Novel ini merupakan karya Pramoedya Ananta Toer setelah melakukan reportase singkat di wilayah Banten Selatan pada akhir tahun 1957.
Novel ini menceritakan kehidupan seorang pemuda bernama Ranta bersama istrinya Ireng dalam menghadapi kesusahan hidup yang telah begitu lama mereka alami. Setiap hari mereka hidup serba kekurangan yang menyebabkan anak-anak mereka tak mampu bertahan hidup karena cacingan. Namun, di tengah kesulitan mereka ada saja yang tetap menindas mereka, dia adalah seorang Lurah di daerahnya yang bernama Juragan Musa. Ranta selalu diberikan perintah untuk mencuri bibit karet dengan upah yang sedikit, sebenarnya ia tidak ingin melakukan pekerjaan buruk itu namun karena takut oleh kekuasaan Juragan Musa dan kemiskinannya maka ia melakukannya dengan upah seringgit.
Suatu malam setelah melakukan pekerjaan Ranta pulang dengan tangan yang berdarah. Ireng sangat ketakutan melihat keadaan suaminya, untunglah ada dua orang singgah bermalam di bale di depan rumahnya dan Ranta pun dipapah oleh kedua orang petani singkong tersebut. Ranta menceritakan bahwa ia telah dipukuli oleh anak buah Juragan Musa setelah mencuri karena ia meminta upah namun ia balik dituduh telah mencuri bibit si Juragan Musa. Ranta berkata kepada istrinya bahwa mereka telah hidup dalam kesakitan melulu, kalau bukan daging yang sakit, yaa hati yang sakit. Kedua orang tersebut melihat Ranta yang sangat tegar menghadapi segala kesulitan, setelah keadaan Ranta membaik mereka memohon untuk pergi. Sebelum pergi Ranta meminta mereka untuk datang kembali dan mengajak kawannya yang lain.
Tidak lama setelah kepergiaan kedua orang tersebut, datanglah Juragan Musa berteriak memanggil Ranta, karena yang dipanggil tidak keluar maka Juragan Musa mengancam akan melaporkan Ranta kepada polisi. Sehingga, Ranta pun akhirnya keluar menemui Juragan Musa yang sudah terlihat marah. Namun, Ranta tak kalah marah seperti akan menerkam Juragan Musa. Perasaan ketakutan melihat Ranta seperti binatang buas membuat Juragan Musa melompat mundur sehingga aktentas dan tongkatnya terjatuh ke tanah dan dia sendiri lari terbirit-birit.
Tidak disangka kedua orang petani singkong itu datang bersama satu temannya yang pernah juga dipukuli oleh anggota Juragan Musa, dari orang ini mereka ketahui bahwa Juragan Musa merupakan anggota kelompok DI yang selalu menyebar teror di daerah mereka. Ranta dan keempat tamunya lalu berunding untuk melaporkan Juragan Musa kepada Komandan yang bertugas menjaga desa mereka. Setelah berkemas-kemas Ranta, istrinya Ireng, dan ketiga orang tersebut menuju ke markas komandan untuk membawa aktentas dan tongkat Juragan Musa sebagai bukti bahwa dia adalah anggota DI sehingga tidak pernah diteror oleh DI.
Juragan Musa dengan penuh ketakutan tiba di rumahnya yang disambut oleh istri mudanya yang sedang khawatir karena untuk pertama kali suaminya telat pulang. Dengan gusarnya Juragan Musa berteriak mencari bujangnya Rodjali, istrinya memberitahu bahwa Rodjali ua suruh pergi menyusul Juragan Musa. Mendengar hal itu Juragan Musa memarahi istrinya bahkan menuduh istrinya sebagai pembawa sial lalu ia masuk ke kamar mengambil keris pusakanya. Juragan berniat untuk pergi membunuh Ranta. Tibalah Rodjali yang kemudian di suruh oleh Juragan Musa untuk memanggil para anak buahnya yang merupakan anggota DI untuk berkumpul di rumahnya. Tak lama muncullah anak buah Juragan Musa yang diperintahkan mencari Ranta untuk dibunuh.
Juragan Musa yang ditinggal berdua dengan istrinya kemudian terlibat pertengkaran yang berujung penganiayaan terhadap istrinya. Namun, tak lama datang prajurit bersama Komandannya disertai dengan Ranta datang untuk menangkap Juragan Musa dengan bukti-bukti yang ditemukan di dalam tasnya. Juragan Musa tetap menolak dituduh sebagai anggota DI namun komandan terus mendesaknya agar mengaku. Tak lama kemudian Komandan mendapat kode dari anak buahnya jika ada orang yang datang. Komandan dan prajuritnya bersembunyi dan menyuruh Juragan Musa beserta istrinya bertingkah seperti biasanya. Tamu-tamu yang datang membuktikan bahwa Juragan Musa adalah seorang petinggi DI, ia akhirnya ditangkap oleh Komandan lalu di bawa ke Markas.
Ranta lalu diangkat menjadi Lurah sementara karena telah membantu Komandan mengamankan daerahnya. Sementara waktu Ranta bersama istrinya tinggal di rumah Juragan Musa karena rumahnya telah dibakar oleh anak buah Juragan Musa. Keesokan harinya ia bercerita kepada Rodjali bahwa jika seluruh warga bersatu maka semua bisa dikerjakan dan diperlukan persatuan agar desa mereka tetap aman dari para pemberontak yang telah sewaktu-waktu datang untuk memangsa mereka.
Datanglah Komandan bersama prajuritnya meminta bantuan Ranta agar mengerahkan warganya untuk melawan para pemberontak yang telah datang untuk menyerang kembali. Tetapi sebelum mereka berangkat istri Juragan Musa meminta diri untuk kembali ke kampungnya. Ranta mencegah dengan memperingatkan bahwa pemberontak telah bersiap menyerang dan sangat berbahaya jika dia tetap ingin keluar dari kampung. Namun, istri Juragan Musa tetap bersikeras pergi tanpa menghiraukan peringatan Ranta. Rodjali di suruh menyusul mantan majikannya agar istri Juragan Musa tetap aman.
Setelah malam tiba terjadilah pertempuran antara prajurit-prajurit bersama warga melawan pemberontak yang ingin membalas dendam atas ditangkapnya Juragan Musa. Akhirnya, pemberontak berhasil dikalahkan oleh persatuan antara prajurit dan warga. Hanya saja istri Juragan Musa yang menderita karena mendapat siksaan oleh pemberontak ketika ia sedang menunggu truk.
Kampung mereka kembali aman dibawah pimpinan Lurah Ranta. Komandan sangat berterimakasih atas bantuan Ranta beserta warganya dalam membantu memberantas pemberontak yang selalu menyebar ancaman. Lurah Ranta, Komandan, prajurit, dan warga bergotong-royong dalam membangun desa mereka kembali setelah porak-poranda akibat penindasan pemberontak DI. Istri Juragan Musa yang telah sehat kembali juga ingin turut membantu dalam menyejahterahkan desanya dengan membantu mengajar membaca dan menulis untuk anak-anak gadis dan istri-istri di desanya. Seluruh warga desa larut dalam kebahagian untuk menyejahterahkan hidup mereka dan juga untuk keturunan mereka.

Referensi :
Pramoedya. Ananta Toer. 2015. Sekali Peristiwa Di Banten Selatan. Jakarta. Lentera Dipantara.
Pramoedya Ananta Toer.                                       Sumber Foto: Geotimes


Pramoedya Ananta Toer adalah seorang sastrawan Indonesia yang terkenal di dalam, maupun di luar negeri dan mungkin penulis seperti dia muncul hanya sekali dalam satu generasi, atau malah dalam satu abad. Dia lahir pada 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah yang merupakan anak sulung dari M.Toer dengan Saidah. Pramoedya menikah pertama kalinya dengan Arfah Iljas  pada tahun 15 Januari 1950, namun harus berpisah pada tahun 1954. Pernikahan keduanya terjadi pada 1955 dengan Maimunah Thamrin.
Pendidikan formal Pramoedya bermula pada tahun 1929, ia masuk Sekolah Dasar Perguruan Budi Utomo, Blora. Ia lulus tahun 1939, setelah 10 tahun bersekolah yang semestinya hanya 7 tahun. Selepas itu Pram tidak bersekolah karena keinginannya ditolak untuk meneruskan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) oleh ayahnya. Pada tahun 1940 ia mulai dapat belajar di Radio Vakschool, Surabaya dari uang hasil berjualan padi bersama ibunya. Kemudian ia pergi ke Jakarta lalu masuk Taman Siswa, Taman Dewasa Kelas II sambil bekerja sebagai juru ketik di Kantor Berita Jepang, Domei, namun pada saat sudah naik kelas III Jepang membubarkan sekolah tersebut. Pada bulan Februari 1944, ia mendapat kesempatan untuk bersekolah di sekolah “Stenografi Tjuo Sangiin.” Setalah tamat pada bulan Maret 1945 Pramoedya menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Islam Gondangdia, di sini ia mempelajari filsafat, sosiologi dan psikolog. Pada bulan Mei 1953, Pram berangkat ke Belanda untuk belajar atas biaya Yayasan Kerja Sama Kebudayaan Belanda-Indonesia.
Selama tahun 1942 hingga Juni 1945 ia bekerja di Domei namun ia mengundurkan diri karena merasa diperlakukan tidak adil, karena surat pengunduran dirinya ditolak, dia memilih melarikan diri ke Jawa Timur hingga ke kaki gunung Kelut. Di masa perjuangan kemerdekaan ia menjadi anggota BKR (Badan Keamanan Rakyat) dengan pangkat Letnan II,tetapi ia tak lama dalam tentara karena menentang keras korupsi dan perdagangan gelap antara Jakarta yang diduduki Belanda dengan wilayah Republik di sekitarnya. Ia juga kecewa dengan cara TNI memecat prajurit dengan alasan yang kadang cukup sewenang-wenang. Pada tahun 1947, ia bekerja sebagai redaktur dan penerjemah di The Voice of Free Indonesia. Kemudian pada tahun 1950 ia bekerja di penerbit negeri Balai Poestaka sebagai penyunting di bagian sastra modern dan pernah menjadi redaktur majalah kanak-kanak Kunang-Kunang, tetapi pada akhir tahun 1951 ia meninggalkannya karena tidak puas dengan cara kerja pimpinannya. Akhirnya di bulan Januari 1952 ia mendirikan satu agensi kesusastaraan, yaitu Literary & Features Agency Duta (L & F Acy Duta) yang pada akhirnya bangkrut karena pemotongan atas anggaran belanja Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PPK) yang mengakibatkan krisis penerbitan.


Peran Orangtua terhadap Pramoedya
M.Toer adalah seorang nasionalis tulen tetapi tidak tergolong sayap kiri. Dia mencoret gelar bangsawan “Mas” dari namanya. Ayahnya terbiasa membeli buku termasuk beberapa karya Multatuli. Ayahnya seorang guru pada pemerintahan Belanda. Lalu memberi pelajaran di sekolah swasta untuk anak-anak miskin, termasuk Pram. Namun ia meninggalkan pengajaran karena sering dirintangi kolonial dan mulai mencari hiburan, berjudi. Sedangkan ibunya dari kaum feodal yang kaya tetapi perubahan pemikiran dan pendirian politik membuat ibunya melakukan segala hal sendiri.
Kedua orangtuanya mendidik Pramoedya menjadi manusia bebas dan tidak malu bekerja. Itu bertentangan dengan situasi ketika saat itu yang sebagian masyarakat bercita-cita menjadi pegawai negeri, yaitu golongan priyai. Ibunya pernah berkata “Jangan jadi pegawai negeri, jadilah majikan atas dirimu sendiri. Jangan makan keringat orang lain, makanlah keringatmu sendiri. Dan itu dibuktikan dengan kerja. Kalau nanti sudah besar, belajarlah di Eropa.”
Namun, ibu yang disayanginya meninggal pada bulan Mei 1942 ketika berusia 34 Tahun. Sedangkan ayahnya , meninggal pada tahun 1951.
Ideologi dan Pandangan Politik Pramoedya
Pengalaman masa kecil dan masa remaja (keharusan mengurus saudara-saudaranya sesudah ibunya meninggal) telah memberikannya pandangan tajam dan membentuknya sebagai individualis yang berpendirian keras. Ia berpegang teguh pada nilai-nilai demokrasi dan kemanusian. Ia hanya berpihak pada adil, benar, dan berprikemanusian bukan paham tertentu. Ia merasa sebagai seorang Renaisans karenanya dia percaya pada keadilan. Pram menganggap dirinya adalah manusia baik karena ia menginginkannya, bukan karena agama, Undang-Undang, atau paksaan. Menurutnya itu adalah pengertian humanis. Dia ingin dianggap manusia baik karena keinginannya, karena nuraninya, bukan karena sesuatu dari luar.
Sifatnya yang keras, menunjukkan bahwa dalam membela keadilan sosial dan kebenaran proletariat, dia selalu mengambil sikap yang jelas dan tegas,  tanpa merasa malu atau takut salah, dan menempatkan kebahagian buruh dan tani di atas segala kebahagian sekelas atau segolongan seperti yang dikenal oleh golongan borjuis.
Dilahirkan sebagai orang Jawa namun ketika umur 17 tahun ia telah mulai mengkritik budaya Jawa. Pram beranggapan bahwa jika ia mengikuti budaya Jawa maka ia akan menjadi budak. Budaya Jawa mementingkan kelas. Oleh sebab itu, ia membenci feodalisme yang dianggapnya sebagai salah satu hambatan utama untuk pembangunan negara. Dia menganggap golongan feodalisme Jawa ini menginjak-injak nilai humanisme. Sebagai seorang humanis, Ia memang bericita-cita untuk memperbaiki nasib rakyat jelata yang sengsara, dan membangun negara serta bangsa yang jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara lain pada waktu itu.
Pandangan politiknya adalah nasionalis dan selebihnya adalah individualis. Ia bertanggung jawab terhadap buah pikirannya sendiri. Dia tidak bergantung pada orang lain. Oleh karena itu ideologi Pramoedya adalah cinta akan keadilan, kebaikan dan alam serta nasionalisme. Jika ia melakukan kesalahan, maka ia akan mengakuinya.
Pandangan Pramoedya terhadap Agama
Pramoedya berpendapat bahwa agama adalah pengakuan iman manusia ketika berhadapan dengan Tuhan. Ia lebih menghargai sisi spiritual dan sisi pribadi agama daripada organisasi keagamaan yang dogmatis. Agama bagi kebanyakan orang yang percaya tidak memiliki nilai spiritual dan isi, melainkan hanya berarti penunaian serangkaian kewajiban sosial. Pramoedya mengakui dirinya menganut Saminisme, sebab itu ia melakukan apa saja yang dianggapnya benar.
Pramoedya dan Kepengarangannya
Pada awalnya, Pramoedya menggambarkan kehidupan disekitarnya, lantas ditinjau dari kurungan Belanda, lalu dari sudut-pandang seorang penulis miskin yang mengamati lingkungan miskinnya. Kemudian, buku-buku bernada politik dengan ciri moral yang kuat. Masalah–masalah yang dikupasnya adalah masalah-masalah dasar manusia; kecintaannya pada keluarga dan bangsa, kebenciannya pada kebatilan sesama manusia, kebahagian dan cacatnya.
Menurutnya seni bukan gelanggang untuk mengumandangkan kebebasan diri sendiri, tetapi berfungsi membawa kesejahteraan dan keselamatan lingkungannya. Salah satu tugas sastra adalah memperjelas dan memperkuat kebenaran serta keadilan. Pengarang dan seniman merupakan hati nurani masyarakat dan bangsanya. Apa yang dirasakan, dipikirkan, diharapkan, dan diinginkan bangsanya adalah bergetar dalam jiwanya.
Pramoedya mengembara dari dunia kekecewaan ke dunia harapan. Dunia kekecewaan adalah dunia kenyataan yang menjadi halangan, sedangkan dunia harapan adalah dunia impian yang memberi hasrat atau semangat rakyat bangsanya sendiri
Pramoedya menyukai penulis seperti John Steinbeck (1902-1968), William Saroyan (1908-1981), De Saint-Exupery (1900-1944), Lode Zielems (1901-1944), Maxim Gorki (1868-1936), Multatuli (1820-1887). Sehingga, tulisannya sedikit-banyak dipengaruhi oleh penulis-penulis di atas.
Karya-karya Pramoedya yang pernah diterbitkan, Kemudian Runtuhlah Majapahit (1942), Sepuluh Kepala NICA (1946), Kranji-Bekasi Jatuh (1947), Perburuan (1950), Keluarga Gerilya (1950), Mereka yang Dilumpuhkan (1951), Bukan Pasar Malam (1951), Di Tepi Kali Bekasi (1951), Cerita dari Blora (1952), Korupsi (1954), Cerita Calon Arang (1954), Midah Si Manis Bergigi Emas (1955), Kecapi (1956), Jalan yang Amat Panjang (1956), Cerita dari Jakarta (1957), Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1959), Hoa Kiau di Indonesia (1960), Gadis Pantai (1962), Panggil Aku Kartini Saja (1962), Madun (1964), Kesempatan yang Kesekian (1965), Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), Rumah Kaca (1988), Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), Arus Balik (1995), Arok Dedes (1999), Mangir (2000), Larasati (2000).
Penghargaan yang diperoleh semasa hidup Pramoedya Ananta Toer, yaitu Freedom to Write Award dari PEN American Center (1988), Anugrah dari The Fund for Free Expression (1989), Wertheim Award (1995), Ramon Magsaysay (1995), UNESCO Madanjeet Singh Prize (1996), Doctor of Humane Letters (1999), Chanceller’s Distinguished Honor Award (1999), Chavalier de l’Ordre des Arts et des Letters (1999), New York Foundation for the Arts Award (2000), Fukuoka Cultural Grand Prize (2000), The Norwegian Authors Union (2004), dan Centenario Pablo Neruda (2004).
Pramoedya dan Penjara
Pramoedya menjalani hukuman penjara selama 14 tahun tanpa proses pengadilan melainkan hanya dengan tuduhan. Pertama kali dia di penjara pada 21 Juli 1947 oleh tentara Belanda ketika melakukan aksi militer pertama, namun kemudian dibebaskan 18 Desember 1949 akibat pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda.
Setelah menerbitkan buku Hoa Kiau di Indonesia yang dituduh berisi pembelaan pedagang-pedagang keturunan Cina, sehingga ia ditangkap dan tanpa proses pengadilan sehingga dia dipenjara selama 9 bulan.
Pada 13 Oktober 1965 ia dituduh terlibat dalam kegiatan-kegiatan LEKRA yang dianggap disusupi komunis, dan tanpa proses pengadilan ia ditahan di Rutan Militer Tangerang hingga bulan Juli 1969. Lalu dipindahkan ke penjara Karang Tengah, Nusakambangan. Pada 16 Agustus 1969 ia bersama tahanan politik dikirim ke Pulau Buru. Ia tiba sana pada 10 September 1969. Ia dipindahkan dari Pulau Buru pada 12 November 1979, dan kemudian di bebaskan pada 21 Desember 1979 namun ia tetap dikenakan peraturan wajib lapor, dan tidak mempunyai hak memilih dan dipilih dalam pemilu. Ia merasa telah diperlakukan sampai titik dasar kehinaan di Indonesia pada masa Orde Baru. Hal itu disebabkan karena Soeharto baru mengijinkannya menulis pada tahun ke-8 masa penahanannya dan ketika dia bebas dari penjara buku-buku yang ditulisnya di sita dari pasaran.
Menurutnya penjara adalah sebuah mikrokosmos bagi dunia :“Penjara kami adalah dunia kecil yang tersendiri dan terpencil. Buat mereka yang suka memperhatikan sesuatu, adalah suatu keuntungan hidup dipenjara untuk waktu pendek. Pendek saja. Kalau terlalu lama, dia sendiri akan terseret dan turut jadi pemain aktif.”

Hubungan Pramoedya dengan Tiongkok, Komunisme dan Lekra
Pramoedya berkunjung pertama kali ke Tiongkok 1956, ia melihat anak-anak bermain musik di taman, lalu tahun 1958 ia datang lagi dan taman itu telah kosong. Terakhir ia datang ke Tiongkok tahun 1960, ia ingin bertemu dengan sahabatnya dan dilarang sehingga ia tidak ingin menginjakkan kaki di bumi Tiongkok lagi karena tidak ada lagi segi-segi kemanusian.
Menurutnya komunisme itu ada 2 macam, yaitu sebagai sistem politik dan ideologi perorangan. Sebagai sistem politik sudah dibuktikan bahwa komunisme tidak demokratis. Masalahnya adalah apakah manusia hidup untuk sistem ataukah sistem untuk manusia. Jika manusia dilahirkan untuk sistem, maka manusia itu akan menderita. Walaupun manusia itu lahir tidak atas kemauannya sendiri, tapi aturan-aturan dari sistem belum tentu sesuai dengan individu. Maka karena itu, Pramoedya berpendapat bahwa demokrasi, seberapapun jeleknya sebagai sistem, tetapi lebih baik daripada komunisme. Manusia memiliki hak untuk bicara, juga ketika yang diungkapkannya keliru. Kalau hal itu terjadi, yang lain akan mengoreksinya.
Pramoedya  tidak pernah menjadi anggota partai Komunis, tetapi ikut dalam lembaga yang bernaung di bawah PKI, yaitu LEKRA (Lembaga Kebudjaan Rakjat). Namun menurutnya tidak ada jeleknya mempunyai kawan dalam ikatan yang lebih besar, asalkan tidak ada kejahatan.
Peristiwa Akhir Dan Harapan Pramoedya
Pramoedya meninggal pada usia 81 tahun tanggal 30 April 2006. Ia dianggap pantas meraih penghargaan Nobel Sastra. Ia memiliki pendirian yang tetap dan sikapnya selalu berkepala tegak, baik pada masa dekolonisasi Belanda maupun pada pemerintahan Seokarno dan rezim Soeharto. Karya-karyanya telah menciptakan gambaran tidak terhapuskan tentang tanah-air dan sejarahnya, dalam masa lalu yang jauh maupun dekat. Inti karyanya adalah nasib rakyat. Rakyat dalam kehidupan sehari-hari, rakyat yang bertahan untuk mencari nafkah, rakyat yang dilukiskan dalam ambisi-ambisinya yang sering dikekang.
Ia berharap bahwa apa yang dibaca dalam tulisannya akan memberikan kekuatan pada pembacanya, memberi kekuatan untuk tetap berpihak yang benar, pada yang adil, pada yang indah. Pramoedya juga sangat menaruh harapan pada generasi muda untuk memberikan jawaban atas jalannya sejarah, bagaimana mereka melakukannya, itu urusan mereka (generasi muda).
Dua bulan sebelum meninggal Pramoedya Ananta Toer berkata bahwa “Sudah saya menulis apa yang ingin saya tulis. Sudah saya punya apa yang ingin saya punya”



Sumber referensi
Ananta Toer, Pramoedya. 2015. Bumi Manusia. Jakarta. Lentera Nusantara.
Snoek Kees dan Augus Hans den Boef. 2008. Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir: Esai dan              Wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer. Depok: Komunitas Bambu.
Young Hun, Koh. 2011. Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia. Jakarta: PT.            Gramedia Pustaka Utama.

Di suatu daerah yang bernama Verona terdapat dua keluarga kaya, keluarga Capulet dan Montague. Keduanya sejak lama bermusuhan sehingga keluarga mereka tidak boleh sering bertemu. Jika bertemu akan terjadi perselisihan yang bisa menyebabkan pertumpahan darah. Pada suatu pagi yang panas terjadi perkelahian antara pelayan Capulet dan Montague yang mengganggu ketenangan kota Verona. Raja harus menyelesaikan perselisihan Tuan Capulet dan Montague, Raja Escalus akan memberikan hukuman mati kepada orang pertama yang merusak perdamaian tersebut.
Suatu ketika keluarga Capulet mengadakan pesta untuk memperkenalkan anaknya kepada Paris yang akan menjadi suami putrinya Juliet. Para gadis dan bangsawan diundang kecuali keluarga Montague.
Romeo bersama Bonvolio, dan Mercutio pergi ke pesta yang diadakan oleh keluarga Capulet dengan menggunakan topeng. Tuan Capulet menyambut kedatangan mereka dan mempersilahkan mereka untuk berdansa dengan para gadis yang telah datang. Namun, ketika dia memuji pasangan dansanya, salah satu anggota keluarga Capulet mendengar suaranya. Ia adalah Tybalt, keponakan tuan Capulet. Dia tidak dapat menerima kehadiran anggota keluarga Montague. Dia pun melaporkan hal tersebut kepada tuan Capulet agar dia bisa diizinkan untuk menghampiri dan membunuh Romeo, namun Tuan Capulet menolak keinginannya.
Setelah berdansa, Romeo mencari gadis yang berdansa dengannya. Mereka pun bercakap-cakap dan mereka akhirnya bersahabat. Tiba-tiba si gadis di panggil oleh ibunya. Ketika si gadis pergi Romeo menanyakan nama gadis tersebut kepada pelayan dan si pelayan memberitahunya bahwa dia adalah anak dari istri tuan rumah. Juliet juga menyuruh pelayannya untuk menyakan nama pria pasangan dansanya, tidak lama kemudian pelayan tersebut kembali dan memberitahu bahwa namanya adalah Romeo dan dia seorang Montague.
Romeo dan Juliet tidak bisa menyembunyikan perasaan cintanya. Mereka telah jatuh cinta walaupun itu sangatlah berbahaya. Akhirnya Romeo dan kedua sahabatnya pulang dari pesta namun Romeo memutuskan untuk kembali ke rumah Juliet dan merenungi perasaannya yang tiba-tiba jatuh cinta.
Juliet yang bergumam sendiri tentang perasaannya kepada Romeo. Dia tidak sadar bahwa Romeo mendengarnya, dia berusaha menahan untuk tidak menjawab namun akhirnya dia tidak tahan kemudian ia menjawab gumaman Juliet. Setelah Juliet mengenali suara Romeo, ia memutuskan untuk  memanjat pagar kebun apel untuk menemui Juliet. Juliet tidak ingin berpura-pura di hadapan Romeo tentang perasaannya. Juliet mengakui mencintai Romeo dan berharap menjadi kekasihnya. Juliet telah memberikan cintanya  kepada Romeo sebelum ia memintanya. Juliet mengungkapkan bahwa cintanya begitu dalam terhadap Romeo. Tidak lama kemudian pelayannya datang, sebelum ke kamar dia memberitahukan bahwa besok ia akan mengirim utusan besok hari untuk menanyakan kapan Romeo akan menikahinya dan ia akan mengikuti kemanapun Romeo pergi.
Keesokan paginya Romeo masih belum bisa memejamkan matanya dan pikirannya dipenuhi bayangan Juliet. Kemudian, Romeo menuju ke geraja St.Peter untuk bertemu dengan pendeta Lawrence. Dia melihat kalau Romeo datang terlalu pagi cepat untuk menjalankan kebaktian agamanya. Romeo menceritakan perasaannya cintanya terhadap Juliet yang merupakan keluarga Capulet. Dia sangat terkejut mendengar cinta mereka yang begitu cepat. Romeo pun meminta agar dia menjadi penghulu karena mereka akan menikah hari itu juga. Akhirnya pendeta Lawrence setuju, dia berpikir bahwa pernikahan tersebut akan mendamaikan keluarga Capulet dan Montague, dia adalah sahabat dari kedua keluarga tersebut.
Romeo bertemu dengan pembawa pesan Juliet dan ia memberitahukan bahwa jika Juliet ingin menikah ia memintanya untuk segera menyusulnya ke gereja, di mana keduanya akan dinikahkan oleh pendeta Lawrence. Akhirnya Juliet menyusul setelah mendengar pesan dari pelayannya dengan hati yang gembira. Mereka dinikahkan oleh pendeta Lawrence, setelah menikah Juliet kembali ke rumahnya dan mereka berjanji untuk bertemu di malam hari di kebun apel.
Pada sore hari yang sama, Benvolio dan Mercutio bertemu dengan Tybalt yang masih menyimpan dendam terhadap Romeo. Mercutio dan Tybalt telah ingin berkelahi walaupun Benvolio berusaha menengahi mereka. Namun, saat itu Romeo datang dan ia menjelaskan kepada Tybalt alasan mereka menghadiri pesta keluarga Capulet. Namun, Tybalt tidak ingin menerima alasan tersebut dan tetap ingin membunuh Romeo. Mercutio yang marah mengajak Tybalt untuk berkelahi namun Mercutio tewas karena dikalahkan oleh Tybalt. Romeo yang marah melihat sahabatnya tewas menantang Tybalt untuk berkelahi, merekapun berkelahi dan Tybalt akhirnya juga tewas. Masyarakat kota Verona termasuk keluarga Capulet dan Montague pun ikut berkerumun. Tak lama kemudia Raja yang mendengar perkelahian tersebut datang dan meminta Benvolio menceritakan kejadiannya dari awal. Akhirnya Raja menghukum Romeo dengan mengusirnya dari kota.
Juliet yang mengetahui kabar tersebut pada awalnya marah terhadap Romeo karena telah membunuh sepupunya namun pada sisi lain dia sangat mencitai Romeo yang telah menjadi suaminya. Ia menangisi suaminya yang harus di usir dari kota Verona.
Romeo berlindung di rumah Lawrence. Ia pun menceritakan tentang hukuman yang harus dijalaninya. Ia merasa hukumannya sangat berat dan ia tidak melihat ada kehidupan diluar kota Verona. Sang pendeta menasehati Romeo namun ia tidak ingin mendengar apapun. Tak lama kemudia datanglah surat dari Juliet yang diantarkan oleh pelayannya. Surat dari juliet itu memberi harapan baginya. Ketika Romeo sedikit tenang, pendeta Lawrence kembali menasehatinya agar menemui Juliet setelah itu segera menuju Mantua, tempat mereka bisa tinggal, hingga tiba waktunya bagi pendeta mengumumkan pernikahan mereka.
Di rumah Capulet terjadi pertemuan antara tuan Capulet dan istrinya bersama Paris untuk membahas rencana pernikahan Juliet dan Capulet. Sedangkan di kamar Juliet bersama Romeo yang mendapat izin masuk melalui kebun apel. Pada malam itu kebahagian dan kesedihan telah bercampur, namun kesedihan kedua pasangan kekasih tersebut lebih mendominasi. Sebelum berpisah dengan Juliet, ia berjanji akan mengirim surat dari Mantua setiap hari.
Tidak lama kemudian, tuan Capulet memberitahu Juliet bahwa ia telah dijodohkan denga Paris. Juliet menolak keinginan ayahnya. Namun, ayahnya tetap ingin Juliet menikah dengan Paris pada hari kamis yang akan datang.
Juliet pergi menemui pendeta Lawrence dan meminta nasihat. Pendeta Lawrence menawarkan sebuah rencana. Ia meminta Juliet menerima permintaan ayahnya. Setelah itu ia akan memberikan ramuan yang dapat membuatnya tidur selama dua malam. Juliet setuju dengan rencana tersebut karena tidak ingin mengkhianati Romeo.
Pada malam sebelum menikah Juliet meminum ramuan dari pendeta Lawrence. Ketika Paris datang menjemput Juliet di pagi harinya ia terkejut melihat Juliet telah kaku. Juliet kemudia dibaringkan di dalam peti dan di bawa ke gereja.
Pembawa pesan kematian Juliet lebih cepat daripada pembawa pesan utusan pendeta. Mengetahu kematian istrinya, Romeo segera pergi ke kota Verona, namun sebelum ke sana dia mampir membeli racun. Romeo tiba di Verona, ketika menuju peti ia bertemu dengan Paris yang datang untuk menebarkan karangan bunga untuk Juliet. Paris dan Romeo terlibat perkelahian dan ia akhirnya tewas di tangan Romeo. Dia menghampiri peti mati kekasihnya, mencium bibirnya, dan akhirnya meminum racun.
Pendeta Lawrence yang datang untuk membangunkan Juliet dan mengetahui bahwa suratnya tidak sampai ke Romeo. Ia kaget melihat ada darah dan pedang di dekat peti mati Juliet, Romeo dan Paris juga terbaring. Juliet bangun dan melihat sang pendeta. Juliet kaget melihat Romeo ada di dekatnya. Mendengar suara yang ribut di luar pendeta meminta segera keluar dari peti, dan sang pendeta segera pergi. Juliet menduga Romeo meminum racun karena melihat tangan Romeo menggenggam secangkir gelas. Juliet mencium Romeo, ia berharap masih ada racun di bibir Romeo. Akhirnya Juliet menusuk dirinya menggunakan pisau meninggal di sisi kekasihnya.
Mereka yang berkerumun terkejut melihat Paris, Romeo, dan Juliet mati berdekatan, hingga akhirnya datang keluarga Capulet dan Montague, juga sang Raja.
Pendeta Lawrence yang telah ditangkap menceritakan kejadian sesungguhnya tentang kisah Romeo dan Juliet. Sang pendeta menikahkan mereka karena ingin melihat keluarga Capulet dan Montague berdamai. Namun, ia tidak tahu kisah selanjutnya, ia hanya mendapati Romeo dan Paris mati saat ingin membangunkan Juliet.
Sang raja meminta Montague dan Capulet merenungkan apa yang telah menimpa anak mereka. Kedua keluarga tersebut sepakat untuk berdamai. Capulet mengulurkan tangannya kepada Montague dan memanggilnya saudara. Montague tidak hanya menerima jabat tangan dari Capulet tetapi juga berjanji akan membuat patung Juliet dari Emas agar masyarakat Verona mengenangnya, begitupun Capulet bejanji membuat patung Romeo. Kematian Romeo dan Juliet mengakhiri perselisihan keluarga Capulet dan Montague.