lagi sikerei-sikerei yang mengakui diri sebagai yang paling sakti. Semua orang sekedar mengaku sebagai simata belaka-seorang awam saja. Sebagian mengaku telah menanggalkan agama lama dan menggantinya dengan salah satu agama-baru-resmi-pula. Bahkan, sebagian benar-benar mencampakkan bakkat katsaila dan menggantikannya dengan besi-kecil-bersilang yang dengannya, konon, seorang di suatu tempat teramat jauh-beratus tahun lalu-telah diangkat ke surga."
Saengrekerei, Taksilitoni, dan Legeumanai kecil meninggalkan keluarga se-uma di lembah menuju barasi sebuah dusun yang dibangun pemerintah untuk menyejahterakan, memajukan masyarakat, dan mengejar ketertinggalan. Mereka menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan ketika masih tinggal di lembah, di barasi mereka hidup bertetangga dari suku-suku, atau uma-uma yang berbeda-beda.
Namun walaupun telah pindah ke barasi, saling curiga dan pertikaian antar suku atau uma demi menjaga marwah-wibawa tetap tidak bisa dihindari seperti halnya kisah pertikaian di lembah antara suku-sura'-boblo dengan suku-tunggul-kelapa yang mewariskan kisah pertikaian mereka turun-temurun. Selain itu, muncul masalah-masalah baru yang disebabkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah di barasi. 
Percakapan saat orang-orang berkumpul di beranda sapou Saengrekerei,
"Katanya pemerintah mau memajukan kita, mau menyejahterakan kita," seseorang terdengar menggugat, tapi Saengrekerei masih merenung. "Kenapa semuanya dilarang?"
"Ya, kalau pemerintah mau memajukan kita, seharusnya mereka tidak hanya memberi kita bibit cengkeh, coklat, pinang, dan rotan terus," Si Juling menegaskan. "Apa pemerintah bisa menjamin kalau harga cengkeh, cokelat, pinang, yang sudah kita rawat susah payah selama lima sampai tujuh tahun itu, harganya tidak jatuh ketika kita panen? Tak."
"Tak...," yang lain menggemakan sembari menggeleng.
"Apa ketika rotan kita panen, pemerintah menjamin akan laku?"
"Taaakk..."
"Apa gaharu dan nilam akan terus laku dan membuat kita kaya?"
Mereka berpandangan, lalu menyusul serentak,"Taaakkk..."
Membaca novel Burung Kayu dengan narator yang bercerita dengan tenang, lalu menempatkan kata-kata dari bahasa masyarakat Siberut di pulau Mentawai dengan sedikit/tanpa penjelasan atau menggantinya dengan padanan kata di bahasa Indonesia. Sehingga, pembaca harus berpikir dan tentu berimajinasi menebak-nebak kata tersebut.

Judul: Burung Kayu
Penulis : Niduparas Erlang
Penerbit : Teroka Press, 2020.


Jika dia ketahuan punya tato di antara tahun 1982 -1985, maka sudah cukup alasan dia dianggap penjahat yang mungkin akan dihabisi oleh petrus (penembak misterius). Kalau tidak salah namanya “Naches”, aku lupa sekarang dia masih hidup atau tidak. Namun, aku masih teringat dengan tato di lengannya yang gemuk berlemak bergambar perempuan telanjang tertusuk anak panah di hatinya dengan darah menetes. Setiap bertemu dengannya aku yang masih kanak-kanak (awal tahun 2000) selalu ketakutan, tetapi juga kagum dengan tatonya. Mungkin perjumpaan di masa kanak-kanak itu yang membuat aku bermimpi suatu saat mempunyai tato, tentu bukan gambar perempuan telanjang.

Kumpulan cerpen berjudul “Penembak Misterius” karya Seno Gumira Ajidarma. Di awali dengan trilogi penembak misterius yang terdiri dari Keroncong Pembunuhan, Bunyi Hujan di Atas Genting, dan Grhhh!. Ketiga cerpen ini di publikasikan di tahun 1985 dan 1987 saat rezim pemerintahan Orde Baru berkuasa. Trilogi cerpen tersebut sebagai reaksi SGA terhadap kebijakan pemerintah terkait dengan maraknya penembak misterius yang menewaskan orang-orang yang dianggap penjahat tanpa proses pengadilan. 

Pada tahun 1983, rezim Orde Baru menerapkan kebijakan yang ditakuti para penjahat bahkan preman: tembak mati. Mereka bisa dieksekusi mati kapan saja oleh penembak misterius (petrus). Di kutip dari histroia.id bahwa “kebijakan petrus ini atas restu Presiden Soeharto. Dalam otobiografinya, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, Soeharto berasalan bahwa petrus sebagai usaha mencegah kejahatan seefektif mungkin dengan harapan menimbulkan efek jera.”


Bunyi Hujan di Atas Genting

Sawitri merasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa dengan mayat-mayat bertato itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangga itu bergembira setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Di dalam rumahnya yang terletak di sudut gang itu Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mereka berteriak-teriak sambil mengurumuni mayat yang tergeletak itu meskipun kadang-kadang  hujan belum benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore.

“Lihat!Satu lagi!”

“Mampus!”

“Modar!”

“Tahu rasa dia sekarang!”

“Anjing!”

“Anjing!”

Potongan-potongan paragraf di atas menampilkan wacana yang tumbuh di masyarakat pada saat kebijakan petrus diterapkan oleh rezim Orde Baru. Muncul stereotip kepada orang-orang yang bertato bahwa mereka  termasuk preman atau gabungan anak liar (gali) yang dapat mengancam keamanan. Sehingga, korban petrus yang memiliki tato dianggap oleh masyarakat pantas untuk ditembak mati. Pada akhirnya kebijakan pertrus ini telah dihentikan pada tahun 1985 dan orde baru telah runtuh di tahun 1998 tetapi stereotip masyarakat terhadap orang-orang bertato masih tetap saja hidup di tengah-tengah masyarakat. 


Sarman

Sarman yang sudah menghadap ke jalan raya berbalik, sambil menendang sisa-sisa kaca di kusen jendela, ia berteriak dengan marah.

“Sudah sepuluh tahun aku bangun tiap pagi dan berangkat dengan tergesa-gesa ke kantor ini! Sudah sepuluh tahun aku berangkat pagi hari dan pulang sore hari melalui jurusan yang sama! Sudah sepuluh tahun aku memasukkan kartu absen di mesin keparat itu tiap pagi dan sore! Sudah sepuluh tahun aku melakukan pekerjaan yang itu-itu saja delapan jam sehari! Sudah sepuluh tahun! Dan akan berpuluh-puluh tahun lagi!”

“Sarman sudah  gila,” bisik seseorang.

Cerpen ini memang di awali dengan kalimat, “berceritalah tentang kejenuhan.”  Konflik yang terjadi dalam diri tokoh utama Sarman, mengingatkan saya tentang filsafat eksistensialisme Sartre. Menurut Sartre bahwa manusia merasa terasing dalam sebuah dunia tanpa makna. Perasaan terasing manusia di dunia ini menciptakan keputusasaan, kebosanan, kemuakkan, dan absurditas.  

Dalam realitas kehidupan khususnya kelas pekerja menengah perkantoran tentu mungkin ingin melakukan pemberontakan terhadap dirinya sendiri seperti Sarman, namun ketakutan untuk bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri menjadi dinding tebal yang sulit dirobohkan.


Seorang Perempuan di Halte Bis

“Siapakah dia? Dari mana? Mau ke mana? Anak siapa? Berapakah saudaranya? Adakah orang-orang yang kehilangan dan mencari dia? Betapa sebuah jalan hidup. Betapa sebuah perjalanan.

Aku masih meluncur di dalam bis kota yang kosong. Bis kotaku meluncur tanpa kernet dan tanpa sopir. Aku merasa naik burak. Aku masih teringat perempuan itu, yang pasti masih saja berdiri di halte bis sambil menengok ke arah kanan, menanti-nanti bis kota dengan satu saja kursi kosong. Sudah sepuluh tahun ia berdiri di sana. Sudah sepuluh tahun…”

Ketika membaca cerpen ini, aku dihadapkan dengan dua kondisi tokoh yang jauh berbeda. Tokoh pertama, perempuan di halte yang menanti bis kota dengan satu tempat duduk kosong. Bis kota yang jika tiba di halte tersebut telah penuh dengan penumpang, selain itu penumpang yang menunggu di halte bersama perempuan itu pun selalu berdesak-desakan. Walaupun telah menunggu selama sepuluh tahun di halte yang sama tidak ada satu pun penumpang yang memberikannya satu kursi kosong. 

Tokoh kedua, aku seorang pedagang keliling yang berpindah dari satu bis kota satu ke bis kota lainnya. Dia tidak ingin hanya menghabiskan waktu di satu tempat saja. Namun, di setiap tempat yang ia singgahi ditemukannya orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan sendiri.

Kumpulan cerpen Penembak Misterius, SGA menggunakan wahana sastra sebagai media informasi untuk mengkritik kebijakan Orde Baru dikarenakan munculnya pelarangan pers atau kontrol pers yang ketat terhadap media-media informasi saat itu. Maka SGA bertindak sebagaimana judul bukunya yang lain yaitu, ”Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.”


Sumber:

Ajidarma, Seno Gumira.2020. Penembak Misterius.

Gaarder, Jostein.2015.Dunia Sophie.

https://historia.id/kultur/articles/tato-dari-petrus-hingga-angelina-jolie-PNlKD/page/2

https://historia.id/politik/articles/petrus-kisah-gelap-orba-PyXNv/page/2


Jika ada kisah seorang pekerja seks yang memberikan minum seekor anjing lalu diampuni dosanya, maka mungkin hanya kisah Nasrul Marhaban yang mengunjungi masjid dalam tiga kesempatan: Hari Raya Idulfitri, Hari Raya Kurban, dan hari ketika rumahnya kebanjiran. Namun, diakhir hayatnya dikenang mati husnul khotimah.

Realitas kehidupan masyarakat itu sebenarnya dijejali berbagai hal-hal aneh, mungkin saja semua perilaku manusia adalah hal aneh tetapi kemudian muncul sifat ‘umum’ yang digeneralisasi sebagai hal yang wajar. Misalnya. gelar-gelar di kartu undangan pernikahan yang tidak mempunyai relevansi apa pun terhadap subtansi pernikahan. Namun, hampir semua undangan yang pernah saya baca menampilkan hal tersebut. 

Perkara pernikahan dan keanehan mungkin kisah Abdullah yang biasa dipanggil Dulah dalam cerpen berjudul Para Penjual Rumah Ustazah Nung dan Si Dulah di Toko Bang Rizal bisa jadi yang paling aneh, Dulah yang tsetia dengan cinta pertama mengorbankan tsegala-galanya kecuali kebodohannya. Terjebak di antara, cinta pertama, para makelar tanah dan sepasang penipu. 

Kumpulan cerpen Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang karya Ben Sohib berisi 14 cerpen. Dia menampilkan tokoh-tokohnya berada dalam suatu permainan kehidupan yang aneh. Namun keanehan tersebutlah yang membuat pembaca merasa bahwa tokoh/situasi di dalam cerpen tidak jauh dari kehidupan yang dijalani. Keanehan yang sulit untuk bisa dianggap salah tetapi kita tahu bahwa terdapat nilai-nilai yang telah hilang dalam diri tokoh/situasi.

Tiga cerpen yang menurutku paling menarik;


Bagaimana Nasrul Marhaban Mati dan Dikenang

Sebagai orang yang dikenal sangat jarang pergi ke masjid, pilihan Nasrul Marhaban mengungsi ke Masjid Assalam setiap kali rumahnya terendam banjir itu sempat jadi bahan pembiacaraan warga. Bahkan, ada satu olok-olok tentang hal ini, entah siapa yang mengatakannya pertama kali, bahwa Nasrul Marhaban hanya mengunjungi masjid dalam tiga kesempatan: Hari Raya Idulfitri, Hari Raya Kurban, dan hari ketika rumahnya kebanjiran. Pada hari-hari selebihnya, tak pernah ia sengaja datang untuk keperluan lain, termasuk untuk salat jumat.

Ustaz Komar, sang khatib, menjadikan Nasrul Marhaban sebagai contoh, sosok manusia yang menutup perjalanan hidupnya dengan baik, mati husnul khotimah. Ustaz Komar menceritakan bagaimana Nasrul Marhaban yang dikenal sangat jarang ke masjid itu ternyata lebih memilih kehilangan nyawanya ketimbang melihat kitab suci milikinya lenyap ditelan banjir.


Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang

Yohannes Soekatja, si calon pembeli tanah, terkena serangan jantung pada Minggu pagi sepulang dari gereja, dan sekarang dirawat intensif di sebuah rumah sakit di Pondok Indah. Salim, Amir, Shaleh segera berkumpul dan pergi ke sana untuk menjenguknya. 

Tiga sekawan itu duduk bersila di pojok ruangan dan mulai membaca Alquran. Sejak hari itu selepas Isya, Salim, dan Amir, dan Shaleh bersila di ruang tunggu ICU, bergantian membaca ayat suci. Menjelang dini hari baru mereka berhenti dan pulang ke rumah dan akan datang lagi selepas Isya pada malam berikutnya. Itu semua mereka lakukan semata-mata demi kesembuhan Yohannes Soekatja.


Apang Bokek dan Pidato Isterinya

Entah kebetulan atau kutukan, julukan Bokek mencerminkan keadaan ekonomi si penyandang. Meski tak mempunyai utang, Apang tak kalah melarat dibandingkan ayahnya.

Namun, justru dari kemiskinan itulah berbagai cerita dan kejadian yang melibatkan dirinya membicarakan gelak tawa di kampung kami. Ia disukai oleh banyak orang, terutama para pemuda dan pria setengah baya yang gemar mabuk. Bagi mereka, acara minum-minum terasa kurang meriah tanpa kehadiran Apang Bokek.

“Lu pade demen ngajakin Apang pegi, bakal lucu-lucuan doing. Lu pade demen nanggepin Apang, terus lu bayar pake duit recehan. Lu pade kagak pernah mikirin nasbnye!” Leha berkata dengan suara bergetar. Lalu ia terisak.


Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang berisi sentilan-sentilan yang dibungkus dalam humor membuat gelak tawa tetapi tidak kehilangan esensi dari makna setiap kisah-kisah di cerpennya. Seandainya aku salahsatu dari tiga makelar Salim, Amir, atau Shaleh mungkin akan melakukan hal yang sama. Tentu tidak ada yang salah jika kita mendoakan orang yang berbeda keyakinan dengan rajin membaca Al-Qur’an di dekatnya tetapi apakah hal tersebut karena kesembuhannya atau menanti keuntungan jika orang tersebut sembuh? Atau mungkin saja mereka melakukan itu dengan spontan tanpa berpikir.

Judul : Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang

Penulis : Ben Sohb

Penerbit/Tahun : Banana/2020

Jalan M.H Thamrin

Selama dua tahun bekerja dan indekos di Jakarta tetapi masih merasa bukan bagian darinya. Jakarta yang jika kamu datang di daerah segitiga emasnya akan berpikir kota ini menjulang ke atas, kokoh, dan merefleksikan kemajuan. Tetapi, jika melimpir sedikit di belakangnya maka pemandangan yang terlihat akan sangat jauh berbeda, orang-orang hidup terhimpit secara fisik dan ekonomi di gang. Menurut SGA dalam bukunya Affair (Obrolan Urban),Homo Jakartensis, manusia Jakarta, sosok-sosok yang mengembara dalam pencarian, dalam sebuah kota yang telah menjadi situs wacana, dengan pilihan yang terus-menerus berganti.

Buku Affair (Obrolan Urban) yang terbit lagi di tahun 2020, pertama kali terbit tahun 2004 berisi kumpulan beberapa kolom-kolom SGA di tabloid Djakarta tahun 2000 hingga 2011 dan ditambahkan dua kolom dari merdeka.com.

Walaupun objek yang dibahas adalah Jakarta dan manusianya namun sebenarnya lebih menunjukkan gejala kebudayaan yang muncul dalam masyarakat  umum  yang sekalipun letaknya jauh dan tentu bukan hanya wacana milik kaum urban.


Kolom pertama yang menarik, “Berhala Urban: Semoga Sukses!”

“Kisah sukses urban adalah kisah sukses dengan ukuran-ukuran baku. Kalau anda guru teladan yang berangkat sekolah untuk mengajar naik sepeda motor, yang mogok-mogok pula, kategori apapun sangat sulit menyebut anda orang yang sukses. Setelah menyetir selama 30 tahun, seorang sopir yang mempunyai reputasi tidak pernah secuil pun menyerempet mobil lain, tidak pernah ditilang, tidak pernah terlambat, dan hanya membunyikan klakson dalam keadaan sangat terpaksa ini pun tidak akan pernah dipuji sebagai sukses.

Andaikan Anda diangkat jadi menteri. Meskipun Anda belum mulai bekerja, Anda sudah dianggap orang sukses. Jabatan Anda adalah sukses anda, bahwa sebagai menteri Anda rada-rada bego, itu bukan persoalan.”

Kalimat di atas menunjukkan bagaimana cara pandang masyarakat tentang kesuksesan memiliki ukuran-ukuran yang ajaib. Bahkan saat ini konstruksi sosial menampilkan citra orang sukses dengan berdasi, berjas, mobil mewah, rumah bergaya Eropa abad 19, liburan di luar negeri, dan punya jabatan di pemerintahan atapun perusahaan.

Demi sebuah prestise dalam masyarakat akhirnya orang-orang memburu kesuksesan, tetapi bagaimana jika kita tidak ikut memburu kesuksesan? Puas dengan kehidupan yang biasa-biasa saja, menjadi nomor enam bahkan terakhir pun tidak masalah asalkan bisa hidup mandiri, tidak parasit, tidak membungkuk-bungkuk, apalagi tersenyum palsu.


Kolom kedua yang menarik,"Keramahan Jakarta."

"Kalau kita sebut humas, seperti pegawai negeri berseragam di ruangan panas terkantuk-kantuk, kalau kita sebut "pi-ar" langsung terbayang seorang perempuan berbaju blazer, dengan sepatu tinggi yang suara langkahnya terdengar nyaring tak-tak-tak-tak.

Betapa pun ramah orangnya, renyah tawanya, manis senyumnya, wangi parfumnya, dan langkahnya tak-tak-tak-tak. Saya tahu betul, itulah model-model keramahan yang saya sering temui di Jakarta, suatu keramahan bisnis, keramahan profesional, keramahan demi relasi--nah, public relations."

SGA menulis kolom di atas pada tahun 2001, namun pengalaman yang saya rasakan selama di Jakarta hampir tidak jauh berbeda. Tidak ada yang salah dengan ilmu public relations dan keramahan, tetapi jika kamu duduk diantara orang-orang yang saling mempraktikkan keramahan demi sebuah kepentingan yang muncul adalah rasa mual. Menurut SGA, bagaimana jika kecendrungan mempraktikkan ilmu ramah ini mengendam dalam jiwa, bergerak dalam jiwa Homo Jakartensis? Keramahan semu ini menjadi bagian hidup sehari-sehari. Senyum harus disetel walaupun hati ogah sekali. 


Kolom ketiga yang menarik,"Agenda."

"Memang ada orang sakit yang sangat butuh didampingi, karena sudah tidak apa-apa, tapi ada juga saya kira orang sakit yang lebih suka menyendiri.

Hubungan yang hanya terbina karena kepentingan, seperti yang cenderung terbangun di dunia urban, membuat seseorang kurang menjadi dirinya sendiri. Seseorang terpaksa melakukan hal-hal yang tidak disukainya jika berhadapan dengan orang lain, ataukah itu membiarkan diri tertindas, atau terpaksa menindas, sehingga menyendiri untuk bertemu dengan dirinya sendiri, sebagai dirinya sendiri, merupakan privacy yang bisa dimaklumi.

Akan kasihan baginya untuk harus berbasa-basi, apalagi melayani penegokan yang juga basa-basi."

Mungkin sebagian besar hubungan yang aku jalani selama mengenal kalimat, "manusia adalah makhluk sosial" cenderung karena kepentingan. Demi memperlancar hubungan tersebut seringkali yang muncul tidak lebih dari perilaku basa-basi. Saling menyapa jika bertemu di tempat umum, ikut mengucapkan selamat, atau duka pun seringkali karena sekedar berbasa-basi. Betapa membosankannya kehidupan seperti itu, apalagi ternyata kalau kita sebenarnya saling mengetahui kalau hanya sedang berbasa-basi belaka. Salahsatu basa-basi yang sering kentara kalau kalian memberikan selamat dengan meng copy-paste kata-kata orang lain.


Potongan ketiga kolom di atas yang paling aku suka dan berkenaan dengan pengalamanku, masih ada 64 kolom lain dalam buku Affair (Obrolan Urban). Mungkin salah satu atau beberapa kolom akan kamu kenali sebagai dirimu atau orang di sekitarmu. 

Mungkin sekali dalam hidupmu pernah berkata atau mendengar orang-orang di sekitarmu berucap,"Apa saya sudah tampak seperti orang Jakarta?" 

Affair (Obrolan Urban)

Penulis: Seno Gumira Ajidarma

Diterbitkan oleh: Pabrik Tulisan, Yogyakarta.