Setelah semalam Jakarta diguyur hujan, embun tebal menutupi kaca-kaca bus. Hiruk pikuk kendaraan lain tidak terlihat, seperti menyusuri kesunyian dalam kabut. Dalam bus disesaki orang dengan dunianya sendiri. Sesekali pengumuman pemberhentian memecah kesunyian. Setiap orang berangkat sendiri-sendiri namun sebagian besar turun di halte yang sama, halte di perkantoran. Di pintu halte pemberhentian, seorang petugas dengan seragam akan berdiri menyambut, mengingatkan agar memperhatikan langkah saat berpindah dari bus ke halte, di sebelahnya beberapa penumpang sudah bersiap menggantikan posisimu di bus. Langkah yang cepat menyusuri pintu-pintu keluar, selepas itu kamu harus berjinjit menghindari jalanan yang masih tersisa genangan air. Tenda dan gerobak penjual sarapan berjejer di pinggir jalan, menunggu para pekerja yang belum sempat sarapan untuk mampir.
Sepasang earbud melantunkan lirik lagu Kunto Aji, "jangan salahkan barisan panjang di pusat kota kita bergegas mengejar mimpi-mimpi yang sama". Sepanjang perjalanan menuju kantor, saya melihat puluhan orang bergerak menuju tujuannya atau menjalakan aktivitasnya masing-masing. Saat hujan turun dengan deras, pengemudi bus tetap melaju sepanjang jalurnya, dalam bus tetap penuh sesak, petugas tetap berdiri di pintu, sebagian pekerja berdiam diri di halte tujuan menunggu hujan reda, sebagian pekerja bersikeras menerobos mengenakan jas hujan ataupun payung, melipat celana panjang hingga lutut sambil memeluk tas dengan tangan memegang sepatu. Pedagang makanan juga tetap buka walaupun harus berjibaku menghindarkan masakannya terpercik air.
Setiap orang secara sadar melakukan aktivitasnya sebagai makhluk sosial dalam masyarakat, meskipun keterhubungan antarmanusia seringkali tidak tampak di permukaan. Apakah setiap pengorbanan dan usaha yang kita lakukan pada akhirnya ditujukan untuk menjaga harmoni dan tatanan dalam masyarakat atau lahir dari dorongan kasih sayang terhadap sesama manusia? Menurut para ekonom, kasih sayang itu langka, jika kita menggerakkan masyarakat dengan kasih sayang, tidak akan ada lagi yang tersisa bagi kehidupan pribadi kita. Kita mesti mencadangkan kasih sayang dan tidak memboroskannya dengan mubazir. Maka dari itu para ekonom memikirkan apa yang dapat digunakan mengorganisir masyarakat, namun tersedia berlimpah ruah?
Halo! I'm Herdi, the man who is pesseimistic about the sustainability of human life.